Pages

10.25.2012

At least, I get to be one in my stories.

I don't know why I am writing this because I don't want to.

But anyway.

Aku menulis kembali. Ada calon naskah novel lama yang waktu itu kedelete karena flashdisk-ku error. Ide itu mengetuk pintu kamarku malam-malam seperti hantu dari masa lalu terus dia berbisik di telingaku "LET ME IN DINI LET ME IN". So I did. Dan aku membuat karakter baru dari awal lagi, setting baru, dan semuanya baru kecuali ceritanya, pada dasarnya. Dan sekarang aku punya writing source baru.

Ini dan ini. Aku suka Write World sama Yeah Write, jadi setiap hari mereka ngepost prompt. Kalau dari Write World bisa dari bentuk gambar, lagu, atau kalimat, sementara Yeah Write kalogasalah sih cuma gambar doang. Kita harus ngebikin karya--bisa puisi atau cerpen, sesuai dengan prompt yang dikasih itu. Karena aku bingung mau ngapain, aku main ke Write World, terus aku nemu prompt gambar gurun pasir. Nasib prompt itu apes bener terakhirnya jadi puisi galau.

The thing is, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu (atau berbulan-bulan?) aku ngerasa hidup. Beberapa minggu (ATAU BULAN??) terakhir ini aku ngerasa jadi zombie (atau walker, menurut kamus Walking Dead. Aku dipaksa Vira nonton Walking Dead, waktu itu dia udah mencekokiku dengan season pertama, dan akhirnya aku ngelanjutin nonton season 2 di Sidereel. Nyesek banget euy) banget.

Kayaknya hidup itu cuma sebuah never ending cycle. Bangun, ke sekolah, pulang, main Tumblr, ngerjain PR, tidur, dan cycle itu pun terulang lagi. Setiap hari Senin aku terbangun dan bilang "wah udah hari Senin lagi ya." Lalu aku cuma melakukan cycle itu sampai hari Sabtu lagi. Itu kenapa aku selalu mengeluh kalo hari Senin seakan-akan aku kambing yang mau dikurban. Aku ga mau terus menerus menyia-nyiakan hidupku dengan tenggelam dalam rutinitas yang membunuh kita perlahan itu. Aku serasa ga punya tujuan hidup. Mungkin dari luar aku tampak normal (nggak senormal itu juga sih) tapi di dalam diriku ada sesuatu yang pecah berkeping-keping (as cliche as it sounds). Hampa. Aku merasakannya. 

Setelah lama vakum menulis kecuali nulis jurnal dan coretan-coretan gaje serta never ending rants di notebook My Melody-ku yang beli di Indomaret yang udah mau penuh itu, akhirnya aku menulis lagi. Menulis selalu membuatku tersenyum, dan baru sekarang aku bener-bener menghargai perlindungan yang ditawarkan oleh dunia menulis. Rasanya aman kalau berada di dalam duniaku sendiri. Paling nggak aku tahu kalau setiap detik yang kuhabiskan di duniaku nggak bakal sia-sia. Paling nggak aku masih punya masa depan selama aku menikmati menulis

Oke ini apadeh sok-sok mellow kaya gini.

Dan kali ini aku bener-bener menciptakan karakternya dari awal, thanks to Writeworld. Seru banget menciptakan karakter itu, kayak lagi main The Sims. Bedanya, aku merasakan koneksi yang lebih dalam dengan karakterku. Serasa kayak merawat anak. Atau menjadi Tuhan yang merencanakan jalan hidup umat-umat-Nya? Karena aku selalu penasaran gimana rasanya menjadi Tuhan.

10.21.2012

Perahu Kertas! :D



Hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.

Aku baru pulang nonton Perahu Kertas 2 sama Ibu. Yaaa dan seperti pas nonton Perahu Kertas 1, aku keluar teater masih dengan bergelimang air mata. 

Filmnya mengharukan banget. Dan emosional juga sih. Meskipun kedua film sebenernya adalah satu kesatuan, menurutku yang film pertama lebih ringan dan remaja banget, karena masih masa-masa senengnya. Ada sedikit haru juga, tapi rasa sakitnya belum nyess banget. Sementara di film kedua, saya yang nonton aja nyesek gimana tokoh-tokoh benerannya ya? Di film kedua jugalah alurnya berubah jadi ribet. Aku kagum banget sama Kak Dee bisa kepikiran cinta bersegi-segi yang malang melintang kaya gitu. 

Tapi mungkin aku lebih suka film pertama karena waktu itu aku belum baca bukunya. Aku selesai baca bukunya sehari sebelum UTS, dan waktu UTS sukses kebayang-bayang. Kalo belum baca bukunya rasanya kita bisa menilai dengan lebih adil filmnya bagus apa nggak, karena nggak terbebani oleh harapan dari bukunya. Film kedua juga bagus sebenernyaaa yah. Tapi entah kenapa aku merasa agak lebay gitu awal-awalnya. Atau mungkin cuma perasaanku.

Yang sayang banget, kayaknya tokoh Luhde ga dikembangin terlalu luas. Di bukunya, Luhde itu lebih dari cewek Bali kalem yang penurut dan manis. Dia itu pinter, kuat, dan bijak banget, meskipun ngarahnya ke sok tahu kadang-kadang. Dan dia ga begitu pendiam. 

Ada beberapa karakter OOC juga sih di filmnya (Noni, terus kadang-kadang Kugy juga gitu meski ngga selalu), tapi yang penting menurutku filmnya udah cukup menggambarkan keseluruhan isi bukunya. Dan aku juga suka musiknya itu begitu mendukung suasana scene, malah kadang scene-nya nggak begitu menggalaukan, tapi aku nangis aja denger lagunya. 

Tapi yang paling bagus dari semuanya adalah bukunya. Aku suka banget, baca buku itu seperti baca diary orang lain--begitu nyata, bisa aja semua kejadian yang terjadi di buku itu pernah terjadi sama orang lain. Seperti The Fault In Our Stars, karakter-karakternya nggak sempurna, tapi cukup manusiawi. Ceritanya mengalir banget sehingga ngebacanya enak. Dan yang terakhir jokesnya beneran lucu, nggak garing sama sekali. Itu sambil baca bukunya aku ngakak bangetbangetan deh xD

Tentu saja aku jatuh cinta sama tokoh Kugy. Pertamaaa dia suka nulis! Itu udah cukup bikin aku ngerasa relate banget dan tambah sering nulis, meskipun cuma iseng-iseng gaje aja. Siapa tahu bisa kayak Kugy dapet pacar seniman gitu maksudnya, tapi kalo dapet Adipati pun ga akan ditolak. Dan imajinasi Kugy yang bikin dunia yang biasa-biasa aja ini menjadi ajaib. Dan gaya Kugy yang serampangan dan biasa aja, tapi nggak mengurangi keunikan dirinya sama sekali.

Pokoknya udah nonton atau belum, nggak ada alasan untuk baca buku ini. Dee is a genius. Kalo kalian bilang lebih suka nonton film karena males baca bukunya, rugi ajah.

10.06.2012

suffering the Post The Fault In Our Stars depression syndrome.

Jadi semalem aku menyelesaikan The Fault In Our Stars dan nonton episode Glee yang break up.
NOT GOOD AT ALL.
I was so sad I even forget to cry or curl up in a fetal position.
Well, I did sob. A little.
Pertama-tama, TFIOS.

I just don’t know what to say. It’s a beautiful story.
Aku ga tau gimana mau memulainya. Kurasa kalau cuma kubilang “Hazel Grace Lancaster itu cewek 16 tahun yang kena kanker thyroid terus dia ketemu Augustus Waters di Cancer Support Club, terus mereka temenan dan saling meminjam buku terus bla bla bla” kedengerannya dangkal banget. Aku membuat buku yang luar biasa kedengeran biasa, dan it’s a disgrace to John Green I think.

Judulnya sendiri terinspirasi oleh Julius Caesar-nya Shakespeare: The fault, dear Brutus, is not in our stars, / But ourselves, that we are underlings.
Aku suka banget sama tokoh-tokohnya. Semuanya cerdas, karismatik, dan lovable banget. Astagaaa aku suka banget Hazel dan Augustus itu keren. Semua komentar yang mereka lemparkan itu begitu menggelitik dan menarik kayaknya lafkjslfslfj.
Meskipun Hazel cerdas dan doyan membaca serta bahasanya berat banget, dia terobsesi sama America’s Next Top Model parah banget. Dan Augustus suka merokok, tapi rokoknya nggak dia nyalakan. It’s a metaphor, see: You put the killing thing right between your teeth, but you don’t give it the power to do its killing.
Tokoh-tokohnya tuh bener-bener nyata, sekeren apapun mereka. Kayak misalnya Hazel dan Augustus saling berkomunikasi dengan bahasa yang nggak mungkin kita denger dari mulut remaja pada umumnya dengan cara pikir unik dan dilimpahi metafora dan quotes-quotes yang keren (iya aku ga punya kata-kata lain sepertinya), mereka tetep punya kelemahan, selain penyakit mereka. Nggak begitu sempurna, tapi cukup sempurna untuk menjadi manusia. Aku bisa aja percaya kalau ada orang persis kayak Hazel yang hidup dan bernafas dan saat ini lagi jalan dimanapun di bumi ini. 
Di buku ini, penderita kanker nggak dideskripsikan sebagai orang yang ‘menempuh perang dan berjuang’ apalah apalah gitu. Mereka itu sama kayak orang biasa, seperti kita, cuma mereka punya kanker dan lebih banyak merasakan sakit. Yang kupikir semua anak yang terkena kanker juga merasa kayak gitu, mungkin.
Tapi buku ini bukan kisah perjuangan anak penderita kanker biasa. Bukan kisah cinta dua penderita kanker gitu (I made that sounded so disgusting). This is a story about love and lost, life and death. Manusia. Rasa gembira, rasa sakit. Pokoknya emosional banget lah. Kalau kamu nggak nangis baca ini, pasti bohong and I’d hate you. Dan kamu pasti ga ngerti apa yang aku racaukan dari tadi kalau nggak baca buku ini. Jadi iqra lah.
Semoga TFIOS bisa dijadiin film. Karena aku udah bisa menggambarkannya jelas banget di kepalaku, dan kebanyakan orang pasti males baca buku (apalagi belum ada terjemahannya) jadi kalau dijadiin film mungkin golongan yang tadinya nggak tersentuh jadi ngerasa tertarik. Sama kayak The Perks of Being A Wallflower. Emma Watson + Logan Lerman in the same movie = LAFJALKFJALSDKFJSLKF. 
Oke aku belum baca Perks sih, tapi mau baca! Abis UTS aja kaliya.
Dan yang kedua, Glee.
Jadi episode yang terbaru, Season 4 Episode 4 judulnya Break Up. Yang episode 1 bahkan belum keluar di Indo. Hahaha. The joy of watching free series.
Mungkin ada yang gamau nonton bajakan, atau linknya ga connect, atau kalian emang gasuka Glee. Yaudah aku nggak bocorin.
Udah ketauan kan dari judulnya aja episodenya kayak gimana. Errrrrr.
Jadi aku nangis dan fangirling semaleman sama Nabila. The feelings.
Dan ada covernya The Scientist sama Mineeeeelakfjafjksldf!! Keduanya bikin aku nangis. Dan aku begitu menangisi keadaan waktu lagu Mine diputer sampai aku gasempet fangirling sama Mine-nya. Oh well. 
Tapi udah lama aku ga beremosional dan berlebay-lebayan, it’s glad to have those feelings back :)
And sorry for me being a shitty writer, I’m still utterly depressed with my fangirl feelings. As Augustus Waters put it: My thoughts are stars that I can’t fathom into constellations.
(PS: I’m still a good person. Shoutout to whoever understands that joke.)
(PSS: Sekarang jam 12:40 siang dan aku belum mandi. Gatau pengen aja ngomong gitu.)
(PSSS: Minggu depan UTS dan aku malah ngeratapin TFIOS. Gak lucu. Anyway, doain yaaaa.)