Pages

3.23.2014

mari kita krisis identitas.

Postingan ini spontan banget, ya.

Padahal besok UTS Mat dan Penjas. Nanti malem deadline formulir Bina Antar Budaya. 

Terus aku lagi mood nulis di blog. Jadi, ya udah, aku nulis. 

Aku, dan banyak orang lain yang mengaku demikian, bekerja lebih baik di detik-detik terakhir. We work better under pressure. Semakin mendekati deadline, semakin semangat kita belajar, mengetik, menggambar, apapun itu. Waktu adalah rival sekaligus sahabat kita. 

Kemungkinan keduanya, kita hanyalah manusia-manusia penunda yang kesulitan menentukan prioritas. Kalau waktu sudah mengambil alih, ya, gak ada pilihan lain. Begadang, hayu. 

Eniwei, Bina Antar Budaya. 

Kita cuma dikasih jatah seminggu untuk menuntaskan form online untuk mendaftar. Menurutku itu waktu yang terlalu singkat karena... yah, lihat pernyataan di atas. Tapi memang, form itu berlapis-lapis dan kita ditanyain dari segala segi, mulai dari yang basic banget sampe kepribadian, cita-cita, dll dll. Gak salah juga sih kepo seperti itu, karena yang dipertaruhkan adalah nama bangsa Indonesia yang akan diletakkan di pundak manusia-manusia yang punya KTP aja belom, dan dipaket ke negeri asing yang ngomongnya mungkin masih pake bahasa tarzan. 

Lalu kolom-kolom isian seperti ini:


Bohong banget kalo pertanyaan seperti itu tidak membuatmu tercenung berapa jam sampai krisis identitas.

Menurutmu, seperti apakah sifat dan kepribadianmu?

Kalo yang ditanya penampilan sih gampang, karena kelihatan oleh mata biasa, dan objektif: contohnya hidung pesek, terlepas dari hidung itu jelek atau nggak. 

Kalo kelebihan/kekurangan? Sifat dan kepribadian?

Pernah gak sih, kita hidup lalu memutuskan: aku pengen jadi orang yang kayak gini. Tapi belum tentu kita bakal jadi orang seperti yang dimaksud. Mungkin aja, sih. Tapi definisi kepribadian kita nggak terbatas ke 'orang kayak gini', kan? 

Cantumkan saja apa yang dirasakan: baik, peduli pada sesama, netral, senang bergaul, periang, senang belajar, dsb, dsb. Tapi itu nggak akan cukup, toh? Rasanya kayak masih ada yang kurang, kayak, ini bukan gue banget. Mungkin karena itu merupakan opini dari diri kita sendiri mengenai kita, jadinya subjektif. Terlepas dari subjektivitasnya, meskipun semua pohon di dunia dijadiin kertas, nggak akan cukup untuk menulis sifat dan kepribadianmu, semua tentang kamu, apa yang membuat dirimu 'kamu'. Seseorang nggak cuma satu hal aja, atau dua hal aja, we're so much more than that.

Atau, justru kita cuma bisa diem, ngeliatin kursor yang berkedip-kedip di layar putih yang kosong.

Kadang aku merasa kayak gitu. Aku berusaha membaca semuanya, mencari tahu tentang semuanya, dan memandang semua dengan netral. "Ini bisa begini, TAPI..." "Kalo dilihat dari sisi ini bisa, tapi dari sisi lain..." Begitu netralnya, kadang aku ngerasa kayak bukan bagian dari hidup ini. Keseharian. Manusia-manusia yang bergerak statis setiap harinya dan bikin macet. Semua masalah, semua konflik, aku bukan bagian dari mereka. Aku di sini cuma sebagai pengamat. Kadang jadi mediator, menengahi orang, menyumbangkan seratus-dua ratus perak buah pikiran kepada orang lain--itu kalau mereka mendengarkan dan nggak sibuk sama drama mereka sendiri.

Kayak Amélie. Aku baru nonton filmnya beberapa minggu lalu dan aku langsung jatuh cinta. Salah satu film yang meskipun adegannya lagi ga lucu, gak ada angin-gak ada hujan, bisa bikin aku senyum. Amélie itu pemimpi yang tumbuh besar tanpa banyak teman. Punya pacar dan aspek-aspek kehidupan nyata lainnya nggak begitu cocok sama dia, jadi dia menikmati hidup dari hal-hal kecil yang remeh-temeh, mengamati, dan berkhayal. Suatu kejadian membuat dia bertekad pengen memperbaiki hidup orang di sekitar dia. Hidupnya sendiri? Ya, gitu aja. Aku bisa relate banget dengan konsep 'menjadi pengamat sekeliling', meskipun aku gak punya tekad semulia itu untuk ngurusin hidup orang lain yasih.

Tokoh lain adalah Elektra dari Supernova: Petir karya Dee. Dia selalu dibayang-bayangi kakaknya, Wati, dan menganggap dirinya di kursi penonton, menonton sandiwara kehidupan, ketawa-ketawa melihat orang-orang di panggung terkena ombak (dem aku lupa kutipan persisnya). Buku ini adalah perjalanan Elektra dari sekadar penonton menjadi pemeran dalam sandiwara kehidupan.

Kesimpulannya?

Nggak ada kesimpulan, sebenernya. Namanya juga curcol HAHA. Aku hanya berharap bisa membuatmu merenung bersama dan ikutan krisis identitas. Lihat judulnya. 

Dah!~
_________________________
  1. Baru nyadar, dari dulu aku selalu nyebut Matematika 'MTK'. Entahlah, kebiasaan mungkin. Begitu masuk SMA, semua orang di sini nyebutnya 'Mat'. Mat Solar kali. Awalnya aku dengernya ganjil banget. Tapi lama kelamaan aku terbiasa. Hah, gak penting.
  2. Di filmnya, Amélie sempet bilang, secara tidak langsung, dengan analogi dirinya sebagai gadis di lukisan penuh orang banyak yang kelihatannya kesepian, bahwa mungkin gadis itu merasa relate dengan seseorang di luar lukisan itu. Aku gatau, entah kenapa rasanya tersentil sekali setelah menulis post ini. Relasiku dengan karakter fiksi seperti Amelie dan Elektra. Aku gak tahu. This is weird and I should stop.

3.15.2014

[review] supernova: kesatria, putri, dan bintang jatuh

Karena udah kelamaan ngebule di internet dan nulis pake cas-cis-cus, aku memutuskan untuk lebih banyak baca buku bahasa Indonesia. Dengan alasan yang mulia: pengen jadi penulis novel bahasa Indonesia. Eaaak. Pake bahasa Inggris susah diterbitkan soalnya =))

Pilihan pun jatuh pada serial Supernova. Ada empat buku dalam serial ini: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ), Akar, Petir, dan Partikel. Buku pertamanya, KPBJ ternyata nangkring di rak buku Ibu waktu aku iseng ngeliat, dan langsung kucomot tanpa bilang-bilang. 

Kalau dibaca sekilas, keempat novel ini gak kelihatan berhubungan (kecuali endingnya Partikel). Ceritanya mirip-mirip sih, iya. Para tokoh utamanya, manusia-manusia tak biasa yang mengalami kejadian-kejadian tak biasa, atau manusia biasa yang dihadapkan dengan situasi yang luar biasa. Tapi yang menghubungkan mereka adalah Supernova, entitas mahatahu yang bijak dan misterius, yang selalu hadir dan menemukan para tokoh utama yang budiman dengan suratnya yang kriptik. Ia hanya jadi tokoh betulan di buku pertama, sebagai juru selamat yang nongkrongnya di internet. Di buku-buku selanjutnya, dia hanya muncul sedikit-sedikit. Iya dong, biar misterius.

Di antara empat bersaudara ini, KPBJ-lah yang paling beda sendiri. Judulnya lebih panjang (nenek-nenek ompong juga tau) dan nggak cocok disandingkan dengan judul-judul pendek nan elegan seperti 'Partikel'. Ceritanya, sepasang cowok gay yang pengen bikin novel berdasarkan dongeng lama dan segenggam teori-teori sains yang dikemas dalam bentuk chicklit masa kini. Ceritanya tentang cinta segitiga antara seorang direktur muda ganteng dengan wartawan yang sudah bersuami. Plot yang klasik banget, ya kan.

Tapi ternyata nggak begitu. Dee punya kemampuan mengubah yang biasa menjadi nggak biasa. Apa yang awalnya terlihat seperti cerita cinta segitiga biasa berkembang menjadi sesuatu yang kompleks dan nggak terduga. Hal yang sama dilakukan di Perahu Kertas, novel romance biasa yang akhirnya bisa ketebak, sedikit-sedikit, tapi sangat menyenangkan (dan bikin nyesek) untuk dibaca. Aku juga suka stigma-stigma masyarakat yang dilawan dalam novel ini. Biasanya yang gay dianggap hina dan menjijikkan, ya, mereka sama aja kayak pasangan-pasangan lainnya! Malahan Ruben dan Dhimas lebih aktif berdiskusi dan berkarya bersama. Lalu, gak semua PSK itu murahan dan tidak tahu adat. Awalnya kukira Diva, si tokoh PSK dimasukkan demi bumbu drama saja. Ternyata Diva berada di level spiritualitas dan intelektualitas yang jauh lebih tinggi daripada kita. Prinsipnya, lebih baik melacurkan badan daripada melacurkan pikiran dan idealisme, bekerja seperti robot setiap harinya. Dia langsung naik gaji dari tokoh yang saya pandang sebelah mata jadi tokoh favorit. Aku juga tokoh lainnya, Ale, yang sebenernya bukan bagian besar dari cerita, selalu jadi angin segar dengan dialognya yang gak diduga dan kocak padahal situasinya di ujung tanduk.

Dee nggak sembarangan meneliti teori-teori sebagai dasar novelnya, dan itu keren banget. Kadang saya yang baru baca sebentar harus menaruh bukunya dan tiduran sebentar biar gak pusing (ada alasannya kenapa saya masuk jurusan sosial). Justru itu yang menurut saya jadi kelemahannya, kadang teori-teori itu dikeluarkan terlalu banyak dan tidak pada tempatnya sehingga kelihatannya jadi agak diumbar-umbar. Meskipun teorinya keluar dari mulut Ruben, bukan mulut Dee. Ruben kalo ada di dunia nyata bakal jadi temen nonton di bioskop yang nyerocos melulu, sibuk menganalisis semuanya, padahal kita baru nonton film itu, sementara dia udah khatam tiga kali.

Sejauh ini, teori yang berhasil aku ngerti adalah teori order dan chaos. Order dan chaos itu tidak bisa dipisahkan, dalam order pun masih ada chaos. Ada yin, ada yang. Kedua, teori gelombang nonlokal, bahwa semua di dunia ini berhubungan, entah gimana caranya. Seperti jaring laba-laba--analogi yang digunakan Supernova, yang bisa kita lihat di cover cetakan baru. Teori yang kembali mengingatkanku sama Perahu Kertas (yeah maap aku suka banget buku itu soalnya HAHA), ketika ternyata Kugy, Keenan, Remy, dan Luhde saling berhubungan, saling mengenal. Memang artian 'saling berhubungan' yang dimaksud berbeda, tapi aku cuma pengen bilang kalo 'saling berhubungan' sepertinya adalah tema yang disukai Dee.

Lalu, teori bifurkasi alias percabangan. Bifurkasi membuat keadaan yang seimbang jadi chaos-chaos dikit, dan hal ini bisa menghancurkan keadaan atau justru membuat keadaan lebih baik. Tergantung jalan mana yang kita pilih. Pilihan kitalah yang menentukan.

Pilihan.

Menyadari hal itu, rasanya nyesss... banget. Pilihan kita yang menentukan. Menentukan apa? Menentukan apa aja. Segalanya. Bayangin kalau setiap pilihan yang kamu buat di hidup ini diubah. Atau, kamu nggak memilih sama sekali. Semua pasti akan berbeda. Yang membuat manusia berarti adalah pilihannya. Kalau kamu merasa tidak berarti, rendah diri, merasa bahwa dirimu cuma titik absurd yang bisa dihilangkan atau digantikan kapan saja, buku ini sangat kurekomendasikan.

Secara pribadi, aku, yang lebih mencari plot misteri dan fiksi ketimbang filosofi dan sains, kurang begitu suka buku ini. Berat di teori, seperti yang sudah kubilang. Tapi lumayan banget untuk karya pertama Dee sebagai seorang penulis. Tenang, buku-buku selanjutnya bakalan lebih ringan dan mudah dicerna. Buku ini juga penting untuk dibaca bagi sesama pencari jalan cerita. Plot twist-nya buatku cukup menantang, dan endingnya bikin merenung banget. Selain itu, di buku inilah misteri Supernova bermula.

Sudah baca buku ini? Ayo dishare buah pikirannya :D merasa hina ya, mengemis komentar...

3.10.2014

Cie, putih abu-abu...

Soooo yes. Sembilan bulan sudah aku cuti dari ngeblog tanpa tahu malunya. Kayak orang mau lahiran. Padahal kalo dipikir-pikir sih gak ada yang dilahirkan, cuma menghasilkan kemalasan yang makin mendalam dan penyakit-penyakit baru lainnya. 

Sembilan bulan sudah aku menjalani kehidupan SMA. Mungkin gak nyampe sembilan. Kayaknya SMA itu sesuatu yang besar banget sampai-sampai menghentikan kehidupan bloggingku. Iya, memang besar. Kelihatannya nggak, kalau percakapan di bawah ini terjadi di sebuah reuni keluarga:

Tante Kepo: Eeeeh, Dini! Udah lama gak ketemu, kamu kok udah gede aja ya?
Dini: Eheheheh iya, Tante... (yamasa mau kecil melulu sih)
TK: Udah kelas berapa?
D: Sepuluh, Tante.
TK: Sepuluh... itu kelas berapa ya?
D: (plis deh tante) ... satu SMA?
TK: Aduh, cepet banget ya! Tiga tahun lagi lulus, terus kuliah...

SMA tiga tahun, lalu lulus kuliah. Seakan-akan SMA itu cuma salah satu proses formal supaya kita bisa melanjutkan kuliah, lalu kerja jadi dokter, insinyur, akuntan, atau pengacara. Yang penting banyak duit. Coba kalau bisa segampang itu.

Aku baru menjalani 9 dari 36 bulan masa SMA, jadi aku gak tahu banget makna SMA dan semacamnya. Tapi sejauh ini, SMA adalah masa ketika tanggung jawab kita nambah. Karena sekarang SMA-ku naik busway, kalo buku ketinggalan nggak bisa pulang untuk ngambil lagi kayak dulu. Kalo dompet ketinggalan, ngutang sendiri. Kalo tugas telat ngumpulin, samperin sendiri gurunya. Mengatur sendiri duit, waktu belajar, dan tugas-tugas bejibun itu mau gimana dikerjainnya. Guru-guru mah yang penting tahu beres aja.

Yang paling kerasa memang tugas-tugasnya, sih. Jelas, tugasnya lebih banyak dari waktu SMP. Entah kenapa rasanya natural aja, aku sadar kalo SMA memang seharusnya banyak tugas, jadinya keluhanku tentang tugas gak sebanyak itu. Lambat laun juga kerasa, selain kewajiban, kebebasan juga semakin bertambah. Mau jalan sama teman minta izinnya gak seribet dulu lagi, begitu juga kalo mau beli barang-barang dan sejenisnya. Pulang sekolah naik bus, dan bisa mampir-mampir. Yang penting gak berlebihan aja. Intinya, dua-duanya adil lah.

Lebih dari semuanya, buatku masa SMA adalah transisi. Dari aku yang sekarang, entah menuju apa. Manusia memang bakal terus berkembang seumur hidupnya, tapi seringkali aku ngerasa kalau ini saat-saatku. Saat-saat ketika aku menyadari semuanya yang terjadi, mencoba memahaminya, dan belajar sebanyak mungkin. SMA dan kuliah itu masa-masa muda yang harusnya diisi dengan kegiatan bermanfaat (AHAHAHAHAH) dan ketika semuanya bergerak cepat, penuh semangat hidup, sebelum masuk ke masa dewasa yang udah harus bertanggung jawab atas semuanya sendiri. Tapi di SMA, aku masih lebih banyak belajar dan berbuat kesalahan. Dan itu nggak apa-apa. Aku bangun kembali dan berjalan sedikit-sedikit kayak bayi.

Tentang awal-awal SMA-ku sendiri, rasanya kayak mengalami turbulensi yang entah kapan mulainya, dan gak tahu kapan akan berakhir. Dari SMP negeri, aku melanjutkan ke SMA swasta Katolik tempat ibuku dulu bersekolah, yang terkenal disiplin dan pendidikannya bagus. Rasanya aneh, karena temen-temenku yang melanjutkan ke negeri meratapi NEM-ku yang bagus nggak dipake untuk masuk SMA negeri, sementara temen-temen SMA-ku bahkan nggak tahu SMP-ku letaknya di mana. 

Kendalanya banyak juga, mulai dari agama (karena aku beragama Islam), yang untungnya gak begitu besar karena semuanya saling toleransi. Aku juga nganggepnya sebagai tambahan pengetahuan aja, dan juga supaya nggak sombong menganggap agamaku paling benar. Aku belajar kalau semua agama itu jalan yang benar, menuju Tuhan, hanya saja jalannya beda-beda.

Lalu generasi kami adalah generasi pertama yang menggunakan kurikulum 2013, maju sebagai ujung tombak--kalau berhasil diarak-arak, kalau gagal tidak ada yang peduli. Aku nyesek karena sekolahku gak punya jurusan Bahasa, akhirnya aku memilih jurusan Sosial, karena lebih gampang diterapkan ke kehidupan. Lagipula masa depanku dengan IPA udah suram sekali. Jika percakapan dengan Tante Kepo di atas dilanjutkan, akan jadi kayak gini:

Tante Kepo: Jadi kamu sekolah dimana?
Dini: *menyebutkan nama sekolah*
TK: Itu... sekolah Kristen?
D: Katolik, Tante. 
TK: Kenapa sekolah di situ?
D: (SUKA SUKA GUE LAH, KENAPA JADI LO YANG RIBET??) Sekolahnya bagus, Tante....
TK: Oooh. Tahun depan kamu mau masuk jurusan yang mana?
D: Sekarang malah udah penjurusan, Tante. Kan kurikulum 2013.
TK: Oh ya? Jadi kamu masuk jurusan mana?
D: Sosial, Tante.
TK: Kok Sosial? Nilai kamu kan bagus-bagus?
D: (TERUS HUBUNGANNYA APA..........)

Untungnya, SMP dan SMA-ku sama-sama gak membudayakan senioritas yang gila-gilaan, tapi selebihnya memang agak beda. SMP-ku bukan tergolong SMP negeri yang anak-anaknya banyak duit semua, dan anak-anaknya lebih santai dan apa adanya. Di SMA-ku, mayoritas memang anak-anak berada, meski gak semuanya juga. Aku gak pernah melihat sebanyak itu orang-orang yang memakai tas Jansport dan nenteng iPhone kemana-mana.

Untuk pertama kalinya, aku punya lingkaran pergaulan, atau semacam itulah. Temen-temenku punya temen yang punya temen-temen lagi, dan aku otomatis deket sama mereka. Rasanya tiba-tiba nyambung, nggak perlu ada usaha untuk fit in atau semacamnya. Itu keren, kemanapun kita pergi kita bakal menemukan spesies manusia yang sama dengan kita. Dulu kukira aku bakal stuck dengan 5-6 orang yang itu-itu aja dari SMP, tapi sekarang aku bisa punya banyak temen yang baik dan unik-unik, rasanya natural. 

Untuk pertama kalinya juga aku merasa bener-bener kesepian dan nggak connect dengan orang-orang di sekelilingku. Terasing. Itu gak enak banget, beneran. Mempertanyakan apa gunanya melanjutkan, dan apa aku bakal bisa berhasil. Mungkin kadang aku kelihatan kayak nggak mau bersosialisasi, padahal aku cuma ragu. Semua orang di sekelilingku bisa hidup dengan normal, dan kayaknya selalu tahu apa yang harus dilakukan. Aku nggak.

Kalau kamu mengalami hal kayak gini juga, jangan percaya sama siapapun yang menyebut masalahmu normal. Karena mengidentifikasi masalah ini di dalam dirimu aja artinya menyadari bahwa kamu berbeda. Berbeda itu nggak apa-apa. Kamu ga sama dengan orang lain, maka jangan pernah samakan. Semua orang berbeda, maka butuh waktu yang beda untuk beradaptasi dalam tingkat yang berbeda. Everything takes time lah. 

Beginilah posting yang awalnya berniat mengupdate keadaan saya, membahas masa SMA,  menjurus ke arah curcol dan berakhir dengan kalimat-kalimat ala Mario Teguh gini. Jebakan Batman sekali.

Yasudahlah. 


6.28.2013

[review] bumi manusia - pramoedya ananta toer

“Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini".” 
(gatau quotesnya ngingetin aku sama A Series of Unfortunate Events gitu jadinya)

quotesnya aja udah mengundang banget yakan

Sejak hari pertama liburan sekolah, Bapak udah girang banget. "Ayo Dini, kamu harus baca buku-buku Pram, itu keren banget lho. Wah, gimana kalo sebelum masuk SMA kamu udah nyelesain Tetralogi Pulau Buru."

yay books selfie
Terus aku pura-pura ga mau gitu soalnya gengsi HAHA-_- tapi akhirnya aku baca juga daripada kalah sebelum berperang yakan.

Aku baca (tentu sebelumnya aku foto dulu sama bukunya hehehe), terus aku selesai baca. Jrenggg.

Ceritanya berlatar belakang di Indonesia jaman penjajahan Belanda. Si Minke ini, seorang siswa HBS (SMA) pribumi yang misterius banget. Minke bukan nama pribumi, terus ga diceritakan asal-usul dia bisa ngekos dan sekolah dan dianggap nyaris setara sama para Belanda di HBS itu, tentu dia bukan anak sembarangan. Dia juga sangat berpendidikan dan berpikiran luas.

Hidupnya baik-baik aja, sampai temen Belandanya, Robert Suurhof, ngajak dia ke Wonokromo untuk main sama temennya. Sekalian menantang Minke untuk menaklukkan cewek Indo yang cantik, Annelies Mellema, adiknya temen Robert.

yang namanya juga robert. tapi robert mellema. ribet deh. jangan sampe monolog gajelas ini menghalangi kalian dari baca buku ini.

Bagaikan cerita cinta jijay lainnya twilight ohok twilight, Minke dan Annelies pun jatuh cinta. Tapi ga sesederhana itu. Perlahan-lahan Minke menyingkap misteri Nyai Ontosoroh, ibunya Annelies, yang lebih misterius lagi. Katanya dia cuma gundik pribumi yang nggak sekolah, tapi kenapa dia sangat sopan dan terpelajar? Sikapnya sangat Eropa. Justru dia yang memimpin perusahaan majikannya, hal yang gak biasa banget buat wanita pada zaman itu, apalagi wanita pribumi, lebih lagi wanita pribumi yang cuma gundik.

Minke jadi dilema, apakah dia mesti mengikuti anggapan masyarakat yang memandang rendah gundik, atau ikut kata hatinya?

Kejadian demi kejadian pun dilaluinya dan ia kehilangan respek kepada orang Eropa. Katanya mereka berpendidikan dan bijak, jauh melebihi orang Jawa yang ndeso ini, kenapa mereka malah menindas kita dan membiarkan kita hidup dalam ketidakadilan?

Pendapatku, buku ini beda banget sama buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya. Jalan ceritanya ga ketebak banget, sementara bukannya teriak teriak sama bukunya MAU DIBAWA KEMANA HUBUNGAN KITAAA aku malah nurut aja dan baca dengan anteng. Sama sekali ngga kayak genre young adult yang biasa kubaca. Aku ga bisa menilai jalan ceritanya kayak gimana, tapi menurutku itu cukup bagus dan aku suka banget.

Tokoh favoritku Nyai Ontosoroh. Dari kecil hidupnya udah keras banget, dijual sama ayahnnya demi mendapatkan jabatan dan akhirnya dia bisa mempertahankan perusahaan majikannya yang nyaris hancur. Belum lagi menghadapi fitnah dari masyarakat tentang dirinya dan orang-orang yang ngeremehin dia. Kuat, tapi sayangnya penuh dendam. Seumur hidupnya, yang dia tahu hanyalah bertahan dan melawan. Have you ever love a fictional character so much you want to cry




Annelies digambarkan cantik banget, memiliki kecantikan surgawi atau gimana gitu deh pokoknya. Dia juga pinter membantu ibunya mengatur perusahaan. Tapi kebalikan dari ibunya, dia kekanak-kanakan, manja, dan rapuh banget. Hampir mirip Bella Swan. Entah kenapa kok aku sebel banget ya sama Annelies, kayaknya dia cuma digambarkan sebagai 'cantik doang'. Oke dia bisa ngatur perusahaan tapi sifat itu kayak cuma ditambah-tambahin supaya Annelies ga kelihatan lemah-lemah amat.

Mungkin itu memang cuma buat ngebantu plot cerita? Karena Annelies terbayang-bayangi ibunya dari kecil, jadinya dia kayak gitu. Mungkin biar seimbang kali ya kayak yin yang gitu, ada yang kuat dan ada yang lemah. Tapi tetep aja aku sebel-_-

Kisah cinta Annelies dan Minke itu juga kayaknya ya cinta doang. Mereka gak pernah mendiskusikan sesuatu hal yang menarik, apa kek pokoknya. Untuk beberapa orang, itu justru bagus. Cinta Minke dan Annelies itu cinta manusia yang sangat sederhana dan apa adanya. Tapi kok aku justru kurang suka, ya.

Aku juga suka gimana Mas Pram menonjolkan kekurangan dan kelebihan dari kedua pihak. Sisi Jawa memang budayanya kaya, tapi feodalismenya nggak nahan banget. Sisi Barat itu bagaikan gudang ilmu pengetahuan, jauh lebih bebas dan berpikiran luas, juga sangat 'modern'--kata yang pada masa itu sering diusung-usung para orang barat. Tapi ya mereka menjajah kita seenaknya, ga perlu kusebutin lebih jauh lagi kan. Kalo dilihat lagi, jaman dulu itu sisi Indonesia bersifat kedaerahan banget. Jangankan bersatu se-Indonesia, suku Jawa aja masih berkasta-kasta gitu ribet bersatunya.

(edit: sekarang aku lagi baca buku ke2nya, Anak Semua Bangsa, dan di buku ini Minke pun belajar melihat Jawa dengan pandangan yang lebih luas lagi, nggak menutup mata dan mulai berusaha ngebantu mereka. Ripiunya ditunggu yahh hehehehe xD)

Dan ngaku aja kan, kita semua penasaran sama buku ini karena pernah dilarang. Orang yang bikin buku bagus terus dilarang itu keren banget, kayak intellectual badass gitu. Dan setelah aku baca, kayaknya nggak ada unsur komunis gitu di dalam bukunya. Kata Bapak, mungkin karena Om Pram-nya udah dituduh sebagai PKI, ga peduli apa isinya ya dilarang aja.

Mungkin juga buku ini dilarang karena sikap Minke yang terkesan anti Jawa, lebih seneng sama ilmu pengetahuan dan kebebasan gaya Barat, membuat bukunya dicap nggak nasionalis. Aku jadi ikutan sedih sebagai pencinta buku karena buku sebagus ini pernah dilarang. Lebih ke kecewa sih. Terus jadi marah. Kenapa sih buku doang dilarang, padahal kan cuma buku. Kata Bapak lagi, tulisan punya kekuatan untuk menggerakkan orang lain, takutnya nanti orang-orang pada berontak. Yah, paling nggak orang dulu nggak meremehkan kekuatan pikiran. mhehehe =))

Jangan menilai buku dari sampulnya, kata pepatah jaman baheula. Nyai Ontosoroh, meskipun cuma gundik yang gak sekolah, dia sopan, baik, terpelajar, dan punya semangat juang. Om Pram, meskipun dicap sebagai PKI (belum tentu juga dia terlibat di G30S), bukunya keren banget. Kandidat Nobel Sastra booo. Dan buku ini, meskipun sampulnya polos banget dalemnya bagus.

Semoga bermanfaat ^^
awwwwwwwww

*menggelinding keluar*

6.24.2013

cinta dalam kardus [review]

Uyeee aku udah nonton CDK xD hari pertama pula. Salut banget sama bang Radit yang bisa ngerjain 2 film yang keluarnya hampir barengan, barengan juga sama film-film kaya Man of Steel sama Star Trek aku belom nonton star trek hiks ga bisa liat benedict :( sedih

/sesi curhat end/



Kembali ke CDK. Aku nonton sama Vicky dan Celia, sebagai anak kebelet gaul yang kurang kerjaan tentu saja kita nyampe ke PH pagi-pagi pas belum ada orang. Jam setengah 11. Baru buka jam 12.

Film ini mengungkit tema yang udah usang banget saking seringnya kepake di film Indonesia: cinta ababil! Aku agak-agak sinis (sinis apa kelamaan jomblo HA) gitu menghadapi film ini. Paling-paling jadinya kayak Radio Galau FM atau Poconggg gitu kan yang menggalaukan gajelas gitu. Tapi ngeliat trailernya dan castnya (penulis dan sutradara Salman Aristo, ada Lukman Sardi pulaaa), mata hatiku agak terbuka. Ternyata tema cinta-cintaan itu dikemas dengan rapi, kertas kadonya cakep, plus pita dan mawar. Keren!

Ceritanya si Miko pengen mencoba stand up comedy untuk yang pertama kali. Padahal tau sendiri kan Miko itu kaya gimana buat yang udah nonton Malam Minggu Miko (ada gitu yang belum nonton? terlalu._.). Dia ngebawa kardus berisi barang peninggalan dari 21 orang mantan gebetannya, yang awalnya pengen dibuang. Tapi karena pasangan ababil Chacha dan Kipli, juga pengunjung lain yang ngeledekin Miko terus ("paling si Miko juga gak pernah digodain tante-tante di busway kan?" "PERNAH KOK!"), akhirnya kardus itu jadi bahan stand up.

Sepanjang film itu ya si Miko-nya stand up terus. Kasian kali ya dia udah ngomong melulu ga duduk-duduk lagi. Tapi aku ga ngerasa bosen. Karena jokesnya emang lucu-lucu, dan ada flashback ke masa-masa PDKT sama ke21 orang itu dan masing-masing punya cerita kegagalan yang unik. Kayaknya baru pertama kali aku nonton film yang terdiri dari stand up comedy dan flashback dengan timeline yang sangat pendek pula (Inception juga timeline nya pendek sih) (err itumah beda yak).


Aku juga suka kardus-kardus yang menjadi setting flashback itu, kreatif banget dan pasti bikinnya susah. Mirip kayak video klipnya Vidi Aldiano (yang ada Raditya Dikanya jugaaa :D) sama Walk Off The Earth. Mungkin ini baru pernah dipake di film, aku ga tahu, yang penting kardus-kardusnya lucu.

sweater kucing!!!! WHO GAVE YOU THE RIGHT

Scene paling romantis :')


Anizabella Lesmana :) cantik yah

Cewek yang paling aku suka adalah Putri, yang jadi pacarnya Miko pada saat itu. Dia itu keren, kayak tipe yang artsy gitu, jago gambar, kayaknya yang paling baik ("aku sayang sama kamu put!" "aku lebih sayang sama kamu." AWWW), dan wardrobenya keren banget uuuuu bajunya luculucu semua!! *robek layar bioskop* *kabur*

Penampilan Rian dan Mas Anca lumayan mengobati kangenku sama M3, apalagi scene terakhir yang pas Rian bawa kucing lucu bangetttt. Kocak seperti biasa, tapi Mas Ancanya OOC banget sumpah. Tapi menurutku terlalu sedikit, padahal aku pengen liat Rian dan Mas Anca lagi.

TERUS ADA ENDAH N RHESA JUGA ALDFKSLFJKSLFJ pengen teriak we want more di teaternya tapi takut digebukin gitu

Yang aku ga suka, mantan-mantannya Miko karakternya agak satu dimensi. Kayaknya cewek-cewek itu banyak maunya dan menindas melulu kerjaannya. Iya Miko-nya seringkali salah, tapi sepertinya kesalahan Miko itu antara manusiawi dan bego. Atau mungkin sifat karakter mantan gebetannya Miko itu memang sengaja buat lucu-lucuan. Nggak jauh-jauh sama materi komedinya Radit yang berkali-kali membahas cewek, kayak logika cewek yang minta diturunin tapi giliran diturunin beneran malah marah.

Overall, I had a good laugh throughout the film. Miko pun menyadari arti cinta dan apa yang harus dia lakukan buat memperbaiki hubungannya dengan Putri. Aku juga mewek pas sebelum terakhirnya ituuu nyesek banget :''''( meskipun akhirnya agak terlalu cepet dan happy ending banget menurutku. Aku agak mengharapkan plot twist Miko sama Rian akhirnya jadi gay terus jadi koboi berpetualang ke Amerika gitu

.... salah film deh. dan kalo ada film kaya gitu di Indonesia pasti udah didemo duluan mhuahaha

Kesimpulannya: aku tetep fansnya bang radit u,u Kalo Abang baca ini sekarang, ketahuilah kalo aku langsung lari ke TV kalau ada iklan Mi Sedap Cup. Kambing Jantan itu buku pertama yang bisa bikin aku ketawa histeris sampe gaada setan yang mau ngerasukin =))) sukses terus dan ditunggu karya selanjutnya!

ailopyu bang tapi aku gak mau malam minggu miko s2 kalo gaada Rian... 

Sekian ^^ aku mau menikmati libur panjang yang sisa sebulan lagi, masih belum kenyang libur sebulan setengah sih yaa mau gimana lagi~

*dikeroyok massa*

(Sumber gambar: mbah google)
postingan pindahan dari sini

3.10.2013

lagi hyper, bukan laper.

While I'm writing this, I'm in the Counselling class where my counselor showed us the new high school curriculum. Only 30% of Jakarta high schools will use it, but according to it, we'll choose our major in the first year which is so exciting!! I want to choose Language because duh. And I can't wait to study Anthropology!!

While my friends are worrying their asses out about the high school passing grades, I was pretty much calmer. Because I'm already accepted in a high school and I can't wait until the new schoolyear starts!! I'm dead curious of my new school and the students. I've stayed in public school for a long time I could predict every situation and everyone's movement. It's time to move to a new social laboratory, where I'll be the minority versus the whole school (no, it doesn't have to be like that). I can't wait to observe the situation and everyone. I hope there will be a Language major. I'm DYING to find out would my high school experience be as fun as my mom's tales?

I'm also looking forward to The Summer Break of Eternity. Two months baby!!!! There are TONS of things to do and books to buy, I don't even care if it'll feel like a heartbeat at least I'd have a good time.

Er are we missing something? The exams of course. Yes I hope with the possitive energy flying around me I'll keep my head in the game and ace all the exams with flying colors. WE CAN KICK THIS EXAM'S ASS HARD!!!! There's no time to be tired, there's no time to melancholize THAT guy (is it really necessary for me to write it down here DO I REALLY HAVE TO). I have to fight for this, and it will be a strong motivation to get higher results than that smartass. Aaaah I'm really excited I don't know why but I feel like facing the Wizarding World War II or The Battle of Narnia and even though those two doesn't really connect with exams but I have a feeling this is gonna be epic!!!!!!!!

Sorry for abusing the exclamation points and all the hypeness, and not posting any quality posts lately but don't you see I'm very busy right now??? You guys should pray for me, okay? Wish me some huge Felix Felicis shot of luck for me, my exams, and my life. Fun fact: these low-quality posts are copied straight from my diary entry, and I think YOU'RE the one who should thank me for embarassing myself. Someday I'll read this entry again and will think I was drunk of too much chocolate milk. 

Um, bye.

10.25.2012

At least, I get to be one in my stories.

I don't know why I am writing this because I don't want to.

But anyway.

Aku menulis kembali. Ada calon naskah novel lama yang waktu itu kedelete karena flashdisk-ku error. Ide itu mengetuk pintu kamarku malam-malam seperti hantu dari masa lalu terus dia berbisik di telingaku "LET ME IN DINI LET ME IN". So I did. Dan aku membuat karakter baru dari awal lagi, setting baru, dan semuanya baru kecuali ceritanya, pada dasarnya. Dan sekarang aku punya writing source baru.

Ini dan ini. Aku suka Write World sama Yeah Write, jadi setiap hari mereka ngepost prompt. Kalau dari Write World bisa dari bentuk gambar, lagu, atau kalimat, sementara Yeah Write kalogasalah sih cuma gambar doang. Kita harus ngebikin karya--bisa puisi atau cerpen, sesuai dengan prompt yang dikasih itu. Karena aku bingung mau ngapain, aku main ke Write World, terus aku nemu prompt gambar gurun pasir. Nasib prompt itu apes bener terakhirnya jadi puisi galau.

The thing is, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu (atau berbulan-bulan?) aku ngerasa hidup. Beberapa minggu (ATAU BULAN??) terakhir ini aku ngerasa jadi zombie (atau walker, menurut kamus Walking Dead. Aku dipaksa Vira nonton Walking Dead, waktu itu dia udah mencekokiku dengan season pertama, dan akhirnya aku ngelanjutin nonton season 2 di Sidereel. Nyesek banget euy) banget.

Kayaknya hidup itu cuma sebuah never ending cycle. Bangun, ke sekolah, pulang, main Tumblr, ngerjain PR, tidur, dan cycle itu pun terulang lagi. Setiap hari Senin aku terbangun dan bilang "wah udah hari Senin lagi ya." Lalu aku cuma melakukan cycle itu sampai hari Sabtu lagi. Itu kenapa aku selalu mengeluh kalo hari Senin seakan-akan aku kambing yang mau dikurban. Aku ga mau terus menerus menyia-nyiakan hidupku dengan tenggelam dalam rutinitas yang membunuh kita perlahan itu. Aku serasa ga punya tujuan hidup. Mungkin dari luar aku tampak normal (nggak senormal itu juga sih) tapi di dalam diriku ada sesuatu yang pecah berkeping-keping (as cliche as it sounds). Hampa. Aku merasakannya. 

Setelah lama vakum menulis kecuali nulis jurnal dan coretan-coretan gaje serta never ending rants di notebook My Melody-ku yang beli di Indomaret yang udah mau penuh itu, akhirnya aku menulis lagi. Menulis selalu membuatku tersenyum, dan baru sekarang aku bener-bener menghargai perlindungan yang ditawarkan oleh dunia menulis. Rasanya aman kalau berada di dalam duniaku sendiri. Paling nggak aku tahu kalau setiap detik yang kuhabiskan di duniaku nggak bakal sia-sia. Paling nggak aku masih punya masa depan selama aku menikmati menulis

Oke ini apadeh sok-sok mellow kaya gini.

Dan kali ini aku bener-bener menciptakan karakternya dari awal, thanks to Writeworld. Seru banget menciptakan karakter itu, kayak lagi main The Sims. Bedanya, aku merasakan koneksi yang lebih dalam dengan karakterku. Serasa kayak merawat anak. Atau menjadi Tuhan yang merencanakan jalan hidup umat-umat-Nya? Karena aku selalu penasaran gimana rasanya menjadi Tuhan.

10.21.2012

Perahu Kertas! :D



Hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.

Aku baru pulang nonton Perahu Kertas 2 sama Ibu. Yaaa dan seperti pas nonton Perahu Kertas 1, aku keluar teater masih dengan bergelimang air mata. 

Filmnya mengharukan banget. Dan emosional juga sih. Meskipun kedua film sebenernya adalah satu kesatuan, menurutku yang film pertama lebih ringan dan remaja banget, karena masih masa-masa senengnya. Ada sedikit haru juga, tapi rasa sakitnya belum nyess banget. Sementara di film kedua, saya yang nonton aja nyesek gimana tokoh-tokoh benerannya ya? Di film kedua jugalah alurnya berubah jadi ribet. Aku kagum banget sama Kak Dee bisa kepikiran cinta bersegi-segi yang malang melintang kaya gitu. 

Tapi mungkin aku lebih suka film pertama karena waktu itu aku belum baca bukunya. Aku selesai baca bukunya sehari sebelum UTS, dan waktu UTS sukses kebayang-bayang. Kalo belum baca bukunya rasanya kita bisa menilai dengan lebih adil filmnya bagus apa nggak, karena nggak terbebani oleh harapan dari bukunya. Film kedua juga bagus sebenernyaaa yah. Tapi entah kenapa aku merasa agak lebay gitu awal-awalnya. Atau mungkin cuma perasaanku.

Yang sayang banget, kayaknya tokoh Luhde ga dikembangin terlalu luas. Di bukunya, Luhde itu lebih dari cewek Bali kalem yang penurut dan manis. Dia itu pinter, kuat, dan bijak banget, meskipun ngarahnya ke sok tahu kadang-kadang. Dan dia ga begitu pendiam. 

Ada beberapa karakter OOC juga sih di filmnya (Noni, terus kadang-kadang Kugy juga gitu meski ngga selalu), tapi yang penting menurutku filmnya udah cukup menggambarkan keseluruhan isi bukunya. Dan aku juga suka musiknya itu begitu mendukung suasana scene, malah kadang scene-nya nggak begitu menggalaukan, tapi aku nangis aja denger lagunya. 

Tapi yang paling bagus dari semuanya adalah bukunya. Aku suka banget, baca buku itu seperti baca diary orang lain--begitu nyata, bisa aja semua kejadian yang terjadi di buku itu pernah terjadi sama orang lain. Seperti The Fault In Our Stars, karakter-karakternya nggak sempurna, tapi cukup manusiawi. Ceritanya mengalir banget sehingga ngebacanya enak. Dan yang terakhir jokesnya beneran lucu, nggak garing sama sekali. Itu sambil baca bukunya aku ngakak bangetbangetan deh xD

Tentu saja aku jatuh cinta sama tokoh Kugy. Pertamaaa dia suka nulis! Itu udah cukup bikin aku ngerasa relate banget dan tambah sering nulis, meskipun cuma iseng-iseng gaje aja. Siapa tahu bisa kayak Kugy dapet pacar seniman gitu maksudnya, tapi kalo dapet Adipati pun ga akan ditolak. Dan imajinasi Kugy yang bikin dunia yang biasa-biasa aja ini menjadi ajaib. Dan gaya Kugy yang serampangan dan biasa aja, tapi nggak mengurangi keunikan dirinya sama sekali.

Pokoknya udah nonton atau belum, nggak ada alasan untuk baca buku ini. Dee is a genius. Kalo kalian bilang lebih suka nonton film karena males baca bukunya, rugi ajah.

10.06.2012

suffering the Post The Fault In Our Stars depression syndrome.

Jadi semalem aku menyelesaikan The Fault In Our Stars dan nonton episode Glee yang break up.
NOT GOOD AT ALL.
I was so sad I even forget to cry or curl up in a fetal position.
Well, I did sob. A little.
Pertama-tama, TFIOS.

I just don’t know what to say. It’s a beautiful story.
Aku ga tau gimana mau memulainya. Kurasa kalau cuma kubilang “Hazel Grace Lancaster itu cewek 16 tahun yang kena kanker thyroid terus dia ketemu Augustus Waters di Cancer Support Club, terus mereka temenan dan saling meminjam buku terus bla bla bla” kedengerannya dangkal banget. Aku membuat buku yang luar biasa kedengeran biasa, dan it’s a disgrace to John Green I think.

Judulnya sendiri terinspirasi oleh Julius Caesar-nya Shakespeare: The fault, dear Brutus, is not in our stars, / But ourselves, that we are underlings.
Aku suka banget sama tokoh-tokohnya. Semuanya cerdas, karismatik, dan lovable banget. Astagaaa aku suka banget Hazel dan Augustus itu keren. Semua komentar yang mereka lemparkan itu begitu menggelitik dan menarik kayaknya lafkjslfslfj.
Meskipun Hazel cerdas dan doyan membaca serta bahasanya berat banget, dia terobsesi sama America’s Next Top Model parah banget. Dan Augustus suka merokok, tapi rokoknya nggak dia nyalakan. It’s a metaphor, see: You put the killing thing right between your teeth, but you don’t give it the power to do its killing.
Tokoh-tokohnya tuh bener-bener nyata, sekeren apapun mereka. Kayak misalnya Hazel dan Augustus saling berkomunikasi dengan bahasa yang nggak mungkin kita denger dari mulut remaja pada umumnya dengan cara pikir unik dan dilimpahi metafora dan quotes-quotes yang keren (iya aku ga punya kata-kata lain sepertinya), mereka tetep punya kelemahan, selain penyakit mereka. Nggak begitu sempurna, tapi cukup sempurna untuk menjadi manusia. Aku bisa aja percaya kalau ada orang persis kayak Hazel yang hidup dan bernafas dan saat ini lagi jalan dimanapun di bumi ini. 
Di buku ini, penderita kanker nggak dideskripsikan sebagai orang yang ‘menempuh perang dan berjuang’ apalah apalah gitu. Mereka itu sama kayak orang biasa, seperti kita, cuma mereka punya kanker dan lebih banyak merasakan sakit. Yang kupikir semua anak yang terkena kanker juga merasa kayak gitu, mungkin.
Tapi buku ini bukan kisah perjuangan anak penderita kanker biasa. Bukan kisah cinta dua penderita kanker gitu (I made that sounded so disgusting). This is a story about love and lost, life and death. Manusia. Rasa gembira, rasa sakit. Pokoknya emosional banget lah. Kalau kamu nggak nangis baca ini, pasti bohong and I’d hate you. Dan kamu pasti ga ngerti apa yang aku racaukan dari tadi kalau nggak baca buku ini. Jadi iqra lah.
Semoga TFIOS bisa dijadiin film. Karena aku udah bisa menggambarkannya jelas banget di kepalaku, dan kebanyakan orang pasti males baca buku (apalagi belum ada terjemahannya) jadi kalau dijadiin film mungkin golongan yang tadinya nggak tersentuh jadi ngerasa tertarik. Sama kayak The Perks of Being A Wallflower. Emma Watson + Logan Lerman in the same movie = LAFJALKFJALSDKFJSLKF. 
Oke aku belum baca Perks sih, tapi mau baca! Abis UTS aja kaliya.
Dan yang kedua, Glee.
Jadi episode yang terbaru, Season 4 Episode 4 judulnya Break Up. Yang episode 1 bahkan belum keluar di Indo. Hahaha. The joy of watching free series.
Mungkin ada yang gamau nonton bajakan, atau linknya ga connect, atau kalian emang gasuka Glee. Yaudah aku nggak bocorin.
Udah ketauan kan dari judulnya aja episodenya kayak gimana. Errrrrr.
Jadi aku nangis dan fangirling semaleman sama Nabila. The feelings.
Dan ada covernya The Scientist sama Mineeeeelakfjafjksldf!! Keduanya bikin aku nangis. Dan aku begitu menangisi keadaan waktu lagu Mine diputer sampai aku gasempet fangirling sama Mine-nya. Oh well. 
Tapi udah lama aku ga beremosional dan berlebay-lebayan, it’s glad to have those feelings back :)
And sorry for me being a shitty writer, I’m still utterly depressed with my fangirl feelings. As Augustus Waters put it: My thoughts are stars that I can’t fathom into constellations.
(PS: I’m still a good person. Shoutout to whoever understands that joke.)
(PSS: Sekarang jam 12:40 siang dan aku belum mandi. Gatau pengen aja ngomong gitu.)
(PSSS: Minggu depan UTS dan aku malah ngeratapin TFIOS. Gak lucu. Anyway, doain yaaaa.)

9.20.2012

Iiiimajinasiii.



Pagi itu hari sekolah biasa. Aku udah berapa menit dateng, ngobrol-ngobrol bentar, terus duduk gak jelas di tempat dudukku yang paling belakang. Kemudian temen sebangkuku nongol terus duduk di sebelahku.

"Din, tadi kan waktu naik ojek ke sini aku berimajinasi dulu," katanya begitu.

"Berimajinasi gimana?"

Terus dia mulai mendongeng. Tapi karena aku nggak tahu apa-apa soal jejepangan dan punya daya ingat pendek (bahasa keren untuk pikun), jadi versi pendeknya:

"Jadi ceritanya aku sekolah di Jepang. Terus aku mau perkenalan. Ada bahasa Jepang perkenalan buat cewek sama cowok, tapi aku ga sengaja pake bahasa Jepang yang cowok. Terus satu kelas diem ngeliatin aku semua. Terus aku mau jalan ke tempat dudukku, tapi kesandung bangku."

"Waktu istirahat, aku mau pergi ke kantin. Dan semua orang ngeliatin aku! Ternyata aku udah terkenal sebagai orang aneh disana. Akhirnya aku makan di atap aja, tempat perlindungan paling aman. Din, lima belas menit aja aku udah bisa bikin jalan cerita sampe segitu."

Aku cuma bisa ngakak. Karena kemungkinan terbesar itu yang bakal terjadi kalau dia sekolah di Jepang.

Temenku itu emang pribadi yang unik. Dia terobsesi banget sama anime dan manga, dan hal-hal Jepang lainnya. Kalo dari luar sih mungkin emang kelihatannya dia "aneh", karena suka fangirling sendiri tiba-tiba, tapi jangan ketipu karena dibalik dirinya yang aneh, cara pikirnya beda dari yang lain. Selalu kritis dan bisa berpikir dalam. Kadang-kadang kita lagi ngobrolin apa, dan spontan dia ngomong sesuatu yang quotable banget. Misalnya, "Setiap manusia itu pintar. Tapi setiap manusia juga bodoh. Tergantung mana yang mau diperbesar, bodohnya atau pintarnya."

Tapi imajinasi itu bikin aku jadi mikir. Karena udah lama aku nggak berimajinasi lagi, kecuali berimajinasi tentang hal-hal gaje dan memalukan yang pastinya ga bakal aku tulis disini. 

Dulu aku sering banget berimajinasi. Kemaren waktu aku pindah kamar, aku beres-beres buku tulis-buku tulis gaje yang berantakan, terus aku baca dan ternyata banyak cerpen-cerpen gak jelas yang aku bikin waktu aku masih kecil. Cerpen-cerpen itu lumayan keren sih. Sebenernya gak jauh beda sama kumpulan cerpen di KKPK, makanya aku pikir kenapa dulu ga pernah diterbitin, ya? Aku ngelanjutin baca, dan ternyata dari semua cerpen itu belum ada yang selesai sama sekali. Huahaha. Ternyata aku udah procrastinator dari dulu ya.

Karena imajinasi itulah yang bikin kita tetap hidup, tetap bernafas, dan terhibur. Mungkin dunia ini ngebosenin, mungkin kita capek hidup di rutinitas yang gitu-gitu doang. Sedikit plot twist di hari-hari kita bisa aja membuatnya jadi lebih ajaib.

Tapi akhir-akhir ini aku jadi jarang berimajinasi. Kenapa ya? Mungkin karena kurikulum sekolah membatasi kita untuk jadi bebas. Mungkin karena aku bersekolah setiap hari, aku jadi terbiasa berpikir kaku seperti apa yang dibiasakan oleh sekolah umum. Aku kurang suka sama kurikulum sekolah yang sekarang, yang lebih mementingkan nilai dan pencitraan sekolah daripada apakah cara mendidiknya udah bener atau belum. Well, itu cuma pandanganku doang, atau mungkin cuma sekolahku doang yang gitu haha. Meskipun sekolahku sebenernya bagus dan aku mestinya bersyukur.

Daaan btw! Aku kangen banget nulis disini. Karena mungkin aku sibuk sekolah dan melakukan hal-hal gaje lainnya, dan aku nulis blog tergantung mood-moodan dan inspirasi. Dan siapa juga yang nungguin aku nulis blog, perasaan blog aku sepi-sepi aja :) tapi gapapalah. 

Ohiya hari ini pilkada Jakarta ya? Selamat mencoblos, kawan-kawan! Semoga ga salah pilih yaa. Semoga Jakarta bisa lebih baik dari hari ini, semoga Jakarta ga macet lagi, semoga gubernur yang baru bisa mengurangi kemiskinan di Jakarta amiin. :D

9.02.2012

Celoteh si Jingga - Review!

Beberapa minggu yang lalu, waktu masih libur puasa, time turner mana time turner Om Rico ngedatengin aku terus bilang "Din, baca deh bukunya bagus." Om Rico nyodorin sebuah buku ke aku. Aku oh-oh aja karena masih ribet sama lontongnya, tapi lama-lama aku penasaran juga.

Celoteh si Jingga oleh Ivy Londa. notice my new room though.

Buku ini isinya curcolan kak Ivy Londa, tapi curcolnya produktif. Disini dia menceritakan kepeduliannya tentang masyarakat dan lingkungan, perjalanan mencari Tuhan jadi figuran di PPT yaa? hal-hal tentang keluarga yang aku ga pernah perhatiin, dan tentang mimpi dan idealisme. Beberapa emang lumayan pribadi, tapi tetep menginspirasi.

Buku ini banyak ngebahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang ga kejawab di kepalaku. Tentang nasib negara ini. Tentang orang-orang di sekitar kita. Tentang perasaan dan hidup yang emang sepele, tapi bikin penasaran terus-terusan. Setelah ngebaca buku ini, pertanyaan-pertanyaan itu masih nggak kejawab. Mungkin kita bakal menemukan diri kita tiduran di kasur, menatap langit-langit kamar, berusaha mencerna isi buku tadi.

Ada beberapa buku yang begitu halaman terakhir ditutup, ceritanya selesai. Kita cuma bisa mikir "wah seru banget ceritanya" atau mungkin malah "anjir buku apaan tuh. untung buku pinjeman." (pengalaman pribadi). Tapi gak dengan buku ini. Setelah selesai ngebaca, aku masih sedikit ga ngerti dan berusaha mendiskusikan isi buku itu di kepalaku. Tapi itu cuma menimbulkan pertanyaan baru, yang masing-masing akan menimbulkan pertanyaan baru, yang akan terus beranak pinak kayak kucing tetangga. Yang penting buku ini ngebikin kita berpikir dan menjadi kreatif. Begitu paham, aku ngerasa terinspirasi banget. Kaya brainfreeze gitu. Tiba-tiba wuzzz ada sesuatu yang nyerang otakku terus aku ngerasa pengen nulis, pengen melakukan sesuatu untuk bangsa, pengen lari-lari di lapangan, pengen nyanyi di kamar mandi, atau nulis racauan nggak jelas ini.

Ada bagian-bagian dimana aku ngerasa jleb juga sih. Kadang-kadang aku ngerasa berbeda sama temen-temen sekelasku. Pernah lain waktu lagi, aku ngerasa capek dan bosen menghidupi rutinitas yang sama terus-menerus. Atau karena harus selalu memakai topeng, yang cuma sesekali bisa dibuka di hadapan temen-temenku yang sebenarnya karena kebanyakan orang nggak bisa menerimaku ketika mereka menatap wajahku yang sebenarnya.

Bisa nggak sih ada sesuatu yang heboh sesekali di hidupku? Lalu aku berhenti berharap sebelum keinginanku jadi nyata. Pertama, karena aku inget di film Tokyo Magnitude, si tokoh utama juga berharap kayak gitu, detik kemudian Tokyo langsung diguncang gempa. Kedua, karena ngebaca bab Kromatik, yang bikin aku pengen ketawa sendiri entah kenapa, "Hahaha, ini gue banget!"

Hidup bukan tentang membuat matahari terbit di barat, tapi ini tentang menceritakan sebuah keajaiban pada matahari yang terbit dari timur. Bukan memaksa matahari untuk merangkak terbalik, tetapi bagaimana kau menceritakan tentang kisah mentari yang terbit dari timur dengan caramu sendiri, sehingga orang-orang berhenti dan mendengarkan kisahmu.

Kayak Kak Dea dan Salamatahari yang pernah aku tulis disini (kecuali Kak Dea tulisannya lebih imajinatif dan ceria, Coretan si Jingga lebih filosofis), semuanya balik lagi ke hal-hal kecil yang sering kali nggak kelihatan sama mata kita. Melihat aja ga cukup sebenarnya, kita harus bener-bener merhatiin sampe otak kita dipenuhi suara "KENAPA? KENAPA? KENAPA?" yang berulang-ulang kaya alarm rusak. Terus kita bakal jadi resah dan menulis untuk menyelidikinya. Atau cuma sekadar pengen cerita doang.

Tapi kayaknya aku masih belom punya mata yang memerhatikan sekeliling, atau otak yang cukup aktif untuk terus-terusan bertanya kenapa. Ngejaga barang-barang sendiri aja masih susah. Botol minumku yang Rubbermaid hilaaaaang. Buku Luna-ku juga. Mukenaku juga, tapi udah ketemu lagi di lemari sapu kelas. Oke malah curcol.

Yang aku kagum dari Kak Ivy/Jingga, karena kakak itu berani. Berani karena benar. Ikut berdemo Aksi untuk Iklim di HI. Keluar dari SMA karena nggak mau menghafalkan kalimat-kalimat yang cuma gitu doang--bukan belajar beneran. Berani menyuarakan pendapatnya di antara temen-temennya, meski artinya berbeda sendiri. Berani mengemukakan pendapatnya. Dan berani bermimpi! Dan semoga mimpinya bisa terwujud.

Dadah :D

HA MIN EMPAT KAWAN KAWAN INGAT HA MIN EMPAT

7.17.2012

Review: The Illustrated Mum. and the society.

Beberapa minggu lalu aku dikasih tumpukan buku-buku Jacqueline Wilson dan Lizzie McGuire dari Kak Sekar. Kenapa? Karena udah ga dibaca lagi. Yaampun. Kebetulan banget aku lagi butuh buku bacaan.

MAKASIH KAK SEKAR <3


Aku baru baca beberapa buku tapiiii aku paling suka The Illustrated Mum.


"OK, so I'm a freak," said Marigold shakily. "I don't care. I don't have to conform to your narrow view of society, Star. I've always lived my life on the ouside edge."

Dolphin dan Star punya ibu yang unik banget, namanya Marigold. Rambutnya merah menyala, badannya dipenuhi tato yang banyak banget, dan imajinasinya hebat. Dia bisa membuat apapun jadi nyata. Dia nggak pernah peduli dengan pandangan masyarakat dan selalu berusaha jadi beda. Tapi dia ngga selalu jadi ibu yang hebat sih. Kadang-kadang Marigold ngehabisin duit bulanannya dalam sehari buat beli barang-barang gapenting, dan beberapa hari kemudian mereka jadi susah uang banget. TV dan telepon mereka sampe disita karena berbulan-bulan ga bayar tagihan. Kadang-kadang dia ngilang seharian dan muncul lagi dalam keadaan mabok. Tapi Dolphin seneng banget sama ibunya, kadang dia ngga peduli kalo dia ga punya ayah.

Terus hal-hal berubah, karena bapaknya Star sama sekali ga tau kalau dia punya anak, tiba-tiba muncul, dan ngebawa Star pergi. Marigold jadi depresi, sementara Dolphin bingung karena masalahnya banyak banget. Bisa nggak sih semuanya kembali kayak dulu?

Aku baru pernah baca buku Jacqueline Wilson sekali, yang Double Act. Ceritanya bagus sih. Dulu kukira buku-buku Jacqueline Wilson... yaa gitu-gitu aja. Tapi aku iseng baca buku yang ini dan ternyata nggak.

Buku-bukunya Jacqueline Wilson sering mengangkat tema perceraian, kematian, dan anak-anak panti asuhan. Dan ajaibnya dia bisa mengangkat tema-tema yang berat dan sangat dewasa itu jadi gampang dimengerti anak-anak. Tapi emang sih buku yang ini agak-agak lebih 'gelap' daripada buku yang lain, dan jauh lebih rumit. Kira-kira buat umur 11+ deh.

Yang aku suka dari buku ini, buku ini nyeritain tentang masyarakat kejam yang penuh penilaian. Cuma gara-gara Marigold bertato banyak dan berkelakuan nggak kayak orang biasa, dia selalu dianggap negatif oleh orang lain. Star yang berubah jadi normal hanya supaya dia disukai orang lain dan punya temen. Dolphin yang dibully sama temen-temennya cuma karena cara berpakaian dan ngomongnya nggak sama dengan anak-anak yang lain. Kadang-kadang kita pengen jadi apa adanya dan ngomong dengan gampang sama dunia dan masyarakat "ini loh diri gue". Tapi ga segampang itu, kadang-kadang mungkin lo akan dibalas dengan tatapan mencela dari mereka. I told you, society sucks. 

"Society sucks. It’s a damned if you do, damned if you don’t kind of situation. I’m not allowed to be fat, but I’m not allowed to go on a diet either (or keep a food diary, for that matter). I’m not allowed to be dumb, but I’m not allowed to be smarter than a boy. I’m not allowed to do drugs or drink, but I’m considered boring if I don’t. I’m supposed to be an empowered woman, but if I ask for respect dudes will just call me an annoying bitch. Heck, if I wait to have sex I’m labeled a prude, but if I lost my virginity today there would be a lot of people thinking that slut." - THIS article by Lexi Harder.

Aku suka banget karakter Marigold yang kompleks. Dia pengen beda dari masyarakat yang lain, ya itu bagus dan unik. Tapi lalu masa kecilnya kurang bahagia dan itu mempengaruhi dia yang setelah dewasa jadi manic depressive, dan lari ke gaya hidup nggak sehat lalu dia jadi bipolar dan suka mabok-mabokan dan akhirnya hamil di luar nikah dua kali. Sinetron banget iya kan. Tapi dia sayang banget sama Star dan Dolphin, dia bisa ngebikin cerita apapun yang dia ceritain jadi nyata, dan kalo mereka minta apapun pasti dibeliin, jadi dia ga bisa dibilang antagonis juga. Tapi kalo lagi depresi banget dia bisa menelantarkan anaknya. Sinetron banget gasih. Tapi menarik. Dan mungkin itu kenapa banyak orang yang suka sinetron. Tapi sesinetron-sinetronnya Marigold ga senorak Cinta Fitri juga kali yaaa.

Terakhir, sudut pandangnya orang pertama dari cewek kelas 3 atau 4 SD (entahlah aku terlalu males baca lagi) yang masih polos. Di matanya, Marigold-lah yang terbaik. Aku ngebayanginnya Marigold lagi berdiri dengan pose 'menatap ke masa depan' dengan mata berbinar-binar dan rambut ketiup angin. Dengan Marigold yang keren sebagai idolanya, dia jadi berbeda dan keren dan seterusnya, paling ngga menurutku dia keren. Tapi dia dibully sama anak-anak di sekolahnya. Anak yang berbeda selalu dibully. Aku sedih ngebacanya. Ya, maksudku kenapa mereka harus sejahat itu, sih? Iya sih mereka masih anak-anak dan mereka nggak ngerti apa yang mereka lakukan, waktu udah gede mereka bakal ngeliat kembali ke masa kecilnya dan merasa diri mereka jahat banget. Artinya sejak kecil pandangan mereka udah dibentuk sama masyarakat bahwa "baju yang bener itu begini" "kalau dia ga pake baju model kaya gini artinya dia aneh" "orang yang pake kacamata itu aneh dan kutu buku". Dan seterusnya. Menurutku itu menyedihkan banget.

Kalau aku punya anak aku ngga mau pandangan anakku terbatas sama pandangan yang diseragamkan oleh masyarakat. Tapi aku juga ga mau jadi ibu yang bikin anaknya punya mkkb dan ujung-ujungnya jadi manic depressive kaya Marigold.

7.16.2012

You know what’s sad about reading books? It’s that you fall in love with the characters. They grow on you. And as you read, you start to feel what they feel - all of them - you become them. And when you’re done, you’re never the same. Sure you’re still you, you look the same, talk in the same manner, but something in you has changed. Something in the way you think, the way you choose, sometimes, even the things you say may differ. But it all comes down to the state you go to after a nice novel. The after-feeling. It’s amazing, but somehow, you feel left alone by that world you were once in. It’s overwhelming. But it makes you sad. Cause for once you were this, this otherworldly being in… Neverwhere, and then you suddenly have to say goodbye after a few weeks from when you read the last page. When you’ve recovered from that state it’s just… quite sad. -Suzanne Collins

7.12.2012

The Amazing Spiderman Review, and a long rant about Stonefield.

Yeaaah akhirnya nonton Spider-Man juga! Tadi nonton bareng Sasha, Celia sama Vicky di Plangi. Emang agak telat sih, tapi belom juga ah. Sebel juga dari kemaren di Tumblr banyak gif sama fotonya dan banyak spoiler juga. Dan pada saat gue baru nonton, ababil-ababil udah mulai mengambil putaran kedua.



Peter menemukan rumus rekayasa genetik yang ditemukan ayahnya, ilmuwan Oscorp yang  menghilang tanpa jejak bersama ibunya waktu dia masih kecil. Rumus itu membawanya ke Dr. Connors, mantan partner ayahnya. Tapi percobaannya nggak berjalan lancar, malah mengubah Dr Connors jadi The Lizard. And once again the day is saved thank you for Powerpuff Girls terererengtengteng Spider-Man. Tapi menyelamatkan hari (?) itu ga gampang, karena polisi menganggap Spider-Man itu ngerecokin, sementara pacarnya Peter, Gwen Stacy, itu anaknya kepala polisi. Nahloh.

Yang paling ditunggu-tunggu aku sebagai penonton sebenernya kisah masa lalunya Spiderman. Karena dari film-film sebelumnya aku suka bertanya-tanya, "emang kemana bapak ibunya?" Untuk orang-orang yang males ngebaca Spiderman versi komik-nya Marvel seperti saya, pas banget film ini dihadirkan.

Dan jujur aja kayaknya aku ga ngebet-ngebet amat pengen nonton TASM kalo Peter Parker-nya bukan Andrew Garfield. Seriusan. Tapi gue bukan ababil-ababil yang sekali nonton TASM terus ngepens yang musiman gitu. Di Social Network waktu dia jadi Eduardo Saverin ituuu adlafkjdlafkdfj. Tapi kenapa di TASM dan Social Network dia sama-sama nulis rumus-rumus algoritma itu... entah kebetulan atau apa. Kayaknya dia emang pinter dari sananya.



IYA KAAN DEJAVU BANGET

Andrew Garfield as Eduardo Saverin

Tapi di Ellen Andrew pernah bilang dibalik kostum spiderman dia ga pake apa-apa lagi looh. *ketawa mesum*


Stonefield (Emma Stone X Andrew Garfield) juga termasuk yang ditunggu-tunggu penonton. Terutama ababil. Ini saya lagi. Sejak premierenya spiderman itu dashboardku dipenuhin Stonefield melulu. Di kehidupan nyata, mereka emang cute banget sih adlafjkdljkflajkdfk *makanin kuku jari* dan gimana Andrew itu puitis banget waktu ngomongin Emma, “She’s the sun, and she’s got such depth. She can do anything. She’s magic.” Pengen nangis banget ga sih kalo ada cowok yang bilang lo itu mataharinya? sayangnya itu bukan gue oke.


stonefield gif from tumblr. not mine.

Semoga ini bukan publicity stunt yah. Jangan sampe.

Dannn kembali ke filmnya. Pertamanya kukira Peter versi TASM itu terlalu... keren. Maksudku dia ga ada tampang cupu sama sekali, dan sebelumnya dia ga pake kacamata tapi contact lens. Dan dia main skateboard yaampun. Banyak yang gasuka versi ini. Tapi menurutku sih itu bagus juga. Menurut review yang aku baca sih (entah di mana ya lupa) Peter Parker-nya Andrew lebih dekat sama versi komik. Menurutku juga mendingan versi yang ini. Karena ga semua orang yang pinter dan penyendiri itu culun, ngebosenin, dan ga menarik. Menurutku si Peter Parker TASM sebenernya keren dan asyik, tapi mungkin dia agak penyendiri dan awkward untuk bisa fit in sama temen-temennya.

Gwen Stacy
Banyak yang ngebandingin aktingnya Andrew Garfield vs Tobey Maguire. Ya kataku sih akting mereka emang beda dan ga bisa dibandingin. Kalo yang versi Tobey Peter-nya lebih pendiam dan perannya stereotipe culun banget. Sementara Andrew membawa karakter Peter jadi lebih luas lagi.

Selain perang Andrew vs Tobey Maguire, juga ada MJ vs Gwen Stacy. Menurutku mereka ga bisa dibandingin juga sih, secara karakter beda kan. Lagi-lagi kata review (aku baca banyak review karena aku agak bingung pengen nulis apa), Gwen Stacy versi film dan komik agak beda. Tetep sih dia pinter, cantik, berani, mandiri, dkk dkk. Tapi kan Gwen magang di Oscorp juga terus ketemu Peter di sana. Dia ikutan magang karena dia suka sains, dan diceritakan dia selalu juara satu di kelas. Kalo dia suka sains, seharusnya Gwen ngobrol asyik sama Peter tentang sains. Sementara di film keliatannya Gwen ga begitu berperan, meskipun akhirnya dia yang ngebantuin Peter menyelamatkan New York (spoiler dikit gapapa ya). Dia ngobrol sama Peter kayak cuma buat flirting doang, cuma sekadar ceweknya Peter. Juga dia ga pernah ngambek. Pasti di tiap film ada kan adegan cewek ngambek sama cowoknya, sementara di sini Gwen ga pernah marah sama sekali. Dan nggak banyak yang bisa kita ketahui tentang Gwen dari filmnya, selain dia magang di Oscorp, cantik, pinter, baik, punya baju yang keren-keren, dan anaknya kepala polisi. Keliatannya Mary-Sue banget, padahal di komik sebenernya ngga. Takutnya sih film ini bisa bikin cowok-cowok ngarepin cewek sempurna kayak Gwen, padahal ngga ada kan. Bisa aja kejadian lho.

Dan yang kurang dari film ini menurut aku, hubungan antara Peter dan orangtuanya kurang dijelasin. Juga alur kejahatan vs kebaikan, hitam dan putih yang terlalu klise dan ketebak banget. Aku berharap ada plot twist sedikit atau kejutan apa kek supaya agak seru. Tapi secara special effects, keren banget. Ada petunjuk-petunjuk kalo bakal ada sekuelnya dan HARUS ADA SEKUELNYA. Semoga bisa dilengkapin di film selanjutnya.

Belom nonton? Tunggu apalagiiii. Kalo yang udah nonton, ayo nonton lagi. Sekalian bayarin gue biar kita bisa mengagumi kegantengan Andrew Garfield bareng-bareng. #sesat

7.04.2012

Catching Fire: Pandora's Review :D

Aku nggak bisa berhenti baca Catching Fire. Kadang-kadang susah untuk menyelipkan pembatas buku ke halaman terakhir dan berpaling terus bilang sama diri sendiri UDAHAN DINI UDAHAN BESOK LANJUTIN. Kayak nggak ada hari esok aja. Wkwk.

“We had to save you because you're the mockingjay, Katniss. While you live, the revolution lives.”

Ceritanya mengambil setting beberapa bulan pasca Hunger Games. Sebagai victor, mereka dapat rumah bagus dan uang yang banyak, di tengah-tengah kemiskinan Distrik 12. Persahabatannya sama Gale nggak pernah sama lagi sejak Peeta menyatakan cintanya buat Katniss di depan seluruh penduduk Panem. Capitol seakan berusaha membuat The Hunger Games tetep segar di ingatan Katniss, dengan adanya Victory Tour.

Untuk pertama kalinya, ada dua pemenang di The Hunger Games, Katniss dan Peeta. Mungkin mereka dulunya sempet main figuran di Putri Yang Ditukar atau nggak tahu, tapi akting mereka sebagai pasangan yang jatuh cinta itu bener-bener meyakinkan penduduk Panem, kecuali President Snow. Seneca Crane si gamemaker yang lama dibunuh, dan dia mengancam bakal melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang mereka sayang, kalau Katniss dan Peeta nggak bisa meyakinkan penduduk Panem di Victory Tour. 

Tapi, distrik-distrik yang capek dijajah Capitol sejak lama melihat Katniss sebagai peluang melakukan aksi pemberontakan. Kira-kira bisa nggak Katniss menyelamatkan pemberontakan sekaligus orang-orang yang dia cintai?


Kenapa garis-garis lingkaran itu bentuknya kayak jam? Baca sendiri. Hehehe.

Fanmade poster. Nemu di google. Not mine.


sorry for the shitty description.

Sebenernya bukan cuma itu doang sinopsis dari gue tapi nanti spoiler parah huahaha

Dan endingnya ngegantung banget. I need Mockingjay nooooow sdjfhakldfhalh.

Setelah ngebaca buku ini, menurutku ini lebih seru daripada buku pertamanya. The Hunger Games itu baru pemanasan kalo dibandingin dengan Catching Fire (belom aja Mockingjay dan aku udah tau spoilernya duluan huahaha). Suzanne Collins sekali lagi berhasil menghadirkan berbagai macam penderitaan dan rasa sakit yang nyata banget. Menyiksa karakternya, atau bikin death scene yang ngga terlupakan banget (Rue's death scene). Kadang-kadang kupikir dia sebenernya psikopat terselubung. Ga segitunya juga sih.

Atmosfernya juga beda banget. Kalo di buku pertama itu kayak "Katniss harus menang! Go Katniss go Katniss go!!" atau menyelamatkan diri di hutan. Yah oke di buku ini ada bagian yang kayak gitu. Tapi selebihnya kalau kamu baca buku ini, hal pertama yang bakal kamu rasain adalah ketakutan. Katniss udah terang-terangan diancam Snow kayak gitu. Takut kalo keluarga Katniss akan dibunuh, takut kalo Peeta akan dibunuh, takut distrik 12 akan dimusnahkan. Takut semua orang harus menerima akibat dari percikan api pemberontakan yang diciptakan Katniss. Dan ada semangat pemberontakan juga. Kayak perasaan deg-degan kalo lo mau madol. Rules are meant to be broken. Kadang-kadang ada perasaan menyenangkan kalau kita berhasil melanggar aturan terus ngga ketangkep.

Baca buku ini bikin aku tambah bersyukur sama diri sendiri. Aku mungkin nggak sekaya Katniss dan Peeta, yang baru menang Games dan dikasih harta berlimpah, tapi juga nggak semiskin penduduk Distrik 12 dan 11. Meskipun Katniss udah kaya, dia masih suka berbagi bahan makanan dan uang sama tetangganya, dan tetep bersikap down to earth sama orang-orang yang kenal sama dia. Itu yang menurutku keren banget, maksudku dia nggak cuma tough secara fisik aja, tapi juga ramah, meskipun nggak Mary Sue-Mary Sue amat.

Ceritanya juga mirip kayak Harry Potter and the Order Of Phoenix. Cuma kalo di OOTP pemberontakannya terhadap Kementerian. Keliatannya juga pemberontakan Harry Potter 'ceria' banget, kalo di CF boro-boro sempet main kembang api. Aku juga baca OOTP bahagia banget, pas nonton filmnya juga musiknya ceria. Gaada mencekam-mencekamnya sama sekali. kecuali pas Sirius mati itu nangis darah banget.

Filmnya keluar tahun 2013. Tapi fandomnya The Hunger Games itu emang paling rewel soal milih casts. Finnick Odair, tribute dari district 4 yang gantengnya sangat nggak mungkin. Masih gosip, tapi katanya Robert Pattinson, Grant Gustin, atau Zac Efron diseleksi untuk memerankan si Finnick. Menurutku Robert sama Grant ga cocok, soalnya kulitnya Finnick cokelat. Zac Efron bisa sih, cuma ga kebayang aja. Tapi ujung-ujungnya jatoh ke akting juga. Aku ga punya bayangan sama sekali siapa yang cocok jadi Finnick.

Sementara yang jadi Johanna Mason? Tribute dari district 7 ini menang dengan pura-pura lemah. Padahal dia badass banget. Dan nekat juga. Menurutku yang paling cocok jadi Johanna itu Naya Rivera. Dia pernah bilang pengen jadi Johanna Mason. Johanna mirip banget sama Santana di Glee dengan sarkasmenya, kayak gitulah aku ngebayanginnya. Ada juga yang bilang Mia Wasikowska ikutan audisi juga. Tapi akhirnya Jena Malone juga yang dipilih. Katanya dia main Sucker Punch tapi aku gatau filmnya yang mana. Banyak yang gasuka sama Jena Malone jadi Johanna, tapi liat aja Jennifer Lawrence. Pertama dia jadi Katniss banyak orang yang bilang aktingnya dia ga bagus tapi begitu filmnya keluar, orang-orang langsung ngefans sama dia.

Dan sisanya aku juga ga punya bayangan sama sekali. Emang dasar ngga punya imajinasi sih. Kalo lagi baca buku, muka orang-orang yang belom dicast ini kebayang dalam bentuk kartun atau ngeblur nggak jelas. Sisanya diserahkan sama orang-orang Lionsgate aja deh. Awas ya om, fans THG gahar-gahar.

Beteweh, temenin gue nonton pacar gue di bioskop yuk~



ganyambung
gimana kalo Andrew aja yang jadi Finnick Odair
cewek macam apa gue ngebiarin pacarnya selingkuh sama Emma Stone
tapi emang muka gue aib sih dibandingin Emma Stone
it's not all about the looks, bro

6.24.2012

Brave: Pandora's review :D

Udah lama ga ke bioskop yaah~ *cium lantai*

Nggak seperti agenda biasanya yang tiap Jumat biasanya pulang sekolah aku kabur ke rumah Vira. Hari ini nonton Brave di PS. Yaayy. Hari pertama lagi, jadi ngereviewnya enak hahaha~



Oke jadi alkisah suatu hari di negeri nun jauh disana............ ngga jauh-jauh amat deng, di Skotlandia tetep jauh. Beda sama sosok putri yang lembut dan ngebosenin yang biasa banget. Merida adalah putri yang sangat badass dan hobi memanah dan berkuda. Setiap hari dia diatur-atur melulu sama ibunya yang kolot supaya menjadi princess yang sempurna. Apalah apalah bagian ini begitu ngebosenin, aku nggak mau ngelanjutin lagi. Ayahnya yang lebih bebas dan lucu banget biasanya jadi partner in crime-nya Merida, kadang-kadang ngebolehin dia melakukan apa yang dilarang ibunya (meskipun ujung-ujungnya suami-suami takut istri juga sih).

Keluarga bahagia
Tapi kenapa ibunya rambutnya brunette sendiri??
Terus yang lainnya anak siapa??

Sesuai tradisi kuno yang terkutuk itu, ketika Merida sudah cukup umur, ketiga suku dalam kerajaan tersebut mengirimkan wakil masing-masing untuk bertanding dalam perlombaan untuk bertunangan dengannya. Dia nggak setuju banget. Pertama, dia masih pengen menikmati kebebasan dan nggak mau menikah cepet-cepet. Kedua, emang ada gitu yang mau dijadiin barang taruhan? Aku juga nggak mau sih. Terus dia berantem sengit sama ibunya dan kabur ke hutan.

Disana, tanpa sengaja Merida ketemu dengan nenek sihir. Dia minta Nenek Sihir itu memberinya mantra untuk mengubah ibunya, dan mengubah masa depannya.

Masa depannya bakal berubah, tapi ibunya berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Dan Merida harus menyelamatkan ibunya sendirian.

Untuk selanjutnya terpaksa kalian harus nonton sendiri. Aku gamau bocorin karena nanti pada ngomel. Dan kalian emang wajib nonton sendiri! Kalo nggak nonton di bioskop, minimal beli bajakannya di Glodok deh. Kalo lo bener-bener sebokek itu, nonton di Movie2k juga ngga apa-apa. Meskipun efeknya ga bakal sama sih...

Since Friday, Merida has officially became my favorite Disney Princess.

Kenapa?

Soalnya princesses tipe Mary Sue kayaknya sekarang udah kurang disukai. Cantiknya berlebihan, kelakuan perfect, dan kadang-kadang mereka cuma nunggu Pangeran datang sambil bersih-bersih rumah. Sekarang itu udah emansipasi wanita, malahan mestinya putrinya yang ngedatengin pangeran. Lagian mana ada sih orang yang seperfect itu, nggak nyata banget.



Yang aku suka dari Merida, dia betah ngejomblo dan menolak ide pertunangan itu artinya kita kaum jomblo ada yang membela. Eh salah. Dia begitu keras kepala, liar, bebas, dan manis sekaligus, itu bikin aku jatuh cinta banget sama karakter ini. Keliatannya dia emang mandiri banget tapi di beberapa waktu juga menunjukkan kerapuhannya sebagai remaja. Kadang berani, tapi bisa juga ketakutan. Karakter Merida itu manusiawi dan cocok banget sama kehidupan remaja jaman sekarang meskipun setting ceritanya beda.

Dan rambutnya yaampun rambutnyaaaa. Aku mau punya rambut kaya gitu tapi kayaknya ga bakal seimbang sama muka.



Pesan sponsor

Kalo ceritanya sendiri sih bagus dan seperti Pixar biasanya, lawak banget, tapi sekalinya scene sedih satu bioskop banjir. Dan menegangkan juga. Cuma aku atau rasanya efek 3D-nya kurang maksimal ya? Alur ceritanya juga agak-agak klise, terlalu 'aman'. Aku sedikit ngarep dapet ending yang nggak terlalu hepi tapi itu nggak mungkin. Selebihnya sih keren banget. Nonton yaa?

PS: Now reading - Catching Fire!! Ditunggu aja reviewnya (meskipun gabakal ada yang nungguin juga sih)

sumber dan nyolong dari mbah gugel.