10.25.2012

At least, I get to be one in my stories.

I don't know why I am writing this because I don't want to.

But anyway.

Aku menulis kembali. Ada calon naskah novel lama yang waktu itu kedelete karena flashdisk-ku error. Ide itu mengetuk pintu kamarku malam-malam seperti hantu dari masa lalu terus dia berbisik di telingaku "LET ME IN DINI LET ME IN". So I did. Dan aku membuat karakter baru dari awal lagi, setting baru, dan semuanya baru kecuali ceritanya, pada dasarnya. Dan sekarang aku punya writing source baru.

Ini dan ini. Aku suka Write World sama Yeah Write, jadi setiap hari mereka ngepost prompt. Kalau dari Write World bisa dari bentuk gambar, lagu, atau kalimat, sementara Yeah Write kalogasalah sih cuma gambar doang. Kita harus ngebikin karya--bisa puisi atau cerpen, sesuai dengan prompt yang dikasih itu. Karena aku bingung mau ngapain, aku main ke Write World, terus aku nemu prompt gambar gurun pasir. Nasib prompt itu apes bener terakhirnya jadi puisi galau.

The thing is, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu (atau berbulan-bulan?) aku ngerasa hidup. Beberapa minggu (ATAU BULAN??) terakhir ini aku ngerasa jadi zombie (atau walker, menurut kamus Walking Dead. Aku dipaksa Vira nonton Walking Dead, waktu itu dia udah mencekokiku dengan season pertama, dan akhirnya aku ngelanjutin nonton season 2 di Sidereel. Nyesek banget euy) banget.

Kayaknya hidup itu cuma sebuah never ending cycle. Bangun, ke sekolah, pulang, main Tumblr, ngerjain PR, tidur, dan cycle itu pun terulang lagi. Setiap hari Senin aku terbangun dan bilang "wah udah hari Senin lagi ya." Lalu aku cuma melakukan cycle itu sampai hari Sabtu lagi. Itu kenapa aku selalu mengeluh kalo hari Senin seakan-akan aku kambing yang mau dikurban. Aku ga mau terus menerus menyia-nyiakan hidupku dengan tenggelam dalam rutinitas yang membunuh kita perlahan itu. Aku serasa ga punya tujuan hidup. Mungkin dari luar aku tampak normal (nggak senormal itu juga sih) tapi di dalam diriku ada sesuatu yang pecah berkeping-keping (as cliche as it sounds). Hampa. Aku merasakannya. 

Setelah lama vakum menulis kecuali nulis jurnal dan coretan-coretan gaje serta never ending rants di notebook My Melody-ku yang beli di Indomaret yang udah mau penuh itu, akhirnya aku menulis lagi. Menulis selalu membuatku tersenyum, dan baru sekarang aku bener-bener menghargai perlindungan yang ditawarkan oleh dunia menulis. Rasanya aman kalau berada di dalam duniaku sendiri. Paling nggak aku tahu kalau setiap detik yang kuhabiskan di duniaku nggak bakal sia-sia. Paling nggak aku masih punya masa depan selama aku menikmati menulis

Oke ini apadeh sok-sok mellow kaya gini.

Dan kali ini aku bener-bener menciptakan karakternya dari awal, thanks to Writeworld. Seru banget menciptakan karakter itu, kayak lagi main The Sims. Bedanya, aku merasakan koneksi yang lebih dalam dengan karakterku. Serasa kayak merawat anak. Atau menjadi Tuhan yang merencanakan jalan hidup umat-umat-Nya? Karena aku selalu penasaran gimana rasanya menjadi Tuhan.

10.21.2012

Perahu Kertas! :D



Hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.

Aku baru pulang nonton Perahu Kertas 2 sama Ibu. Yaaa dan seperti pas nonton Perahu Kertas 1, aku keluar teater masih dengan bergelimang air mata. 

Filmnya mengharukan banget. Dan emosional juga sih. Meskipun kedua film sebenernya adalah satu kesatuan, menurutku yang film pertama lebih ringan dan remaja banget, karena masih masa-masa senengnya. Ada sedikit haru juga, tapi rasa sakitnya belum nyess banget. Sementara di film kedua, saya yang nonton aja nyesek gimana tokoh-tokoh benerannya ya? Di film kedua jugalah alurnya berubah jadi ribet. Aku kagum banget sama Kak Dee bisa kepikiran cinta bersegi-segi yang malang melintang kaya gitu. 

Tapi mungkin aku lebih suka film pertama karena waktu itu aku belum baca bukunya. Aku selesai baca bukunya sehari sebelum UTS, dan waktu UTS sukses kebayang-bayang. Kalo belum baca bukunya rasanya kita bisa menilai dengan lebih adil filmnya bagus apa nggak, karena nggak terbebani oleh harapan dari bukunya. Film kedua juga bagus sebenernyaaa yah. Tapi entah kenapa aku merasa agak lebay gitu awal-awalnya. Atau mungkin cuma perasaanku.

Yang sayang banget, kayaknya tokoh Luhde ga dikembangin terlalu luas. Di bukunya, Luhde itu lebih dari cewek Bali kalem yang penurut dan manis. Dia itu pinter, kuat, dan bijak banget, meskipun ngarahnya ke sok tahu kadang-kadang. Dan dia ga begitu pendiam. 

Ada beberapa karakter OOC juga sih di filmnya (Noni, terus kadang-kadang Kugy juga gitu meski ngga selalu), tapi yang penting menurutku filmnya udah cukup menggambarkan keseluruhan isi bukunya. Dan aku juga suka musiknya itu begitu mendukung suasana scene, malah kadang scene-nya nggak begitu menggalaukan, tapi aku nangis aja denger lagunya. 

Tapi yang paling bagus dari semuanya adalah bukunya. Aku suka banget, baca buku itu seperti baca diary orang lain--begitu nyata, bisa aja semua kejadian yang terjadi di buku itu pernah terjadi sama orang lain. Seperti The Fault In Our Stars, karakter-karakternya nggak sempurna, tapi cukup manusiawi. Ceritanya mengalir banget sehingga ngebacanya enak. Dan yang terakhir jokesnya beneran lucu, nggak garing sama sekali. Itu sambil baca bukunya aku ngakak bangetbangetan deh xD

Tentu saja aku jatuh cinta sama tokoh Kugy. Pertamaaa dia suka nulis! Itu udah cukup bikin aku ngerasa relate banget dan tambah sering nulis, meskipun cuma iseng-iseng gaje aja. Siapa tahu bisa kayak Kugy dapet pacar seniman gitu maksudnya, tapi kalo dapet Adipati pun ga akan ditolak. Dan imajinasi Kugy yang bikin dunia yang biasa-biasa aja ini menjadi ajaib. Dan gaya Kugy yang serampangan dan biasa aja, tapi nggak mengurangi keunikan dirinya sama sekali.

Pokoknya udah nonton atau belum, nggak ada alasan untuk baca buku ini. Dee is a genius. Kalo kalian bilang lebih suka nonton film karena males baca bukunya, rugi ajah.

10.06.2012

suffering the Post The Fault In Our Stars depression syndrome.

Jadi semalem aku menyelesaikan The Fault In Our Stars dan nonton episode Glee yang break up.
NOT GOOD AT ALL.
I was so sad I even forget to cry or curl up in a fetal position.
Well, I did sob. A little.
Pertama-tama, TFIOS.

I just don’t know what to say. It’s a beautiful story.
Aku ga tau gimana mau memulainya. Kurasa kalau cuma kubilang “Hazel Grace Lancaster itu cewek 16 tahun yang kena kanker thyroid terus dia ketemu Augustus Waters di Cancer Support Club, terus mereka temenan dan saling meminjam buku terus bla bla bla” kedengerannya dangkal banget. Aku membuat buku yang luar biasa kedengeran biasa, dan it’s a disgrace to John Green I think.

Judulnya sendiri terinspirasi oleh Julius Caesar-nya Shakespeare: The fault, dear Brutus, is not in our stars, / But ourselves, that we are underlings.
Aku suka banget sama tokoh-tokohnya. Semuanya cerdas, karismatik, dan lovable banget. Astagaaa aku suka banget Hazel dan Augustus itu keren. Semua komentar yang mereka lemparkan itu begitu menggelitik dan menarik kayaknya lafkjslfslfj.
Meskipun Hazel cerdas dan doyan membaca serta bahasanya berat banget, dia terobsesi sama America’s Next Top Model parah banget. Dan Augustus suka merokok, tapi rokoknya nggak dia nyalakan. It’s a metaphor, see: You put the killing thing right between your teeth, but you don’t give it the power to do its killing.
Tokoh-tokohnya tuh bener-bener nyata, sekeren apapun mereka. Kayak misalnya Hazel dan Augustus saling berkomunikasi dengan bahasa yang nggak mungkin kita denger dari mulut remaja pada umumnya dengan cara pikir unik dan dilimpahi metafora dan quotes-quotes yang keren (iya aku ga punya kata-kata lain sepertinya), mereka tetep punya kelemahan, selain penyakit mereka. Nggak begitu sempurna, tapi cukup sempurna untuk menjadi manusia. Aku bisa aja percaya kalau ada orang persis kayak Hazel yang hidup dan bernafas dan saat ini lagi jalan dimanapun di bumi ini. 
Di buku ini, penderita kanker nggak dideskripsikan sebagai orang yang ‘menempuh perang dan berjuang’ apalah apalah gitu. Mereka itu sama kayak orang biasa, seperti kita, cuma mereka punya kanker dan lebih banyak merasakan sakit. Yang kupikir semua anak yang terkena kanker juga merasa kayak gitu, mungkin.
Tapi buku ini bukan kisah perjuangan anak penderita kanker biasa. Bukan kisah cinta dua penderita kanker gitu (I made that sounded so disgusting). This is a story about love and lost, life and death. Manusia. Rasa gembira, rasa sakit. Pokoknya emosional banget lah. Kalau kamu nggak nangis baca ini, pasti bohong and I’d hate you. Dan kamu pasti ga ngerti apa yang aku racaukan dari tadi kalau nggak baca buku ini. Jadi iqra lah.
Semoga TFIOS bisa dijadiin film. Karena aku udah bisa menggambarkannya jelas banget di kepalaku, dan kebanyakan orang pasti males baca buku (apalagi belum ada terjemahannya) jadi kalau dijadiin film mungkin golongan yang tadinya nggak tersentuh jadi ngerasa tertarik. Sama kayak The Perks of Being A Wallflower. Emma Watson + Logan Lerman in the same movie = LAFJALKFJALSDKFJSLKF. 
Oke aku belum baca Perks sih, tapi mau baca! Abis UTS aja kaliya.
Dan yang kedua, Glee.
Jadi episode yang terbaru, Season 4 Episode 4 judulnya Break Up. Yang episode 1 bahkan belum keluar di Indo. Hahaha. The joy of watching free series.
Mungkin ada yang gamau nonton bajakan, atau linknya ga connect, atau kalian emang gasuka Glee. Yaudah aku nggak bocorin.
Udah ketauan kan dari judulnya aja episodenya kayak gimana. Errrrrr.
Jadi aku nangis dan fangirling semaleman sama Nabila. The feelings.
Dan ada covernya The Scientist sama Mineeeeelakfjafjksldf!! Keduanya bikin aku nangis. Dan aku begitu menangisi keadaan waktu lagu Mine diputer sampai aku gasempet fangirling sama Mine-nya. Oh well. 
Tapi udah lama aku ga beremosional dan berlebay-lebayan, it’s glad to have those feelings back :)
And sorry for me being a shitty writer, I’m still utterly depressed with my fangirl feelings. As Augustus Waters put it: My thoughts are stars that I can’t fathom into constellations.
(PS: I’m still a good person. Shoutout to whoever understands that joke.)
(PSS: Sekarang jam 12:40 siang dan aku belum mandi. Gatau pengen aja ngomong gitu.)
(PSSS: Minggu depan UTS dan aku malah ngeratapin TFIOS. Gak lucu. Anyway, doain yaaaa.)

9.20.2012

Iiiimajinasiii.



Pagi itu hari sekolah biasa. Aku udah berapa menit dateng, ngobrol-ngobrol bentar, terus duduk gak jelas di tempat dudukku yang paling belakang. Kemudian temen sebangkuku nongol terus duduk di sebelahku.

"Din, tadi kan waktu naik ojek ke sini aku berimajinasi dulu," katanya begitu.

"Berimajinasi gimana?"

Terus dia mulai mendongeng. Tapi karena aku nggak tahu apa-apa soal jejepangan dan punya daya ingat pendek (bahasa keren untuk pikun), jadi versi pendeknya:

"Jadi ceritanya aku sekolah di Jepang. Terus aku mau perkenalan. Ada bahasa Jepang perkenalan buat cewek sama cowok, tapi aku ga sengaja pake bahasa Jepang yang cowok. Terus satu kelas diem ngeliatin aku semua. Terus aku mau jalan ke tempat dudukku, tapi kesandung bangku."

"Waktu istirahat, aku mau pergi ke kantin. Dan semua orang ngeliatin aku! Ternyata aku udah terkenal sebagai orang aneh disana. Akhirnya aku makan di atap aja, tempat perlindungan paling aman. Din, lima belas menit aja aku udah bisa bikin jalan cerita sampe segitu."

Aku cuma bisa ngakak. Karena kemungkinan terbesar itu yang bakal terjadi kalau dia sekolah di Jepang.

Temenku itu emang pribadi yang unik. Dia terobsesi banget sama anime dan manga, dan hal-hal Jepang lainnya. Kalo dari luar sih mungkin emang kelihatannya dia "aneh", karena suka fangirling sendiri tiba-tiba, tapi jangan ketipu karena dibalik dirinya yang aneh, cara pikirnya beda dari yang lain. Selalu kritis dan bisa berpikir dalam. Kadang-kadang kita lagi ngobrolin apa, dan spontan dia ngomong sesuatu yang quotable banget. Misalnya, "Setiap manusia itu pintar. Tapi setiap manusia juga bodoh. Tergantung mana yang mau diperbesar, bodohnya atau pintarnya."

Tapi imajinasi itu bikin aku jadi mikir. Karena udah lama aku nggak berimajinasi lagi, kecuali berimajinasi tentang hal-hal gaje dan memalukan yang pastinya ga bakal aku tulis disini. 

Dulu aku sering banget berimajinasi. Kemaren waktu aku pindah kamar, aku beres-beres buku tulis-buku tulis gaje yang berantakan, terus aku baca dan ternyata banyak cerpen-cerpen gak jelas yang aku bikin waktu aku masih kecil. Cerpen-cerpen itu lumayan keren sih. Sebenernya gak jauh beda sama kumpulan cerpen di KKPK, makanya aku pikir kenapa dulu ga pernah diterbitin, ya? Aku ngelanjutin baca, dan ternyata dari semua cerpen itu belum ada yang selesai sama sekali. Huahaha. Ternyata aku udah procrastinator dari dulu ya.

Karena imajinasi itulah yang bikin kita tetap hidup, tetap bernafas, dan terhibur. Mungkin dunia ini ngebosenin, mungkin kita capek hidup di rutinitas yang gitu-gitu doang. Sedikit plot twist di hari-hari kita bisa aja membuatnya jadi lebih ajaib.

Tapi akhir-akhir ini aku jadi jarang berimajinasi. Kenapa ya? Mungkin karena kurikulum sekolah membatasi kita untuk jadi bebas. Mungkin karena aku bersekolah setiap hari, aku jadi terbiasa berpikir kaku seperti apa yang dibiasakan oleh sekolah umum. Aku kurang suka sama kurikulum sekolah yang sekarang, yang lebih mementingkan nilai dan pencitraan sekolah daripada apakah cara mendidiknya udah bener atau belum. Well, itu cuma pandanganku doang, atau mungkin cuma sekolahku doang yang gitu haha. Meskipun sekolahku sebenernya bagus dan aku mestinya bersyukur.

Daaan btw! Aku kangen banget nulis disini. Karena mungkin aku sibuk sekolah dan melakukan hal-hal gaje lainnya, dan aku nulis blog tergantung mood-moodan dan inspirasi. Dan siapa juga yang nungguin aku nulis blog, perasaan blog aku sepi-sepi aja :) tapi gapapalah. 

Ohiya hari ini pilkada Jakarta ya? Selamat mencoblos, kawan-kawan! Semoga ga salah pilih yaa. Semoga Jakarta bisa lebih baik dari hari ini, semoga Jakarta ga macet lagi, semoga gubernur yang baru bisa mengurangi kemiskinan di Jakarta amiin. :D

9.02.2012

Celoteh si Jingga - Review!

Beberapa minggu yang lalu, waktu masih libur puasa, time turner mana time turner Om Rico ngedatengin aku terus bilang "Din, baca deh bukunya bagus." Om Rico nyodorin sebuah buku ke aku. Aku oh-oh aja karena masih ribet sama lontongnya, tapi lama-lama aku penasaran juga.

Celoteh si Jingga oleh Ivy Londa. notice my new room though.

Buku ini isinya curcolan kak Ivy Londa, tapi curcolnya produktif. Disini dia menceritakan kepeduliannya tentang masyarakat dan lingkungan, perjalanan mencari Tuhan jadi figuran di PPT yaa? hal-hal tentang keluarga yang aku ga pernah perhatiin, dan tentang mimpi dan idealisme. Beberapa emang lumayan pribadi, tapi tetep menginspirasi.

Buku ini banyak ngebahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang ga kejawab di kepalaku. Tentang nasib negara ini. Tentang orang-orang di sekitar kita. Tentang perasaan dan hidup yang emang sepele, tapi bikin penasaran terus-terusan. Setelah ngebaca buku ini, pertanyaan-pertanyaan itu masih nggak kejawab. Mungkin kita bakal menemukan diri kita tiduran di kasur, menatap langit-langit kamar, berusaha mencerna isi buku tadi.

Ada beberapa buku yang begitu halaman terakhir ditutup, ceritanya selesai. Kita cuma bisa mikir "wah seru banget ceritanya" atau mungkin malah "anjir buku apaan tuh. untung buku pinjeman." (pengalaman pribadi). Tapi gak dengan buku ini. Setelah selesai ngebaca, aku masih sedikit ga ngerti dan berusaha mendiskusikan isi buku itu di kepalaku. Tapi itu cuma menimbulkan pertanyaan baru, yang masing-masing akan menimbulkan pertanyaan baru, yang akan terus beranak pinak kayak kucing tetangga. Yang penting buku ini ngebikin kita berpikir dan menjadi kreatif. Begitu paham, aku ngerasa terinspirasi banget. Kaya brainfreeze gitu. Tiba-tiba wuzzz ada sesuatu yang nyerang otakku terus aku ngerasa pengen nulis, pengen melakukan sesuatu untuk bangsa, pengen lari-lari di lapangan, pengen nyanyi di kamar mandi, atau nulis racauan nggak jelas ini.

Ada bagian-bagian dimana aku ngerasa jleb juga sih. Kadang-kadang aku ngerasa berbeda sama temen-temen sekelasku. Pernah lain waktu lagi, aku ngerasa capek dan bosen menghidupi rutinitas yang sama terus-menerus. Atau karena harus selalu memakai topeng, yang cuma sesekali bisa dibuka di hadapan temen-temenku yang sebenarnya karena kebanyakan orang nggak bisa menerimaku ketika mereka menatap wajahku yang sebenarnya.

Bisa nggak sih ada sesuatu yang heboh sesekali di hidupku? Lalu aku berhenti berharap sebelum keinginanku jadi nyata. Pertama, karena aku inget di film Tokyo Magnitude, si tokoh utama juga berharap kayak gitu, detik kemudian Tokyo langsung diguncang gempa. Kedua, karena ngebaca bab Kromatik, yang bikin aku pengen ketawa sendiri entah kenapa, "Hahaha, ini gue banget!"

Hidup bukan tentang membuat matahari terbit di barat, tapi ini tentang menceritakan sebuah keajaiban pada matahari yang terbit dari timur. Bukan memaksa matahari untuk merangkak terbalik, tetapi bagaimana kau menceritakan tentang kisah mentari yang terbit dari timur dengan caramu sendiri, sehingga orang-orang berhenti dan mendengarkan kisahmu.

Kayak Kak Dea dan Salamatahari yang pernah aku tulis disini (kecuali Kak Dea tulisannya lebih imajinatif dan ceria, Coretan si Jingga lebih filosofis), semuanya balik lagi ke hal-hal kecil yang sering kali nggak kelihatan sama mata kita. Melihat aja ga cukup sebenarnya, kita harus bener-bener merhatiin sampe otak kita dipenuhi suara "KENAPA? KENAPA? KENAPA?" yang berulang-ulang kaya alarm rusak. Terus kita bakal jadi resah dan menulis untuk menyelidikinya. Atau cuma sekadar pengen cerita doang.

Tapi kayaknya aku masih belom punya mata yang memerhatikan sekeliling, atau otak yang cukup aktif untuk terus-terusan bertanya kenapa. Ngejaga barang-barang sendiri aja masih susah. Botol minumku yang Rubbermaid hilaaaaang. Buku Luna-ku juga. Mukenaku juga, tapi udah ketemu lagi di lemari sapu kelas. Oke malah curcol.

Yang aku kagum dari Kak Ivy/Jingga, karena kakak itu berani. Berani karena benar. Ikut berdemo Aksi untuk Iklim di HI. Keluar dari SMA karena nggak mau menghafalkan kalimat-kalimat yang cuma gitu doang--bukan belajar beneran. Berani menyuarakan pendapatnya di antara temen-temennya, meski artinya berbeda sendiri. Berani mengemukakan pendapatnya. Dan berani bermimpi! Dan semoga mimpinya bisa terwujud.

Dadah :D

HA MIN EMPAT KAWAN KAWAN INGAT HA MIN EMPAT

7.17.2012

Review: The Illustrated Mum. and the society.

Beberapa minggu lalu aku dikasih tumpukan buku-buku Jacqueline Wilson dan Lizzie McGuire dari Kak Sekar. Kenapa? Karena udah ga dibaca lagi. Yaampun. Kebetulan banget aku lagi butuh buku bacaan.

MAKASIH KAK SEKAR <3


Aku baru baca beberapa buku tapiiii aku paling suka The Illustrated Mum.


"OK, so I'm a freak," said Marigold shakily. "I don't care. I don't have to conform to your narrow view of society, Star. I've always lived my life on the ouside edge."

Dolphin dan Star punya ibu yang unik banget, namanya Marigold. Rambutnya merah menyala, badannya dipenuhi tato yang banyak banget, dan imajinasinya hebat. Dia bisa membuat apapun jadi nyata. Dia nggak pernah peduli dengan pandangan masyarakat dan selalu berusaha jadi beda. Tapi dia ngga selalu jadi ibu yang hebat sih. Kadang-kadang Marigold ngehabisin duit bulanannya dalam sehari buat beli barang-barang gapenting, dan beberapa hari kemudian mereka jadi susah uang banget. TV dan telepon mereka sampe disita karena berbulan-bulan ga bayar tagihan. Kadang-kadang dia ngilang seharian dan muncul lagi dalam keadaan mabok. Tapi Dolphin seneng banget sama ibunya, kadang dia ngga peduli kalo dia ga punya ayah.

Terus hal-hal berubah, karena bapaknya Star sama sekali ga tau kalau dia punya anak, tiba-tiba muncul, dan ngebawa Star pergi. Marigold jadi depresi, sementara Dolphin bingung karena masalahnya banyak banget. Bisa nggak sih semuanya kembali kayak dulu?

Aku baru pernah baca buku Jacqueline Wilson sekali, yang Double Act. Ceritanya bagus sih. Dulu kukira buku-buku Jacqueline Wilson... yaa gitu-gitu aja. Tapi aku iseng baca buku yang ini dan ternyata nggak.

Buku-bukunya Jacqueline Wilson sering mengangkat tema perceraian, kematian, dan anak-anak panti asuhan. Dan ajaibnya dia bisa mengangkat tema-tema yang berat dan sangat dewasa itu jadi gampang dimengerti anak-anak. Tapi emang sih buku yang ini agak-agak lebih 'gelap' daripada buku yang lain, dan jauh lebih rumit. Kira-kira buat umur 11+ deh.

Yang aku suka dari buku ini, buku ini nyeritain tentang masyarakat kejam yang penuh penilaian. Cuma gara-gara Marigold bertato banyak dan berkelakuan nggak kayak orang biasa, dia selalu dianggap negatif oleh orang lain. Star yang berubah jadi normal hanya supaya dia disukai orang lain dan punya temen. Dolphin yang dibully sama temen-temennya cuma karena cara berpakaian dan ngomongnya nggak sama dengan anak-anak yang lain. Kadang-kadang kita pengen jadi apa adanya dan ngomong dengan gampang sama dunia dan masyarakat "ini loh diri gue". Tapi ga segampang itu, kadang-kadang mungkin lo akan dibalas dengan tatapan mencela dari mereka. I told you, society sucks. 

"Society sucks. It’s a damned if you do, damned if you don’t kind of situation. I’m not allowed to be fat, but I’m not allowed to go on a diet either (or keep a food diary, for that matter). I’m not allowed to be dumb, but I’m not allowed to be smarter than a boy. I’m not allowed to do drugs or drink, but I’m considered boring if I don’t. I’m supposed to be an empowered woman, but if I ask for respect dudes will just call me an annoying bitch. Heck, if I wait to have sex I’m labeled a prude, but if I lost my virginity today there would be a lot of people thinking that slut." - THIS article by Lexi Harder.

Aku suka banget karakter Marigold yang kompleks. Dia pengen beda dari masyarakat yang lain, ya itu bagus dan unik. Tapi lalu masa kecilnya kurang bahagia dan itu mempengaruhi dia yang setelah dewasa jadi manic depressive, dan lari ke gaya hidup nggak sehat lalu dia jadi bipolar dan suka mabok-mabokan dan akhirnya hamil di luar nikah dua kali. Sinetron banget iya kan. Tapi dia sayang banget sama Star dan Dolphin, dia bisa ngebikin cerita apapun yang dia ceritain jadi nyata, dan kalo mereka minta apapun pasti dibeliin, jadi dia ga bisa dibilang antagonis juga. Tapi kalo lagi depresi banget dia bisa menelantarkan anaknya. Sinetron banget gasih. Tapi menarik. Dan mungkin itu kenapa banyak orang yang suka sinetron. Tapi sesinetron-sinetronnya Marigold ga senorak Cinta Fitri juga kali yaaa.

Terakhir, sudut pandangnya orang pertama dari cewek kelas 3 atau 4 SD (entahlah aku terlalu males baca lagi) yang masih polos. Di matanya, Marigold-lah yang terbaik. Aku ngebayanginnya Marigold lagi berdiri dengan pose 'menatap ke masa depan' dengan mata berbinar-binar dan rambut ketiup angin. Dengan Marigold yang keren sebagai idolanya, dia jadi berbeda dan keren dan seterusnya, paling ngga menurutku dia keren. Tapi dia dibully sama anak-anak di sekolahnya. Anak yang berbeda selalu dibully. Aku sedih ngebacanya. Ya, maksudku kenapa mereka harus sejahat itu, sih? Iya sih mereka masih anak-anak dan mereka nggak ngerti apa yang mereka lakukan, waktu udah gede mereka bakal ngeliat kembali ke masa kecilnya dan merasa diri mereka jahat banget. Artinya sejak kecil pandangan mereka udah dibentuk sama masyarakat bahwa "baju yang bener itu begini" "kalau dia ga pake baju model kaya gini artinya dia aneh" "orang yang pake kacamata itu aneh dan kutu buku". Dan seterusnya. Menurutku itu menyedihkan banget.

Kalau aku punya anak aku ngga mau pandangan anakku terbatas sama pandangan yang diseragamkan oleh masyarakat. Tapi aku juga ga mau jadi ibu yang bikin anaknya punya mkkb dan ujung-ujungnya jadi manic depressive kaya Marigold.

7.16.2012

You know what’s sad about reading books? It’s that you fall in love with the characters. They grow on you. And as you read, you start to feel what they feel - all of them - you become them. And when you’re done, you’re never the same. Sure you’re still you, you look the same, talk in the same manner, but something in you has changed. Something in the way you think, the way you choose, sometimes, even the things you say may differ. But it all comes down to the state you go to after a nice novel. The after-feeling. It’s amazing, but somehow, you feel left alone by that world you were once in. It’s overwhelming. But it makes you sad. Cause for once you were this, this otherworldly being in… Neverwhere, and then you suddenly have to say goodbye after a few weeks from when you read the last page. When you’ve recovered from that state it’s just… quite sad. -Suzanne Collins

7.12.2012

The Amazing Spiderman Review, and a long rant about Stonefield.

Yeaaah akhirnya nonton Spider-Man juga! Tadi nonton bareng Sasha, Celia sama Vicky di Plangi. Emang agak telat sih, tapi belom juga ah. Sebel juga dari kemaren di Tumblr banyak gif sama fotonya dan banyak spoiler juga. Dan pada saat gue baru nonton, ababil-ababil udah mulai mengambil putaran kedua.



Peter menemukan rumus rekayasa genetik yang ditemukan ayahnya, ilmuwan Oscorp yang  menghilang tanpa jejak bersama ibunya waktu dia masih kecil. Rumus itu membawanya ke Dr. Connors, mantan partner ayahnya. Tapi percobaannya nggak berjalan lancar, malah mengubah Dr Connors jadi The Lizard. And once again the day is saved thank you for Powerpuff Girls terererengtengteng Spider-Man. Tapi menyelamatkan hari (?) itu ga gampang, karena polisi menganggap Spider-Man itu ngerecokin, sementara pacarnya Peter, Gwen Stacy, itu anaknya kepala polisi. Nahloh.

Yang paling ditunggu-tunggu aku sebagai penonton sebenernya kisah masa lalunya Spiderman. Karena dari film-film sebelumnya aku suka bertanya-tanya, "emang kemana bapak ibunya?" Untuk orang-orang yang males ngebaca Spiderman versi komik-nya Marvel seperti saya, pas banget film ini dihadirkan.

Dan jujur aja kayaknya aku ga ngebet-ngebet amat pengen nonton TASM kalo Peter Parker-nya bukan Andrew Garfield. Seriusan. Tapi gue bukan ababil-ababil yang sekali nonton TASM terus ngepens yang musiman gitu. Di Social Network waktu dia jadi Eduardo Saverin ituuu adlafkjdlafkdfj. Tapi kenapa di TASM dan Social Network dia sama-sama nulis rumus-rumus algoritma itu... entah kebetulan atau apa. Kayaknya dia emang pinter dari sananya.



IYA KAAN DEJAVU BANGET

Andrew Garfield as Eduardo Saverin

Tapi di Ellen Andrew pernah bilang dibalik kostum spiderman dia ga pake apa-apa lagi looh. *ketawa mesum*


Stonefield (Emma Stone X Andrew Garfield) juga termasuk yang ditunggu-tunggu penonton. Terutama ababil. Ini saya lagi. Sejak premierenya spiderman itu dashboardku dipenuhin Stonefield melulu. Di kehidupan nyata, mereka emang cute banget sih adlafjkdljkflajkdfk *makanin kuku jari* dan gimana Andrew itu puitis banget waktu ngomongin Emma, “She’s the sun, and she’s got such depth. She can do anything. She’s magic.” Pengen nangis banget ga sih kalo ada cowok yang bilang lo itu mataharinya? sayangnya itu bukan gue oke.


stonefield gif from tumblr. not mine.

Semoga ini bukan publicity stunt yah. Jangan sampe.

Dannn kembali ke filmnya. Pertamanya kukira Peter versi TASM itu terlalu... keren. Maksudku dia ga ada tampang cupu sama sekali, dan sebelumnya dia ga pake kacamata tapi contact lens. Dan dia main skateboard yaampun. Banyak yang gasuka versi ini. Tapi menurutku sih itu bagus juga. Menurut review yang aku baca sih (entah di mana ya lupa) Peter Parker-nya Andrew lebih dekat sama versi komik. Menurutku juga mendingan versi yang ini. Karena ga semua orang yang pinter dan penyendiri itu culun, ngebosenin, dan ga menarik. Menurutku si Peter Parker TASM sebenernya keren dan asyik, tapi mungkin dia agak penyendiri dan awkward untuk bisa fit in sama temen-temennya.

Gwen Stacy
Banyak yang ngebandingin aktingnya Andrew Garfield vs Tobey Maguire. Ya kataku sih akting mereka emang beda dan ga bisa dibandingin. Kalo yang versi Tobey Peter-nya lebih pendiam dan perannya stereotipe culun banget. Sementara Andrew membawa karakter Peter jadi lebih luas lagi.

Selain perang Andrew vs Tobey Maguire, juga ada MJ vs Gwen Stacy. Menurutku mereka ga bisa dibandingin juga sih, secara karakter beda kan. Lagi-lagi kata review (aku baca banyak review karena aku agak bingung pengen nulis apa), Gwen Stacy versi film dan komik agak beda. Tetep sih dia pinter, cantik, berani, mandiri, dkk dkk. Tapi kan Gwen magang di Oscorp juga terus ketemu Peter di sana. Dia ikutan magang karena dia suka sains, dan diceritakan dia selalu juara satu di kelas. Kalo dia suka sains, seharusnya Gwen ngobrol asyik sama Peter tentang sains. Sementara di film keliatannya Gwen ga begitu berperan, meskipun akhirnya dia yang ngebantuin Peter menyelamatkan New York (spoiler dikit gapapa ya). Dia ngobrol sama Peter kayak cuma buat flirting doang, cuma sekadar ceweknya Peter. Juga dia ga pernah ngambek. Pasti di tiap film ada kan adegan cewek ngambek sama cowoknya, sementara di sini Gwen ga pernah marah sama sekali. Dan nggak banyak yang bisa kita ketahui tentang Gwen dari filmnya, selain dia magang di Oscorp, cantik, pinter, baik, punya baju yang keren-keren, dan anaknya kepala polisi. Keliatannya Mary-Sue banget, padahal di komik sebenernya ngga. Takutnya sih film ini bisa bikin cowok-cowok ngarepin cewek sempurna kayak Gwen, padahal ngga ada kan. Bisa aja kejadian lho.

Dan yang kurang dari film ini menurut aku, hubungan antara Peter dan orangtuanya kurang dijelasin. Juga alur kejahatan vs kebaikan, hitam dan putih yang terlalu klise dan ketebak banget. Aku berharap ada plot twist sedikit atau kejutan apa kek supaya agak seru. Tapi secara special effects, keren banget. Ada petunjuk-petunjuk kalo bakal ada sekuelnya dan HARUS ADA SEKUELNYA. Semoga bisa dilengkapin di film selanjutnya.

Belom nonton? Tunggu apalagiiii. Kalo yang udah nonton, ayo nonton lagi. Sekalian bayarin gue biar kita bisa mengagumi kegantengan Andrew Garfield bareng-bareng. #sesat

7.04.2012

Catching Fire: Pandora's Review :D

Aku nggak bisa berhenti baca Catching Fire. Kadang-kadang susah untuk menyelipkan pembatas buku ke halaman terakhir dan berpaling terus bilang sama diri sendiri UDAHAN DINI UDAHAN BESOK LANJUTIN. Kayak nggak ada hari esok aja. Wkwk.

“We had to save you because you're the mockingjay, Katniss. While you live, the revolution lives.”

Ceritanya mengambil setting beberapa bulan pasca Hunger Games. Sebagai victor, mereka dapat rumah bagus dan uang yang banyak, di tengah-tengah kemiskinan Distrik 12. Persahabatannya sama Gale nggak pernah sama lagi sejak Peeta menyatakan cintanya buat Katniss di depan seluruh penduduk Panem. Capitol seakan berusaha membuat The Hunger Games tetep segar di ingatan Katniss, dengan adanya Victory Tour.

Untuk pertama kalinya, ada dua pemenang di The Hunger Games, Katniss dan Peeta. Mungkin mereka dulunya sempet main figuran di Putri Yang Ditukar atau nggak tahu, tapi akting mereka sebagai pasangan yang jatuh cinta itu bener-bener meyakinkan penduduk Panem, kecuali President Snow. Seneca Crane si gamemaker yang lama dibunuh, dan dia mengancam bakal melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang mereka sayang, kalau Katniss dan Peeta nggak bisa meyakinkan penduduk Panem di Victory Tour. 

Tapi, distrik-distrik yang capek dijajah Capitol sejak lama melihat Katniss sebagai peluang melakukan aksi pemberontakan. Kira-kira bisa nggak Katniss menyelamatkan pemberontakan sekaligus orang-orang yang dia cintai?


Kenapa garis-garis lingkaran itu bentuknya kayak jam? Baca sendiri. Hehehe.

Fanmade poster. Nemu di google. Not mine.


sorry for the shitty description.

Sebenernya bukan cuma itu doang sinopsis dari gue tapi nanti spoiler parah huahaha

Dan endingnya ngegantung banget. I need Mockingjay nooooow sdjfhakldfhalh.

Setelah ngebaca buku ini, menurutku ini lebih seru daripada buku pertamanya. The Hunger Games itu baru pemanasan kalo dibandingin dengan Catching Fire (belom aja Mockingjay dan aku udah tau spoilernya duluan huahaha). Suzanne Collins sekali lagi berhasil menghadirkan berbagai macam penderitaan dan rasa sakit yang nyata banget. Menyiksa karakternya, atau bikin death scene yang ngga terlupakan banget (Rue's death scene). Kadang-kadang kupikir dia sebenernya psikopat terselubung. Ga segitunya juga sih.

Atmosfernya juga beda banget. Kalo di buku pertama itu kayak "Katniss harus menang! Go Katniss go Katniss go!!" atau menyelamatkan diri di hutan. Yah oke di buku ini ada bagian yang kayak gitu. Tapi selebihnya kalau kamu baca buku ini, hal pertama yang bakal kamu rasain adalah ketakutan. Katniss udah terang-terangan diancam Snow kayak gitu. Takut kalo keluarga Katniss akan dibunuh, takut kalo Peeta akan dibunuh, takut distrik 12 akan dimusnahkan. Takut semua orang harus menerima akibat dari percikan api pemberontakan yang diciptakan Katniss. Dan ada semangat pemberontakan juga. Kayak perasaan deg-degan kalo lo mau madol. Rules are meant to be broken. Kadang-kadang ada perasaan menyenangkan kalau kita berhasil melanggar aturan terus ngga ketangkep.

Baca buku ini bikin aku tambah bersyukur sama diri sendiri. Aku mungkin nggak sekaya Katniss dan Peeta, yang baru menang Games dan dikasih harta berlimpah, tapi juga nggak semiskin penduduk Distrik 12 dan 11. Meskipun Katniss udah kaya, dia masih suka berbagi bahan makanan dan uang sama tetangganya, dan tetep bersikap down to earth sama orang-orang yang kenal sama dia. Itu yang menurutku keren banget, maksudku dia nggak cuma tough secara fisik aja, tapi juga ramah, meskipun nggak Mary Sue-Mary Sue amat.

Ceritanya juga mirip kayak Harry Potter and the Order Of Phoenix. Cuma kalo di OOTP pemberontakannya terhadap Kementerian. Keliatannya juga pemberontakan Harry Potter 'ceria' banget, kalo di CF boro-boro sempet main kembang api. Aku juga baca OOTP bahagia banget, pas nonton filmnya juga musiknya ceria. Gaada mencekam-mencekamnya sama sekali. kecuali pas Sirius mati itu nangis darah banget.

Filmnya keluar tahun 2013. Tapi fandomnya The Hunger Games itu emang paling rewel soal milih casts. Finnick Odair, tribute dari district 4 yang gantengnya sangat nggak mungkin. Masih gosip, tapi katanya Robert Pattinson, Grant Gustin, atau Zac Efron diseleksi untuk memerankan si Finnick. Menurutku Robert sama Grant ga cocok, soalnya kulitnya Finnick cokelat. Zac Efron bisa sih, cuma ga kebayang aja. Tapi ujung-ujungnya jatoh ke akting juga. Aku ga punya bayangan sama sekali siapa yang cocok jadi Finnick.

Sementara yang jadi Johanna Mason? Tribute dari district 7 ini menang dengan pura-pura lemah. Padahal dia badass banget. Dan nekat juga. Menurutku yang paling cocok jadi Johanna itu Naya Rivera. Dia pernah bilang pengen jadi Johanna Mason. Johanna mirip banget sama Santana di Glee dengan sarkasmenya, kayak gitulah aku ngebayanginnya. Ada juga yang bilang Mia Wasikowska ikutan audisi juga. Tapi akhirnya Jena Malone juga yang dipilih. Katanya dia main Sucker Punch tapi aku gatau filmnya yang mana. Banyak yang gasuka sama Jena Malone jadi Johanna, tapi liat aja Jennifer Lawrence. Pertama dia jadi Katniss banyak orang yang bilang aktingnya dia ga bagus tapi begitu filmnya keluar, orang-orang langsung ngefans sama dia.

Dan sisanya aku juga ga punya bayangan sama sekali. Emang dasar ngga punya imajinasi sih. Kalo lagi baca buku, muka orang-orang yang belom dicast ini kebayang dalam bentuk kartun atau ngeblur nggak jelas. Sisanya diserahkan sama orang-orang Lionsgate aja deh. Awas ya om, fans THG gahar-gahar.

Beteweh, temenin gue nonton pacar gue di bioskop yuk~



ganyambung
gimana kalo Andrew aja yang jadi Finnick Odair
cewek macam apa gue ngebiarin pacarnya selingkuh sama Emma Stone
tapi emang muka gue aib sih dibandingin Emma Stone
it's not all about the looks, bro

6.24.2012

Brave: Pandora's review :D

Udah lama ga ke bioskop yaah~ *cium lantai*

Nggak seperti agenda biasanya yang tiap Jumat biasanya pulang sekolah aku kabur ke rumah Vira. Hari ini nonton Brave di PS. Yaayy. Hari pertama lagi, jadi ngereviewnya enak hahaha~



Oke jadi alkisah suatu hari di negeri nun jauh disana............ ngga jauh-jauh amat deng, di Skotlandia tetep jauh. Beda sama sosok putri yang lembut dan ngebosenin yang biasa banget. Merida adalah putri yang sangat badass dan hobi memanah dan berkuda. Setiap hari dia diatur-atur melulu sama ibunya yang kolot supaya menjadi princess yang sempurna. Apalah apalah bagian ini begitu ngebosenin, aku nggak mau ngelanjutin lagi. Ayahnya yang lebih bebas dan lucu banget biasanya jadi partner in crime-nya Merida, kadang-kadang ngebolehin dia melakukan apa yang dilarang ibunya (meskipun ujung-ujungnya suami-suami takut istri juga sih).

Keluarga bahagia
Tapi kenapa ibunya rambutnya brunette sendiri??
Terus yang lainnya anak siapa??

Sesuai tradisi kuno yang terkutuk itu, ketika Merida sudah cukup umur, ketiga suku dalam kerajaan tersebut mengirimkan wakil masing-masing untuk bertanding dalam perlombaan untuk bertunangan dengannya. Dia nggak setuju banget. Pertama, dia masih pengen menikmati kebebasan dan nggak mau menikah cepet-cepet. Kedua, emang ada gitu yang mau dijadiin barang taruhan? Aku juga nggak mau sih. Terus dia berantem sengit sama ibunya dan kabur ke hutan.

Disana, tanpa sengaja Merida ketemu dengan nenek sihir. Dia minta Nenek Sihir itu memberinya mantra untuk mengubah ibunya, dan mengubah masa depannya.

Masa depannya bakal berubah, tapi ibunya berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Dan Merida harus menyelamatkan ibunya sendirian.

Untuk selanjutnya terpaksa kalian harus nonton sendiri. Aku gamau bocorin karena nanti pada ngomel. Dan kalian emang wajib nonton sendiri! Kalo nggak nonton di bioskop, minimal beli bajakannya di Glodok deh. Kalo lo bener-bener sebokek itu, nonton di Movie2k juga ngga apa-apa. Meskipun efeknya ga bakal sama sih...

Since Friday, Merida has officially became my favorite Disney Princess.

Kenapa?

Soalnya princesses tipe Mary Sue kayaknya sekarang udah kurang disukai. Cantiknya berlebihan, kelakuan perfect, dan kadang-kadang mereka cuma nunggu Pangeran datang sambil bersih-bersih rumah. Sekarang itu udah emansipasi wanita, malahan mestinya putrinya yang ngedatengin pangeran. Lagian mana ada sih orang yang seperfect itu, nggak nyata banget.



Yang aku suka dari Merida, dia betah ngejomblo dan menolak ide pertunangan itu artinya kita kaum jomblo ada yang membela. Eh salah. Dia begitu keras kepala, liar, bebas, dan manis sekaligus, itu bikin aku jatuh cinta banget sama karakter ini. Keliatannya dia emang mandiri banget tapi di beberapa waktu juga menunjukkan kerapuhannya sebagai remaja. Kadang berani, tapi bisa juga ketakutan. Karakter Merida itu manusiawi dan cocok banget sama kehidupan remaja jaman sekarang meskipun setting ceritanya beda.

Dan rambutnya yaampun rambutnyaaaa. Aku mau punya rambut kaya gitu tapi kayaknya ga bakal seimbang sama muka.



Pesan sponsor

Kalo ceritanya sendiri sih bagus dan seperti Pixar biasanya, lawak banget, tapi sekalinya scene sedih satu bioskop banjir. Dan menegangkan juga. Cuma aku atau rasanya efek 3D-nya kurang maksimal ya? Alur ceritanya juga agak-agak klise, terlalu 'aman'. Aku sedikit ngarep dapet ending yang nggak terlalu hepi tapi itu nggak mungkin. Selebihnya sih keren banget. Nonton yaa?

PS: Now reading - Catching Fire!! Ditunggu aja reviewnya (meskipun gabakal ada yang nungguin juga sih)

sumber dan nyolong dari mbah gugel.

6.22.2012

The Art of Stalking.


HOREEE ULANGAN UDAH SELESAIIIII ALAJKLFAIJLADJIF AKU BEBAAAASSS






Nilai-nilai udah keluar. Bukannya mestinya panik yah? Bodoamatlah. Yang penting bebas.

Dari kemaren aku tuh udah pengen banget abis selesai ulangan, lari pulang, buka leppi, terus nulis berjam-jam sampe malem. Dan yang ada begitu aku buka laptop, Ilma lari buat menghias-hias rambutku (dia udah keracunan nonton video Youtube yang CuteGirlsHairstyles setiap hari maenannya rambut) dan karena ngga enak nulis diliatin orang, akhirnya aku buka Twitter, pindah ke Tumblr, dan nemu blog untuk distalk. Begitu Ilma udah pergi, udah gamood nulis lagi. Procrastination ruleeess.

Buat kalian yang bertanya-tanya stalking itu apa (mungkin udah pada tau semua jadi sebenernya aku cuma ngomong sendiri sih, dan lagian gaada yang mau tau), kira-kira sama kayak 'ngepoin' gitu deh. Dalam istilah temen-temenku sehari-hari, 'stalking' dalam bahasa mereka itu lebih ke ngepoin pacar atau mantan, abis itu galau sendiri ngeliatan pacar mereka mention-mentionan ke cewek lain padahal pacar sendiri nggak dibales mentionnya. Kok jadi ngelantur gini sih. Tapi aku bukan makhluk galau macam itu cibob. Stalking-ku lebih bermutu. Ngestalk twitter masih jaman? Aku ngestalk blog orang random aja. Yang isinya curhatan berkualitas. Tapi itu keren banget, gimana kita bisa mengenali si orang itu hanya dengan ngebaca blog dia, mungkin lebih daripada temen sekelas dia yang nggak baca blognya. Tanpa sadar, dengan menulis entri gaje di blog mereka, orang udah menciptakan suatu bentuk seni. Sebuah jalan pintas menuju diri mereka masing-masing.

Ngomong-ngomong, blog yang kustalk itu nggak terlalu panjang juga sih. Setengah jam stalking juga udah mencapai ujung halaman. Jarang diupdate sih. Mungkin pertamanya dia exchange di Jerman terus beberapa tahun kemudian kerja lagi di Jerman--aku ga ngerti soalnya blognya ga rutin diupdate. Dia juga suka backpacking ke negara-negara Eropa sekitar Jerman, iyasih karena bisa naik kereta, di Eropa backpacking kesannya gampang banget ya. 

Dari pengalamannya, keliatan banget kayaknya perbedaan budaya Indonesia dan Jerman. Beda dengan Indonesia yang lemah hukum, hukum di Jerman itu ketat banget. Kalo mereka udah mau nuntut perkara apalah, itu beneran dituntut. Sehari-harinya mereka tepat waktu dan disiplin. Dari luarnya sih keliatan jutek tapi kalo udah kenal, mereka bisa jadi ramah banget.

Terus ada blog lain yang pernah kustalk, Tumblr-nya anak Bandung. Dia mendefinisikan dirinya sebagai antisosial dan gasuka bergaul gitudeh pokoknya. I'm kind of like that in some ways. Kalo aku nggak merasa akrab sama seseorang biasanya aku agak menutup diri (bener ga sih?). Introverts biasanya punya cara pikir yang berbeda, mungkin itu karena kita punya lebih banyak waktu merenung dan bengong dibandingkan bersosialisasi. Dan aku mengagumi banget pemikiran-pemikirannya yang sederhana, tapi dalem. Sedikit radikal juga sih, jadi suka banyak yang ngekritik.

Lalu dia ikut exchange ke Prancis. Ya aku awalnya tau dia dari blog exchange student yang lain, begitu aku tau dia exchange juga aku langsung nge-scroll archive-nya sedalem-dalemnya untuk ngepoin postingannya dia tapi ternyata keterusan hahaha. Dannnn sirik to the max. Prancis itu indah banget. Dia dapet temen-temen  dari berbagai negara yang seru-seru, host family yang baik. Ngaku aja, kita semua pasti pernah mikir kalau rutinitas kita itu ngebosenin dan pengen melihat dunia.

Katanya pelajaran Matematika di Prancis gampang-gampang loh.

Dan menurutnya, orang Prancis itu kadang suka ngeribetin segala hal. Aku gapernah kepikiran begitu sih.

Tapi yang menyenangkan itu melihat dia tumbuh dari seorang yang antisosial dan tertutup menjadi seseorang yang... senang bergaul, sosial banget lah pokoknya. Meskipun aku bukan siapa-siapanya dia. Biarpun aku cuma seorang manusia ga jelas yang lagi duduk mengetik tulisan ini dan tanpa sengaja mengklik link blog orang lain.

Pendeknya, stalking adalah cara efektif untuk mengenal orang lain, mengetahui cerita dan pengalaman mereka. Mendingan kenalan langsung sih sama orangnya, tapi lewat random stalking kadang kita bisa dapet pelajaran sendiri. Kadang-kadang kupikir aku mendapat pengalaman lebih banyak dengan duduk satu jam di depan laptop dibanding tiga belas tahun menjalani hidup yang membosankan. HAHA nggak juga deng.

Tapi menurutku kamu belom bener-bener hidup kalo belom stalking. Cobain aja.

Meskipun aku yakin abis ini kalian semua bakal ngeblock aku supaya aku gabisa buka blog kalian.

6.14.2012

Perks trailer is out! (since a long time ago)



The trailer came out on MTV Movie Awards few weeks ago and aldfkajdflia the trailer is flawless.

Belom baca bukunya sih. Tapi mungkin akan segera.

Katanya bukunya bagus tapi emang sedikit lebih gelap daripada trailernya. Kalo di trailernya yang ditunjukin cuma komedi dan party-party aja. 

Pengen nonton cuma karena ada Emma-nya doang?

Lawl. Biarin.

Ada Logan juga sih.

American accent-nya Emma sempurna bangetttt 

Every second of the trailer is gif-worthy. 

Brb belajar bikin gif.

Eh aku beneran belajar bikin gif loh. Dapet notes banyak~ #salah

Aku jadi sering banget nonton trailernya dan quotes-quotesnya nempel banget di kepala.

Charlie: Do you like football?
Patrick: Love it.
Cheerleaders: Be aggressive!
Patrick: Passive agressive!

Itu yang paling nempel di kepala Ilma. Huahaha.

Sam: Why do I, and everyone I love pick people who treat us like we're nothing?
Charlie: We accept the love we think we deserve.

Patrick: Ladies and gentlement, I am below average.
Sam: BELOW AVERAGE!!! Hermione will be ashamed.

Charlie: I know there are people who say all these things don't happen. I know these will all be stories someday. But right now, we are alive. And in this moment, I swear we are infinite.

if your 8 year self met you today, would they be proud?

Umur 8 tahun itu kira-kira aku masih kelas 3 SD. Dulu aku alay banget. Jaman-jaman segitu, aku sama temen-temenku suka bikin-bikin geng gak jelas abis itu saling musuhan. Temenku ada yang ngaku punya ruangan yang bisa bersalju, aku percaya aja. Temenku bilang botol minumku ngelayang sendiri dari ruang kelas ke aula terus nyuruh aku nggak ngasih tau guru, aku percaya aja.

Dan jaman dulu itu aku paling sering dimusuhin sama temen-temen. Aneh emang. Aku suka dikatain ceking. Aku pernah ditinggal sendirian di perpustakaan, abis itu pintunya ditahan dari luar dan anak-anak pada ngelabrak aku rame-rame sampe aku nangis. Iya, waktu itu aku masih cengeng banget. 

(Masa-masa paling bejat emang. Buat kalian yang bikin saya nangis, karena dulu itu kita masih alay, jahiliyah, sesat, lugu, sekaligus bego, jadi nggak apa-apa. Yang lalu biarlah berlalu. :P)

Sekaligus, umur 8 tahun itu enak banget. Aku sama temen-temen jemputan suka main petualangan dan mata-mata keliling sekolah. Ngg alay sih tapi lupain deh. Dan di sekolahku yang dulu aku nggak dapet PR. Bayangkan, sodara-sodara. Malem-malem aku juga gapernah belajar buat besoknya. Jadi abis makan malem, aku biasanya nonton Naruto atau Cinta Fitri bareng Mbak Yheila. Dan pelajaran buat anak kelas tiga SD itu gampang banget. Bahkan aku gausah belajar juga bisa. Kalo lagi UAS, abis selesai ngerjain di pelajaran pertama, aku keluar main petak umpet bareng temen-temen. Padahal abis itu masih ada pelajaran lagi.

Umur 8 tahun aku masih punya banyak temen-temen di Sawangan Permai dulu, yang tiap abis pulang sekolah biasanya rumahku didatengin temen-temenku sambil teriak "DINI MAIN YOOK!!". Dulu aku punya perpustakaan seriusan, dan ada anak-anak dari blok yang jauh ngedatengin rumahku karena ngeliat spanduk yang kutempel di tiang listrik :')

Aku inget dulu kita main The Sims di rumah April atau Almas. Kadang-kadang pada ke rumahku main Feeding Frenzy, yang semakin naik levelnya, semakin kenceng kita jejeritan. Aku, April, sama Nisa bikin geng namanya Pinky Girls (iya, ini masa-masa sesat kan). Tarawih bareng-bareng. Dateng ke undangan-undangan pesta ulangtahun tetangga. Bikin mash potatoes boongan pake es krim vanilla yang ditaburi ayam goreng (dan sakit perut abis itu). Dan waktu itu aku pertama kali baca Harry Potter dan pertama kalinya aku memutuskan udah gede pengen jadi penulis besar kayak JK Rowling. Aduh kok jadi curcol ya~

Dan kembali lagi ke pertanyaan awal: If your 8 year self met you today, would they be proud?

Mungkin iya. Karena aku udah berevolusi dari monyet jadi orang. Dari makhluk yang tertindas jadi makhluk yang nggak begitu tertindas. Dulu aku sangat nggak nyaman jadi diri sendiri, selalu ngiri sama temen-temenku yang punya barang-barang lebih bagus, dan aku selalu berharap kalau suatu hari aku bakal bangun dengan keadaan yang lebih mendingan, dan kalau kehidupan asliku sebenernya cuma mimpi. Kurang galau apa coba. 

Sekarang aku mah woles. Kalo orang sebel sama aku, musuhin aku, yaa emang gue pikirin. Dan aku lebih milih jadi diri sendiri daripada ngikutin orang lain yang nggak jelas. Untuk pertama kalinya, di SMP temen-temenku nggak main musuh-musuhan kayak pas SD dulu (ini jelas pencapaian yang sangat besar).

Diriku enam tahun yang lalu pasti bangga karena bacaanku tambah banyak sekarang. Terus kealayanku udah berkurang dibanding 6 tahun lalu. Ditambah lagi sekarang aku bisa rumus phytagoras (?) oke gajelas.

Tapi mungkin juga dia nggak bangga. Soalnya aku sering tersedot ke black hole sesat bin misterius bernama Tumblr dan Twitter. Abisnya nggak tahan... Dan aku sering males belajar. Males bikin PR. Semester dua ini nilai-nilaiku pada jeblok. Seminggu lagi UKK ah sial gimana iniiii.

Bukan cuma males belajar doang, sodara-sodara. Nulis aja males. Segala-galanya ditunda-tunda. Aku sering telat ke sekolah akhir-akhir ini karena hapeku yang biasa jadi alarm rusak, tapi guruku pernah bilang kalo orang telat ke sekolah itu gara-gara beneran ga punya niat dateng ke sekolah. Dan kata Ibu aku nggak pernah merhatiin sekeliling dan kebanyakan bengong. Oh and I fangirl too much. Kuharap setiap kali aku melakukan hal-hal yang nggak diinginkan aku waktu umur 8 tahun, dia bakal datang naik mesin waktunya Doraemon dan nendang pantatku. Jadi aku punya batasan.

6.01.2012

Salamatahari! Review.



Aku selalu lupa pengen baca buku ini. Bapak pernah beli buku ini udah lama banget dan aku nggak tahu kemana. Sampai aku ketemu sama kak Dea, yang bikin buku ini, terus beberapa minggu kemudian dikirimin kartu pos sama Salamatahari 1 & 2. Yang... baru aku baca sekarang.

Kedua Salamatahari ini nyeritain tentang hal-hal kecil, remeh, dan sepele dalam hidup kita, dengan gaya cerita yang cuek. Misalnya sekadar ngeliat capung dan kupu-kupu, mungutin bungkus cokelat, atau brosur yang terbang-terbang di angkot. Mungkin kebanyakan orang nggak memerhatikan. Tapi sebenernya mereka menarik dan kadang-kadang penting. Dari situ kita bisa nemuin kebahagiaan dari hal-hal sederhana, yang bakal bikin kita bahagia terus kayak disinari Matahari-nya Kak Dea :)

Aku selalu kagum sama caranya Kak Dea ngelihat hal-hal kecil di sekitar kita, dan membuatnya jadi cerita lucu yang ajaib dan ngejleb banget. Kayak nggak ada batasan yang mengharuskan tulisan harus begini dan begitu. Di buku Dunia Adin juga, dia nulis dari sudut pandang anak umur 6 tahun. Kalo aku? Nggak jelas(?) Kalau aku merhatiin sekeliling, yang aku bisa liat cuma lukisan, kipas angin, sofa, meja bertaplak kotak-kotak. Apa yang mereka lakukan? Oke, mikir dulu. Imaaaajinasi *ngikutin gayanya Spongebob* Tiba-tiba Ibu teriak: "Dini, udah ngerjain PR belom? Jangan bengong lama-lama!"

Membaca Salamatahari kayak memberi jawaban buat pertanyaanku yang sok-sok galau itu: "Hidup itu buat apa sih?" "Untuk memaknai hal-hal kecil yang menyenangkan, yang bakal menuntun kita meraih hal-hal besar!"

Dan aku ngebayangin, pasti seru banget punya temen kayak Kak Dea. Mungkin dia akan berseru girang ngeliat sesuatu yang menarik. Meskipun sesuatu itu udah biasa kita lihat sehari-hari, mungkin jadi ajaib di mata Kak Dea. Kontras banget sama aku yang ngebosenin.

Kutipan-kutipan yang aku suka banget dari Salamatahari 1 & 2:

Jadi begini, teman-teman, pada suatu hari, ada cabe yang nggantung di pohon berdoa ke Tuhan, "Tuhan, sebelum diulek, boleh, nggak, aku tau rasanya terbang?" Tuhan terus mbuka laci-Nya, nyari persediaan sayap. "Cabe, aku masih punya sayap capung. Sebelum capungnya aku buat, kamu mau pinjem sayapnya?"

Balon-balon sabun itu keliatannya nggak perlu alesan untuk bahagia dan tetep idup. Justru sebaliknya, ketidakbahagiaan dan kematian yang perlu cari-cari alesan untuk menguasai mereka... =D

Gundul dan Dea cepet akrab. Dia patung yang pendiem, tapi menyenangkan. Kita adu liat-liatan dan Dea kalah, soalnya dia lebih kuat nggak ngedip. Tapi pas adu lama-lamaan duduk, dia langsung kalah, soalnya dia nggak punya pantat.

Hal terbaik kadang nggak kelihatan waktu sengaja dikejar. Dia dateng sendiri waktu kita nggak ngeharep apa-apa.

Kehilangan energi positif membuat apapun terasa terlalu berat untuk ditopang.

Mencuri kalimatnya Kak Dea,

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah :)

Kak Dea, aku, Ilma. Ketemu di Museum Gajah :)


Dunia Adin ditandatanganin Ka Dea :D

5.25.2012

rule #1 on writing.





Jangan pertanyakan apa yang kamu tulis. Biar jelek, biar aneh, atau gajelas. Inget-inget lagi kenapa kamu nulis pada awalnya. Apa yang ngedorong kamu menghidupkan cerita itu ke dalam lembaran kertas atau file di Microsoft Word. Kenang lagi perasaan ketika otakmu berhenti bekerja dalam sedetik karena mengalami serangan ide cerita. Paragraf-paragraf yang bikin kamu tersenyum dan menangis. 

Coba pikir lagi: Jadi kamu bakal lanjutin cerita itu? Atau ngebiarin dia terlantar begitu aja, nggak keurus?

Apapun yang kamu pilih, semoga itu jadi yang terbaik buat tulisanmu, dan tokoh-tokoh di dalamnya. Dan orang-orang yang berharap membaca tulisanmu yang baru. Dan kamu. :)

5.13.2012

Film lama paling keren: Dead Poets Society

Kehadiran HBO di rumah gue bener-bener suatu mukjizat. *orang gapernah punya TV* Kenapa? Karena gue suka nonton film dan channel TV semacam HBO nayanginnya film melulu. Jadi deh tuh movie marathon berjam-jam. Apalagi kalo hari libur. APALAGI kalo lagi libur panjang. Gak perlu ngeborong DVD bajakan ke Glodok lagi lah~

Jadi waktu itu aku nonton film Dead Poets Society. Pertama-tama di HBO tapi baru nyadar ternyata punya bajakannya juga yah... #GlodokNeverDies

No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world.


We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for. To quote from Whitman, "O me! O life!... of the questions of these recurring; of the endless trains of the faithless... of cities filled with the foolish; what good amid these, O me, O life?" Answer. That you are here - that life exists, and identity; that the powerful play goes on and you may contribute a verse. That the powerful play goes on and you may contribute a verse. What will your verse be?  -both from John Keating, Dead Poets Society

Satu kata tentang film itu: KEREN. Dua kata tentang film itu: KEREN BANGET.

Ada guru bahasa Inggris yang baru mengajar di Hellton Welton, dengan metode mengajar yang menarik banget. Namanya Mr. Keating. Orangnya suka bercanda dan nggak kaku banget. Misalnya, pada hari kedua mereka belajar, dia nyuruh anak-anaknya untuk merobek halaman Kata Pengantar. Iya, kayaknya diseluruh buku pelajaran bagian itulah yang paling nyampah. Aku yang lagi nonton langsung gigitin kuku. COBA ADA GURU KAYAK GITU DI SEKOLAH GUEEE

Todd Anderson dkk ngecek yearbook-nya Keating. Dia dulu anggota Dead Poets Society, organisasi rahasia dimana mereka semua duduk bareng-bareng dan membaca puisi. Akhirnya merekalah yang ngehidupin lagi perkumpulan itu.

Tapi konflik muncul ketika Neil main teater tanpa sepengetahuan bapaknya yang pengen dia jadi dokter. Knox galau abis-abisan gara-gara cewek yang dia taksir udah tunangan sama cowok lain. Todd nggak bisa bikin puisi. Charlie terancam dikeluarin dari sekolah karena organisasi mereka dikhianati. Tapi Dead Poets Society emang solid banget, saling mendukung meski ada masalah apapun. Terharu banget gasih nonton film ini.

Akibat nonton film itu... gue jadi males sekolah.

Iyalah! Di sekolah gue gurunya ada yang baek ada yang nggak *ohok* tapi ngga ada yang sebijaksana Keating. Dia tuh... gimana ya? Udah tau ngajar di Welton nggak enak karena sekolahnya ketat banget. Tapi dia tetep ngajar disana. Neil Perry (anggotanya DPS juga) pernah nanya ke dia, kenapa dia pengen ngajar di sini? "Because I love teaching."

Banyak puisi-puisi bagus yang dikutip di sini, kayak karangannya Walt Whitman, Robert Frost, dan Alfred Tennyson. Yang pasti puisi mereka menggetarkan hati banget. mentang-mentang filmnya tentang puisi bahasanya jadi ribet

Film ini udah dari tahun 1989 tapi kita tetep bisa relate sama keadaan yang sekarang. Sama aja sih, kayak masalah percintaannya Knox, terus anak-anak yang sembunyi-sembunyi ngerokok waktu perkumpulan *OHOK*. Perbedaan yang paling keliatan sih ada di gaya fashion, pita rambut yang dipake jadi bando, rambut bob, mantel bulu, dan kardigan sesiku (atau apaan deh kelihatannya sih kayak gitu). Dan sekolahannya! Keren banget pemandangannya. Danau yang jadi tempat nongkrong burung-burung, terus kalo pagi burung-burungnya pada migrasi. Terus ada hutan dan gua Indian yang jadi tempat pertemuannya DPS. Sayang sekolahnya nggak setua Hogwarts. Nggak ada dinding batu atau tangga yang bisa gerak *plak*.

Tokoh favorit di film ini, MR. KEATING. Pasti. Karena dia bijaksana banget. Kalo di Harry Potter, dia itu jadi Remus Lupin. Bener-bener menginspirasi  anak-anaknya untuk berpikir bebas, nggak kaku, nggak terikat pada buku cetak. Untuk menjelajah dunia, dan supaya kita terus melihat dunia dalam sudut pandang yang nggak biasa. Carpe diem! Guru yang hebat banget lah. Speechless.

Robin Williams, as usual. Selalu memerankan tokoh-tokoh yang nggak biasa. You've done it again!


John Keating / Robin Williams, dicomot dari Tumblr.

Tokoh favorit kedua... Charlie Dalton. A.k.a Nuwanda. Nggak tau dari dulu karakter film yang gue sukain itu yang badass tapi protagonis. Lagaknya sotoy gitu sih, tapi keren HAHA. Diantara anak-anak DPS, dia yang paling berani bertindak duluan, nekat, berandalan, dan ngomongnya sarkastis banget. Emang sih ceweknya banyak tapi bodoamat lah. Tipe karakter kayak gitu paling disukain kayaknya dimana-mana.

Dan Gale Hansen itu gantengnya dewa. Tapi dulu dia main film itu pas umur belasan akhir kali ya. Filmnya rilis tahun 1989. Masa iya gue doyan sama om-om. FML.

Kumpulan GIF Charlie Dalton / Gale Hanson colongan dari Tumblr.


Film ini sukses bikin gue ketawa dan nangis penuh emosi *ceelah bahasanya*. Awardsnya banyak loh. Menang 14 dari 17! Dapet Oscar juga.

Nonton ya? Ya? Ya? Kalau udah nonton, menurut kalian film ini kayak gimana?

5.11.2012

Ripiu: Beastly, Alex Flinn.

"Surface beauty: blond hair, blue eyes, is always easy to recognize. But if someone is braver, stronger, smarter, that's harder to see." -Kendra Hilferty (Beastly by Alex Flinn)

Beastly by Alex Flinn.


Beastly itu salah satu dari berjuta-juta remake-nya cerita Beauty and the Beast. Ceritanya klasik banget. Kyle Kingsbury, anaknya news anchor kaya yang terkenal di New York. Karena hidupnya yang sempurna: tajir, ganteng, populer, dan berpengaruh, dia jadi sombong. Sikapnya bikin Kendra, penyihir remaja yang ceritanya masih 'magang', menyihir Kyle jadi ... beast. bahasa Indonesianya apaan sih-.-

Kyle bisa terbebas dari kutukan itu kalau dia ketemu cewek yang mau mencintai dia apa adanya. Susah juga kan, seumur hidup dia dideketin cewek cuma karena tampak luarnya. Bapaknya sendiri frustrasi garagara anaknya berubah jadi jelek, Kyle diasingkan ke rumah mewah ayahnya di Brooklyn. Bersama pelayan yang patuh dan tutor butanya, Kyle belajar untuk menghargai suatu hal nggak cuma dari harganya, dan mengenal orang nggak cuma dari penampilannya.

Tapi cewek yang bisa membebaskannya dari kutukan ini... hanya dia...

Secara deskripsi, ceritanya bagus dan Alex bener-bener bisa mengadaptasi cerita Beauty and the Beast ke setting modern. Bukunya bagus, tapi nggak recommended banget buat yang mencari cerita yang 'baru'.Yang aku suka banget itu pesan moralnya. Untuk melihat sesuatu nggak cuma dari penampilan dan harga. Bersikap baik dan menghargai semua orang. Itu bagus banget.

Aku juga suka sama tokoh Lindy. Dia punya hidup yang berantakan tapi nggak menyurutkan semangat dia untuk menuntut ilmu. Dia menjadikan buku-buku itu pelarian, karena dia yakin dia bisa hidup bebas, suatu saat nanti. Bisa aja dia masuk universitas lewat jalur beasiswa karena rajin belajar. Apalagi kalo lagi belajar bareng, Kyle keliatan banget kalah dari Lindy.

Selama Kyle lagi di pengasingan, satu-satunya hal yang bikin dia nggak bosen adalah berkebun dan buku-buku. Dia jarang banget baca buku sebelumnya. Salah satu buku yang dia baca, Hunchback of the Notre Dame. Ada filmnya juga kan, si Quasimodo yang tinggal di balik jam terus ada gipsi namanya Esmeralda. Dia baca buku itu karena situasi mereka agak mirip. Terisolasi dari dunia luar, nggak ada yang menginginkan mereka. Pesannya yang secara nggak langsung adalah, membaca. Read. Iqro. Karena melalui buku, kita bisa melakukan pelarian. Bebas. Atau kita bisa mengetahui orang atau tokoh cerita yang keadaannya sama kayak kita. Bikin kita ngerasa nggak sendirian.


Tapiii berhubung ini cerita Beauty and the Beast. Gatau kenapa sih tapi aku nggak terlalu suka cerita dengan ending 'happily ever after'. Itu tuh kayak habis selesai baca buku dan yang muncul di kepala lo adalah 'Cuma gitu doang?'

Jalan ceritanya juga udah ketebak banget. Serasa pulang ke rumah. Kenapa? Karena jalannya udah hafal. #PerumpamaanGagal

Tapi kenapa di mata Kyle Harry Potter kayaknya jelek banget -__- karena cerita ini pake POV Kyle, otomatis dia bisa ngeluarin isi pikirannya secara blak-blakan. Dress-nya Kendra waktu ke prom dideskripsikan sebagai dress yang bakal dipakai dalam film Harry Potter Goes to Prom. Mr. Anderson, orang yang ngebikin chatroom khusus buat forum diskusi makhluk-makhluk aneh disebut dengan "orang yang suka bikin Harry Potter fanfiction." Beneran deh. Apa sih yang salah sama nulis fanfiction Harry Potter?  *mojok dengan galau* 


Beastly the movie. Vanessa Hudgens, Alex Pettyfer.


Dan filmnya. Yaampun, filmnya. Pertama, beast yang dimaksud di bukunya itu kayak binatang nggak jelas yang berbulu dan jelek kayak Chewbacca-nya Star Wars, bukannya makhluk ganteng dengan tato dimana-mana. Terus, Vanessa Hudgens terlalu cantik buat jadi Lindy. Di bukunya Lindy itu cewek dengan gigi yang maju dan penampilannya nggak menarik. Penampilan mereka kayak perbandingan ikan bakar kecap sama durinyaaa

Tuhkan jadi pengen ikan bakar kecap aduh laper gawat nih

I'm done with my rants, though.

But Beastly is still a good book!