Pages

10.06.2012

suffering the Post The Fault In Our Stars depression syndrome.

Jadi semalem aku menyelesaikan The Fault In Our Stars dan nonton episode Glee yang break up.
NOT GOOD AT ALL.
I was so sad I even forget to cry or curl up in a fetal position.
Well, I did sob. A little.
Pertama-tama, TFIOS.

I just don’t know what to say. It’s a beautiful story.
Aku ga tau gimana mau memulainya. Kurasa kalau cuma kubilang “Hazel Grace Lancaster itu cewek 16 tahun yang kena kanker thyroid terus dia ketemu Augustus Waters di Cancer Support Club, terus mereka temenan dan saling meminjam buku terus bla bla bla” kedengerannya dangkal banget. Aku membuat buku yang luar biasa kedengeran biasa, dan it’s a disgrace to John Green I think.

Judulnya sendiri terinspirasi oleh Julius Caesar-nya Shakespeare: The fault, dear Brutus, is not in our stars, / But ourselves, that we are underlings.
Aku suka banget sama tokoh-tokohnya. Semuanya cerdas, karismatik, dan lovable banget. Astagaaa aku suka banget Hazel dan Augustus itu keren. Semua komentar yang mereka lemparkan itu begitu menggelitik dan menarik kayaknya lafkjslfslfj.
Meskipun Hazel cerdas dan doyan membaca serta bahasanya berat banget, dia terobsesi sama America’s Next Top Model parah banget. Dan Augustus suka merokok, tapi rokoknya nggak dia nyalakan. It’s a metaphor, see: You put the killing thing right between your teeth, but you don’t give it the power to do its killing.
Tokoh-tokohnya tuh bener-bener nyata, sekeren apapun mereka. Kayak misalnya Hazel dan Augustus saling berkomunikasi dengan bahasa yang nggak mungkin kita denger dari mulut remaja pada umumnya dengan cara pikir unik dan dilimpahi metafora dan quotes-quotes yang keren (iya aku ga punya kata-kata lain sepertinya), mereka tetep punya kelemahan, selain penyakit mereka. Nggak begitu sempurna, tapi cukup sempurna untuk menjadi manusia. Aku bisa aja percaya kalau ada orang persis kayak Hazel yang hidup dan bernafas dan saat ini lagi jalan dimanapun di bumi ini. 
Di buku ini, penderita kanker nggak dideskripsikan sebagai orang yang ‘menempuh perang dan berjuang’ apalah apalah gitu. Mereka itu sama kayak orang biasa, seperti kita, cuma mereka punya kanker dan lebih banyak merasakan sakit. Yang kupikir semua anak yang terkena kanker juga merasa kayak gitu, mungkin.
Tapi buku ini bukan kisah perjuangan anak penderita kanker biasa. Bukan kisah cinta dua penderita kanker gitu (I made that sounded so disgusting). This is a story about love and lost, life and death. Manusia. Rasa gembira, rasa sakit. Pokoknya emosional banget lah. Kalau kamu nggak nangis baca ini, pasti bohong and I’d hate you. Dan kamu pasti ga ngerti apa yang aku racaukan dari tadi kalau nggak baca buku ini. Jadi iqra lah.
Semoga TFIOS bisa dijadiin film. Karena aku udah bisa menggambarkannya jelas banget di kepalaku, dan kebanyakan orang pasti males baca buku (apalagi belum ada terjemahannya) jadi kalau dijadiin film mungkin golongan yang tadinya nggak tersentuh jadi ngerasa tertarik. Sama kayak The Perks of Being A Wallflower. Emma Watson + Logan Lerman in the same movie = LAFJALKFJALSDKFJSLKF. 
Oke aku belum baca Perks sih, tapi mau baca! Abis UTS aja kaliya.
Dan yang kedua, Glee.
Jadi episode yang terbaru, Season 4 Episode 4 judulnya Break Up. Yang episode 1 bahkan belum keluar di Indo. Hahaha. The joy of watching free series.
Mungkin ada yang gamau nonton bajakan, atau linknya ga connect, atau kalian emang gasuka Glee. Yaudah aku nggak bocorin.
Udah ketauan kan dari judulnya aja episodenya kayak gimana. Errrrrr.
Jadi aku nangis dan fangirling semaleman sama Nabila. The feelings.
Dan ada covernya The Scientist sama Mineeeeelakfjafjksldf!! Keduanya bikin aku nangis. Dan aku begitu menangisi keadaan waktu lagu Mine diputer sampai aku gasempet fangirling sama Mine-nya. Oh well. 
Tapi udah lama aku ga beremosional dan berlebay-lebayan, it’s glad to have those feelings back :)
And sorry for me being a shitty writer, I’m still utterly depressed with my fangirl feelings. As Augustus Waters put it: My thoughts are stars that I can’t fathom into constellations.
(PS: I’m still a good person. Shoutout to whoever understands that joke.)
(PSS: Sekarang jam 12:40 siang dan aku belum mandi. Gatau pengen aja ngomong gitu.)
(PSSS: Minggu depan UTS dan aku malah ngeratapin TFIOS. Gak lucu. Anyway, doain yaaaa.)

9.20.2012

Iiiimajinasiii.



Pagi itu hari sekolah biasa. Aku udah berapa menit dateng, ngobrol-ngobrol bentar, terus duduk gak jelas di tempat dudukku yang paling belakang. Kemudian temen sebangkuku nongol terus duduk di sebelahku.

"Din, tadi kan waktu naik ojek ke sini aku berimajinasi dulu," katanya begitu.

"Berimajinasi gimana?"

Terus dia mulai mendongeng. Tapi karena aku nggak tahu apa-apa soal jejepangan dan punya daya ingat pendek (bahasa keren untuk pikun), jadi versi pendeknya:

"Jadi ceritanya aku sekolah di Jepang. Terus aku mau perkenalan. Ada bahasa Jepang perkenalan buat cewek sama cowok, tapi aku ga sengaja pake bahasa Jepang yang cowok. Terus satu kelas diem ngeliatin aku semua. Terus aku mau jalan ke tempat dudukku, tapi kesandung bangku."

"Waktu istirahat, aku mau pergi ke kantin. Dan semua orang ngeliatin aku! Ternyata aku udah terkenal sebagai orang aneh disana. Akhirnya aku makan di atap aja, tempat perlindungan paling aman. Din, lima belas menit aja aku udah bisa bikin jalan cerita sampe segitu."

Aku cuma bisa ngakak. Karena kemungkinan terbesar itu yang bakal terjadi kalau dia sekolah di Jepang.

Temenku itu emang pribadi yang unik. Dia terobsesi banget sama anime dan manga, dan hal-hal Jepang lainnya. Kalo dari luar sih mungkin emang kelihatannya dia "aneh", karena suka fangirling sendiri tiba-tiba, tapi jangan ketipu karena dibalik dirinya yang aneh, cara pikirnya beda dari yang lain. Selalu kritis dan bisa berpikir dalam. Kadang-kadang kita lagi ngobrolin apa, dan spontan dia ngomong sesuatu yang quotable banget. Misalnya, "Setiap manusia itu pintar. Tapi setiap manusia juga bodoh. Tergantung mana yang mau diperbesar, bodohnya atau pintarnya."

Tapi imajinasi itu bikin aku jadi mikir. Karena udah lama aku nggak berimajinasi lagi, kecuali berimajinasi tentang hal-hal gaje dan memalukan yang pastinya ga bakal aku tulis disini. 

Dulu aku sering banget berimajinasi. Kemaren waktu aku pindah kamar, aku beres-beres buku tulis-buku tulis gaje yang berantakan, terus aku baca dan ternyata banyak cerpen-cerpen gak jelas yang aku bikin waktu aku masih kecil. Cerpen-cerpen itu lumayan keren sih. Sebenernya gak jauh beda sama kumpulan cerpen di KKPK, makanya aku pikir kenapa dulu ga pernah diterbitin, ya? Aku ngelanjutin baca, dan ternyata dari semua cerpen itu belum ada yang selesai sama sekali. Huahaha. Ternyata aku udah procrastinator dari dulu ya.

Karena imajinasi itulah yang bikin kita tetap hidup, tetap bernafas, dan terhibur. Mungkin dunia ini ngebosenin, mungkin kita capek hidup di rutinitas yang gitu-gitu doang. Sedikit plot twist di hari-hari kita bisa aja membuatnya jadi lebih ajaib.

Tapi akhir-akhir ini aku jadi jarang berimajinasi. Kenapa ya? Mungkin karena kurikulum sekolah membatasi kita untuk jadi bebas. Mungkin karena aku bersekolah setiap hari, aku jadi terbiasa berpikir kaku seperti apa yang dibiasakan oleh sekolah umum. Aku kurang suka sama kurikulum sekolah yang sekarang, yang lebih mementingkan nilai dan pencitraan sekolah daripada apakah cara mendidiknya udah bener atau belum. Well, itu cuma pandanganku doang, atau mungkin cuma sekolahku doang yang gitu haha. Meskipun sekolahku sebenernya bagus dan aku mestinya bersyukur.

Daaan btw! Aku kangen banget nulis disini. Karena mungkin aku sibuk sekolah dan melakukan hal-hal gaje lainnya, dan aku nulis blog tergantung mood-moodan dan inspirasi. Dan siapa juga yang nungguin aku nulis blog, perasaan blog aku sepi-sepi aja :) tapi gapapalah. 

Ohiya hari ini pilkada Jakarta ya? Selamat mencoblos, kawan-kawan! Semoga ga salah pilih yaa. Semoga Jakarta bisa lebih baik dari hari ini, semoga Jakarta ga macet lagi, semoga gubernur yang baru bisa mengurangi kemiskinan di Jakarta amiin. :D

9.02.2012

Celoteh si Jingga - Review!

Beberapa minggu yang lalu, waktu masih libur puasa, time turner mana time turner Om Rico ngedatengin aku terus bilang "Din, baca deh bukunya bagus." Om Rico nyodorin sebuah buku ke aku. Aku oh-oh aja karena masih ribet sama lontongnya, tapi lama-lama aku penasaran juga.

Celoteh si Jingga oleh Ivy Londa. notice my new room though.

Buku ini isinya curcolan kak Ivy Londa, tapi curcolnya produktif. Disini dia menceritakan kepeduliannya tentang masyarakat dan lingkungan, perjalanan mencari Tuhan jadi figuran di PPT yaa? hal-hal tentang keluarga yang aku ga pernah perhatiin, dan tentang mimpi dan idealisme. Beberapa emang lumayan pribadi, tapi tetep menginspirasi.

Buku ini banyak ngebahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang ga kejawab di kepalaku. Tentang nasib negara ini. Tentang orang-orang di sekitar kita. Tentang perasaan dan hidup yang emang sepele, tapi bikin penasaran terus-terusan. Setelah ngebaca buku ini, pertanyaan-pertanyaan itu masih nggak kejawab. Mungkin kita bakal menemukan diri kita tiduran di kasur, menatap langit-langit kamar, berusaha mencerna isi buku tadi.

Ada beberapa buku yang begitu halaman terakhir ditutup, ceritanya selesai. Kita cuma bisa mikir "wah seru banget ceritanya" atau mungkin malah "anjir buku apaan tuh. untung buku pinjeman." (pengalaman pribadi). Tapi gak dengan buku ini. Setelah selesai ngebaca, aku masih sedikit ga ngerti dan berusaha mendiskusikan isi buku itu di kepalaku. Tapi itu cuma menimbulkan pertanyaan baru, yang masing-masing akan menimbulkan pertanyaan baru, yang akan terus beranak pinak kayak kucing tetangga. Yang penting buku ini ngebikin kita berpikir dan menjadi kreatif. Begitu paham, aku ngerasa terinspirasi banget. Kaya brainfreeze gitu. Tiba-tiba wuzzz ada sesuatu yang nyerang otakku terus aku ngerasa pengen nulis, pengen melakukan sesuatu untuk bangsa, pengen lari-lari di lapangan, pengen nyanyi di kamar mandi, atau nulis racauan nggak jelas ini.

Ada bagian-bagian dimana aku ngerasa jleb juga sih. Kadang-kadang aku ngerasa berbeda sama temen-temen sekelasku. Pernah lain waktu lagi, aku ngerasa capek dan bosen menghidupi rutinitas yang sama terus-menerus. Atau karena harus selalu memakai topeng, yang cuma sesekali bisa dibuka di hadapan temen-temenku yang sebenarnya karena kebanyakan orang nggak bisa menerimaku ketika mereka menatap wajahku yang sebenarnya.

Bisa nggak sih ada sesuatu yang heboh sesekali di hidupku? Lalu aku berhenti berharap sebelum keinginanku jadi nyata. Pertama, karena aku inget di film Tokyo Magnitude, si tokoh utama juga berharap kayak gitu, detik kemudian Tokyo langsung diguncang gempa. Kedua, karena ngebaca bab Kromatik, yang bikin aku pengen ketawa sendiri entah kenapa, "Hahaha, ini gue banget!"

Hidup bukan tentang membuat matahari terbit di barat, tapi ini tentang menceritakan sebuah keajaiban pada matahari yang terbit dari timur. Bukan memaksa matahari untuk merangkak terbalik, tetapi bagaimana kau menceritakan tentang kisah mentari yang terbit dari timur dengan caramu sendiri, sehingga orang-orang berhenti dan mendengarkan kisahmu.

Kayak Kak Dea dan Salamatahari yang pernah aku tulis disini (kecuali Kak Dea tulisannya lebih imajinatif dan ceria, Coretan si Jingga lebih filosofis), semuanya balik lagi ke hal-hal kecil yang sering kali nggak kelihatan sama mata kita. Melihat aja ga cukup sebenarnya, kita harus bener-bener merhatiin sampe otak kita dipenuhi suara "KENAPA? KENAPA? KENAPA?" yang berulang-ulang kaya alarm rusak. Terus kita bakal jadi resah dan menulis untuk menyelidikinya. Atau cuma sekadar pengen cerita doang.

Tapi kayaknya aku masih belom punya mata yang memerhatikan sekeliling, atau otak yang cukup aktif untuk terus-terusan bertanya kenapa. Ngejaga barang-barang sendiri aja masih susah. Botol minumku yang Rubbermaid hilaaaaang. Buku Luna-ku juga. Mukenaku juga, tapi udah ketemu lagi di lemari sapu kelas. Oke malah curcol.

Yang aku kagum dari Kak Ivy/Jingga, karena kakak itu berani. Berani karena benar. Ikut berdemo Aksi untuk Iklim di HI. Keluar dari SMA karena nggak mau menghafalkan kalimat-kalimat yang cuma gitu doang--bukan belajar beneran. Berani menyuarakan pendapatnya di antara temen-temennya, meski artinya berbeda sendiri. Berani mengemukakan pendapatnya. Dan berani bermimpi! Dan semoga mimpinya bisa terwujud.

Dadah :D

HA MIN EMPAT KAWAN KAWAN INGAT HA MIN EMPAT

7.17.2012

Review: The Illustrated Mum. and the society.

Beberapa minggu lalu aku dikasih tumpukan buku-buku Jacqueline Wilson dan Lizzie McGuire dari Kak Sekar. Kenapa? Karena udah ga dibaca lagi. Yaampun. Kebetulan banget aku lagi butuh buku bacaan.

MAKASIH KAK SEKAR <3


Aku baru baca beberapa buku tapiiii aku paling suka The Illustrated Mum.


"OK, so I'm a freak," said Marigold shakily. "I don't care. I don't have to conform to your narrow view of society, Star. I've always lived my life on the ouside edge."

Dolphin dan Star punya ibu yang unik banget, namanya Marigold. Rambutnya merah menyala, badannya dipenuhi tato yang banyak banget, dan imajinasinya hebat. Dia bisa membuat apapun jadi nyata. Dia nggak pernah peduli dengan pandangan masyarakat dan selalu berusaha jadi beda. Tapi dia ngga selalu jadi ibu yang hebat sih. Kadang-kadang Marigold ngehabisin duit bulanannya dalam sehari buat beli barang-barang gapenting, dan beberapa hari kemudian mereka jadi susah uang banget. TV dan telepon mereka sampe disita karena berbulan-bulan ga bayar tagihan. Kadang-kadang dia ngilang seharian dan muncul lagi dalam keadaan mabok. Tapi Dolphin seneng banget sama ibunya, kadang dia ngga peduli kalo dia ga punya ayah.

Terus hal-hal berubah, karena bapaknya Star sama sekali ga tau kalau dia punya anak, tiba-tiba muncul, dan ngebawa Star pergi. Marigold jadi depresi, sementara Dolphin bingung karena masalahnya banyak banget. Bisa nggak sih semuanya kembali kayak dulu?

Aku baru pernah baca buku Jacqueline Wilson sekali, yang Double Act. Ceritanya bagus sih. Dulu kukira buku-buku Jacqueline Wilson... yaa gitu-gitu aja. Tapi aku iseng baca buku yang ini dan ternyata nggak.

Buku-bukunya Jacqueline Wilson sering mengangkat tema perceraian, kematian, dan anak-anak panti asuhan. Dan ajaibnya dia bisa mengangkat tema-tema yang berat dan sangat dewasa itu jadi gampang dimengerti anak-anak. Tapi emang sih buku yang ini agak-agak lebih 'gelap' daripada buku yang lain, dan jauh lebih rumit. Kira-kira buat umur 11+ deh.

Yang aku suka dari buku ini, buku ini nyeritain tentang masyarakat kejam yang penuh penilaian. Cuma gara-gara Marigold bertato banyak dan berkelakuan nggak kayak orang biasa, dia selalu dianggap negatif oleh orang lain. Star yang berubah jadi normal hanya supaya dia disukai orang lain dan punya temen. Dolphin yang dibully sama temen-temennya cuma karena cara berpakaian dan ngomongnya nggak sama dengan anak-anak yang lain. Kadang-kadang kita pengen jadi apa adanya dan ngomong dengan gampang sama dunia dan masyarakat "ini loh diri gue". Tapi ga segampang itu, kadang-kadang mungkin lo akan dibalas dengan tatapan mencela dari mereka. I told you, society sucks. 

"Society sucks. It’s a damned if you do, damned if you don’t kind of situation. I’m not allowed to be fat, but I’m not allowed to go on a diet either (or keep a food diary, for that matter). I’m not allowed to be dumb, but I’m not allowed to be smarter than a boy. I’m not allowed to do drugs or drink, but I’m considered boring if I don’t. I’m supposed to be an empowered woman, but if I ask for respect dudes will just call me an annoying bitch. Heck, if I wait to have sex I’m labeled a prude, but if I lost my virginity today there would be a lot of people thinking that slut." - THIS article by Lexi Harder.

Aku suka banget karakter Marigold yang kompleks. Dia pengen beda dari masyarakat yang lain, ya itu bagus dan unik. Tapi lalu masa kecilnya kurang bahagia dan itu mempengaruhi dia yang setelah dewasa jadi manic depressive, dan lari ke gaya hidup nggak sehat lalu dia jadi bipolar dan suka mabok-mabokan dan akhirnya hamil di luar nikah dua kali. Sinetron banget iya kan. Tapi dia sayang banget sama Star dan Dolphin, dia bisa ngebikin cerita apapun yang dia ceritain jadi nyata, dan kalo mereka minta apapun pasti dibeliin, jadi dia ga bisa dibilang antagonis juga. Tapi kalo lagi depresi banget dia bisa menelantarkan anaknya. Sinetron banget gasih. Tapi menarik. Dan mungkin itu kenapa banyak orang yang suka sinetron. Tapi sesinetron-sinetronnya Marigold ga senorak Cinta Fitri juga kali yaaa.

Terakhir, sudut pandangnya orang pertama dari cewek kelas 3 atau 4 SD (entahlah aku terlalu males baca lagi) yang masih polos. Di matanya, Marigold-lah yang terbaik. Aku ngebayanginnya Marigold lagi berdiri dengan pose 'menatap ke masa depan' dengan mata berbinar-binar dan rambut ketiup angin. Dengan Marigold yang keren sebagai idolanya, dia jadi berbeda dan keren dan seterusnya, paling ngga menurutku dia keren. Tapi dia dibully sama anak-anak di sekolahnya. Anak yang berbeda selalu dibully. Aku sedih ngebacanya. Ya, maksudku kenapa mereka harus sejahat itu, sih? Iya sih mereka masih anak-anak dan mereka nggak ngerti apa yang mereka lakukan, waktu udah gede mereka bakal ngeliat kembali ke masa kecilnya dan merasa diri mereka jahat banget. Artinya sejak kecil pandangan mereka udah dibentuk sama masyarakat bahwa "baju yang bener itu begini" "kalau dia ga pake baju model kaya gini artinya dia aneh" "orang yang pake kacamata itu aneh dan kutu buku". Dan seterusnya. Menurutku itu menyedihkan banget.

Kalau aku punya anak aku ngga mau pandangan anakku terbatas sama pandangan yang diseragamkan oleh masyarakat. Tapi aku juga ga mau jadi ibu yang bikin anaknya punya mkkb dan ujung-ujungnya jadi manic depressive kaya Marigold.

7.16.2012

You know what’s sad about reading books? It’s that you fall in love with the characters. They grow on you. And as you read, you start to feel what they feel - all of them - you become them. And when you’re done, you’re never the same. Sure you’re still you, you look the same, talk in the same manner, but something in you has changed. Something in the way you think, the way you choose, sometimes, even the things you say may differ. But it all comes down to the state you go to after a nice novel. The after-feeling. It’s amazing, but somehow, you feel left alone by that world you were once in. It’s overwhelming. But it makes you sad. Cause for once you were this, this otherworldly being in… Neverwhere, and then you suddenly have to say goodbye after a few weeks from when you read the last page. When you’ve recovered from that state it’s just… quite sad. -Suzanne Collins