Pages

Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

3.15.2014

[review] supernova: kesatria, putri, dan bintang jatuh

Karena udah kelamaan ngebule di internet dan nulis pake cas-cis-cus, aku memutuskan untuk lebih banyak baca buku bahasa Indonesia. Dengan alasan yang mulia: pengen jadi penulis novel bahasa Indonesia. Eaaak. Pake bahasa Inggris susah diterbitkan soalnya =))

Pilihan pun jatuh pada serial Supernova. Ada empat buku dalam serial ini: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ), Akar, Petir, dan Partikel. Buku pertamanya, KPBJ ternyata nangkring di rak buku Ibu waktu aku iseng ngeliat, dan langsung kucomot tanpa bilang-bilang. 

Kalau dibaca sekilas, keempat novel ini gak kelihatan berhubungan (kecuali endingnya Partikel). Ceritanya mirip-mirip sih, iya. Para tokoh utamanya, manusia-manusia tak biasa yang mengalami kejadian-kejadian tak biasa, atau manusia biasa yang dihadapkan dengan situasi yang luar biasa. Tapi yang menghubungkan mereka adalah Supernova, entitas mahatahu yang bijak dan misterius, yang selalu hadir dan menemukan para tokoh utama yang budiman dengan suratnya yang kriptik. Ia hanya jadi tokoh betulan di buku pertama, sebagai juru selamat yang nongkrongnya di internet. Di buku-buku selanjutnya, dia hanya muncul sedikit-sedikit. Iya dong, biar misterius.

Di antara empat bersaudara ini, KPBJ-lah yang paling beda sendiri. Judulnya lebih panjang (nenek-nenek ompong juga tau) dan nggak cocok disandingkan dengan judul-judul pendek nan elegan seperti 'Partikel'. Ceritanya, sepasang cowok gay yang pengen bikin novel berdasarkan dongeng lama dan segenggam teori-teori sains yang dikemas dalam bentuk chicklit masa kini. Ceritanya tentang cinta segitiga antara seorang direktur muda ganteng dengan wartawan yang sudah bersuami. Plot yang klasik banget, ya kan.

Tapi ternyata nggak begitu. Dee punya kemampuan mengubah yang biasa menjadi nggak biasa. Apa yang awalnya terlihat seperti cerita cinta segitiga biasa berkembang menjadi sesuatu yang kompleks dan nggak terduga. Hal yang sama dilakukan di Perahu Kertas, novel romance biasa yang akhirnya bisa ketebak, sedikit-sedikit, tapi sangat menyenangkan (dan bikin nyesek) untuk dibaca. Aku juga suka stigma-stigma masyarakat yang dilawan dalam novel ini. Biasanya yang gay dianggap hina dan menjijikkan, ya, mereka sama aja kayak pasangan-pasangan lainnya! Malahan Ruben dan Dhimas lebih aktif berdiskusi dan berkarya bersama. Lalu, gak semua PSK itu murahan dan tidak tahu adat. Awalnya kukira Diva, si tokoh PSK dimasukkan demi bumbu drama saja. Ternyata Diva berada di level spiritualitas dan intelektualitas yang jauh lebih tinggi daripada kita. Prinsipnya, lebih baik melacurkan badan daripada melacurkan pikiran dan idealisme, bekerja seperti robot setiap harinya. Dia langsung naik gaji dari tokoh yang saya pandang sebelah mata jadi tokoh favorit. Aku juga tokoh lainnya, Ale, yang sebenernya bukan bagian besar dari cerita, selalu jadi angin segar dengan dialognya yang gak diduga dan kocak padahal situasinya di ujung tanduk.

Dee nggak sembarangan meneliti teori-teori sebagai dasar novelnya, dan itu keren banget. Kadang saya yang baru baca sebentar harus menaruh bukunya dan tiduran sebentar biar gak pusing (ada alasannya kenapa saya masuk jurusan sosial). Justru itu yang menurut saya jadi kelemahannya, kadang teori-teori itu dikeluarkan terlalu banyak dan tidak pada tempatnya sehingga kelihatannya jadi agak diumbar-umbar. Meskipun teorinya keluar dari mulut Ruben, bukan mulut Dee. Ruben kalo ada di dunia nyata bakal jadi temen nonton di bioskop yang nyerocos melulu, sibuk menganalisis semuanya, padahal kita baru nonton film itu, sementara dia udah khatam tiga kali.

Sejauh ini, teori yang berhasil aku ngerti adalah teori order dan chaos. Order dan chaos itu tidak bisa dipisahkan, dalam order pun masih ada chaos. Ada yin, ada yang. Kedua, teori gelombang nonlokal, bahwa semua di dunia ini berhubungan, entah gimana caranya. Seperti jaring laba-laba--analogi yang digunakan Supernova, yang bisa kita lihat di cover cetakan baru. Teori yang kembali mengingatkanku sama Perahu Kertas (yeah maap aku suka banget buku itu soalnya HAHA), ketika ternyata Kugy, Keenan, Remy, dan Luhde saling berhubungan, saling mengenal. Memang artian 'saling berhubungan' yang dimaksud berbeda, tapi aku cuma pengen bilang kalo 'saling berhubungan' sepertinya adalah tema yang disukai Dee.

Lalu, teori bifurkasi alias percabangan. Bifurkasi membuat keadaan yang seimbang jadi chaos-chaos dikit, dan hal ini bisa menghancurkan keadaan atau justru membuat keadaan lebih baik. Tergantung jalan mana yang kita pilih. Pilihan kitalah yang menentukan.

Pilihan.

Menyadari hal itu, rasanya nyesss... banget. Pilihan kita yang menentukan. Menentukan apa? Menentukan apa aja. Segalanya. Bayangin kalau setiap pilihan yang kamu buat di hidup ini diubah. Atau, kamu nggak memilih sama sekali. Semua pasti akan berbeda. Yang membuat manusia berarti adalah pilihannya. Kalau kamu merasa tidak berarti, rendah diri, merasa bahwa dirimu cuma titik absurd yang bisa dihilangkan atau digantikan kapan saja, buku ini sangat kurekomendasikan.

Secara pribadi, aku, yang lebih mencari plot misteri dan fiksi ketimbang filosofi dan sains, kurang begitu suka buku ini. Berat di teori, seperti yang sudah kubilang. Tapi lumayan banget untuk karya pertama Dee sebagai seorang penulis. Tenang, buku-buku selanjutnya bakalan lebih ringan dan mudah dicerna. Buku ini juga penting untuk dibaca bagi sesama pencari jalan cerita. Plot twist-nya buatku cukup menantang, dan endingnya bikin merenung banget. Selain itu, di buku inilah misteri Supernova bermula.

Sudah baca buku ini? Ayo dishare buah pikirannya :D merasa hina ya, mengemis komentar...

6.28.2013

[review] bumi manusia - pramoedya ananta toer

“Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini".” 
(gatau quotesnya ngingetin aku sama A Series of Unfortunate Events gitu jadinya)

quotesnya aja udah mengundang banget yakan

Sejak hari pertama liburan sekolah, Bapak udah girang banget. "Ayo Dini, kamu harus baca buku-buku Pram, itu keren banget lho. Wah, gimana kalo sebelum masuk SMA kamu udah nyelesain Tetralogi Pulau Buru."

yay books selfie
Terus aku pura-pura ga mau gitu soalnya gengsi HAHA-_- tapi akhirnya aku baca juga daripada kalah sebelum berperang yakan.

Aku baca (tentu sebelumnya aku foto dulu sama bukunya hehehe), terus aku selesai baca. Jrenggg.

Ceritanya berlatar belakang di Indonesia jaman penjajahan Belanda. Si Minke ini, seorang siswa HBS (SMA) pribumi yang misterius banget. Minke bukan nama pribumi, terus ga diceritakan asal-usul dia bisa ngekos dan sekolah dan dianggap nyaris setara sama para Belanda di HBS itu, tentu dia bukan anak sembarangan. Dia juga sangat berpendidikan dan berpikiran luas.

Hidupnya baik-baik aja, sampai temen Belandanya, Robert Suurhof, ngajak dia ke Wonokromo untuk main sama temennya. Sekalian menantang Minke untuk menaklukkan cewek Indo yang cantik, Annelies Mellema, adiknya temen Robert.

yang namanya juga robert. tapi robert mellema. ribet deh. jangan sampe monolog gajelas ini menghalangi kalian dari baca buku ini.

Bagaikan cerita cinta jijay lainnya twilight ohok twilight, Minke dan Annelies pun jatuh cinta. Tapi ga sesederhana itu. Perlahan-lahan Minke menyingkap misteri Nyai Ontosoroh, ibunya Annelies, yang lebih misterius lagi. Katanya dia cuma gundik pribumi yang nggak sekolah, tapi kenapa dia sangat sopan dan terpelajar? Sikapnya sangat Eropa. Justru dia yang memimpin perusahaan majikannya, hal yang gak biasa banget buat wanita pada zaman itu, apalagi wanita pribumi, lebih lagi wanita pribumi yang cuma gundik.

Minke jadi dilema, apakah dia mesti mengikuti anggapan masyarakat yang memandang rendah gundik, atau ikut kata hatinya?

Kejadian demi kejadian pun dilaluinya dan ia kehilangan respek kepada orang Eropa. Katanya mereka berpendidikan dan bijak, jauh melebihi orang Jawa yang ndeso ini, kenapa mereka malah menindas kita dan membiarkan kita hidup dalam ketidakadilan?

Pendapatku, buku ini beda banget sama buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya. Jalan ceritanya ga ketebak banget, sementara bukannya teriak teriak sama bukunya MAU DIBAWA KEMANA HUBUNGAN KITAAA aku malah nurut aja dan baca dengan anteng. Sama sekali ngga kayak genre young adult yang biasa kubaca. Aku ga bisa menilai jalan ceritanya kayak gimana, tapi menurutku itu cukup bagus dan aku suka banget.

Tokoh favoritku Nyai Ontosoroh. Dari kecil hidupnya udah keras banget, dijual sama ayahnnya demi mendapatkan jabatan dan akhirnya dia bisa mempertahankan perusahaan majikannya yang nyaris hancur. Belum lagi menghadapi fitnah dari masyarakat tentang dirinya dan orang-orang yang ngeremehin dia. Kuat, tapi sayangnya penuh dendam. Seumur hidupnya, yang dia tahu hanyalah bertahan dan melawan. Have you ever love a fictional character so much you want to cry




Annelies digambarkan cantik banget, memiliki kecantikan surgawi atau gimana gitu deh pokoknya. Dia juga pinter membantu ibunya mengatur perusahaan. Tapi kebalikan dari ibunya, dia kekanak-kanakan, manja, dan rapuh banget. Hampir mirip Bella Swan. Entah kenapa kok aku sebel banget ya sama Annelies, kayaknya dia cuma digambarkan sebagai 'cantik doang'. Oke dia bisa ngatur perusahaan tapi sifat itu kayak cuma ditambah-tambahin supaya Annelies ga kelihatan lemah-lemah amat.

Mungkin itu memang cuma buat ngebantu plot cerita? Karena Annelies terbayang-bayangi ibunya dari kecil, jadinya dia kayak gitu. Mungkin biar seimbang kali ya kayak yin yang gitu, ada yang kuat dan ada yang lemah. Tapi tetep aja aku sebel-_-

Kisah cinta Annelies dan Minke itu juga kayaknya ya cinta doang. Mereka gak pernah mendiskusikan sesuatu hal yang menarik, apa kek pokoknya. Untuk beberapa orang, itu justru bagus. Cinta Minke dan Annelies itu cinta manusia yang sangat sederhana dan apa adanya. Tapi kok aku justru kurang suka, ya.

Aku juga suka gimana Mas Pram menonjolkan kekurangan dan kelebihan dari kedua pihak. Sisi Jawa memang budayanya kaya, tapi feodalismenya nggak nahan banget. Sisi Barat itu bagaikan gudang ilmu pengetahuan, jauh lebih bebas dan berpikiran luas, juga sangat 'modern'--kata yang pada masa itu sering diusung-usung para orang barat. Tapi ya mereka menjajah kita seenaknya, ga perlu kusebutin lebih jauh lagi kan. Kalo dilihat lagi, jaman dulu itu sisi Indonesia bersifat kedaerahan banget. Jangankan bersatu se-Indonesia, suku Jawa aja masih berkasta-kasta gitu ribet bersatunya.

(edit: sekarang aku lagi baca buku ke2nya, Anak Semua Bangsa, dan di buku ini Minke pun belajar melihat Jawa dengan pandangan yang lebih luas lagi, nggak menutup mata dan mulai berusaha ngebantu mereka. Ripiunya ditunggu yahh hehehehe xD)

Dan ngaku aja kan, kita semua penasaran sama buku ini karena pernah dilarang. Orang yang bikin buku bagus terus dilarang itu keren banget, kayak intellectual badass gitu. Dan setelah aku baca, kayaknya nggak ada unsur komunis gitu di dalam bukunya. Kata Bapak, mungkin karena Om Pram-nya udah dituduh sebagai PKI, ga peduli apa isinya ya dilarang aja.

Mungkin juga buku ini dilarang karena sikap Minke yang terkesan anti Jawa, lebih seneng sama ilmu pengetahuan dan kebebasan gaya Barat, membuat bukunya dicap nggak nasionalis. Aku jadi ikutan sedih sebagai pencinta buku karena buku sebagus ini pernah dilarang. Lebih ke kecewa sih. Terus jadi marah. Kenapa sih buku doang dilarang, padahal kan cuma buku. Kata Bapak lagi, tulisan punya kekuatan untuk menggerakkan orang lain, takutnya nanti orang-orang pada berontak. Yah, paling nggak orang dulu nggak meremehkan kekuatan pikiran. mhehehe =))

Jangan menilai buku dari sampulnya, kata pepatah jaman baheula. Nyai Ontosoroh, meskipun cuma gundik yang gak sekolah, dia sopan, baik, terpelajar, dan punya semangat juang. Om Pram, meskipun dicap sebagai PKI (belum tentu juga dia terlibat di G30S), bukunya keren banget. Kandidat Nobel Sastra booo. Dan buku ini, meskipun sampulnya polos banget dalemnya bagus.

Semoga bermanfaat ^^
awwwwwwwww

*menggelinding keluar*

6.24.2013

cinta dalam kardus [review]

Uyeee aku udah nonton CDK xD hari pertama pula. Salut banget sama bang Radit yang bisa ngerjain 2 film yang keluarnya hampir barengan, barengan juga sama film-film kaya Man of Steel sama Star Trek aku belom nonton star trek hiks ga bisa liat benedict :( sedih

/sesi curhat end/



Kembali ke CDK. Aku nonton sama Vicky dan Celia, sebagai anak kebelet gaul yang kurang kerjaan tentu saja kita nyampe ke PH pagi-pagi pas belum ada orang. Jam setengah 11. Baru buka jam 12.

Film ini mengungkit tema yang udah usang banget saking seringnya kepake di film Indonesia: cinta ababil! Aku agak-agak sinis (sinis apa kelamaan jomblo HA) gitu menghadapi film ini. Paling-paling jadinya kayak Radio Galau FM atau Poconggg gitu kan yang menggalaukan gajelas gitu. Tapi ngeliat trailernya dan castnya (penulis dan sutradara Salman Aristo, ada Lukman Sardi pulaaa), mata hatiku agak terbuka. Ternyata tema cinta-cintaan itu dikemas dengan rapi, kertas kadonya cakep, plus pita dan mawar. Keren!

Ceritanya si Miko pengen mencoba stand up comedy untuk yang pertama kali. Padahal tau sendiri kan Miko itu kaya gimana buat yang udah nonton Malam Minggu Miko (ada gitu yang belum nonton? terlalu._.). Dia ngebawa kardus berisi barang peninggalan dari 21 orang mantan gebetannya, yang awalnya pengen dibuang. Tapi karena pasangan ababil Chacha dan Kipli, juga pengunjung lain yang ngeledekin Miko terus ("paling si Miko juga gak pernah digodain tante-tante di busway kan?" "PERNAH KOK!"), akhirnya kardus itu jadi bahan stand up.

Sepanjang film itu ya si Miko-nya stand up terus. Kasian kali ya dia udah ngomong melulu ga duduk-duduk lagi. Tapi aku ga ngerasa bosen. Karena jokesnya emang lucu-lucu, dan ada flashback ke masa-masa PDKT sama ke21 orang itu dan masing-masing punya cerita kegagalan yang unik. Kayaknya baru pertama kali aku nonton film yang terdiri dari stand up comedy dan flashback dengan timeline yang sangat pendek pula (Inception juga timeline nya pendek sih) (err itumah beda yak).


Aku juga suka kardus-kardus yang menjadi setting flashback itu, kreatif banget dan pasti bikinnya susah. Mirip kayak video klipnya Vidi Aldiano (yang ada Raditya Dikanya jugaaa :D) sama Walk Off The Earth. Mungkin ini baru pernah dipake di film, aku ga tahu, yang penting kardus-kardusnya lucu.

sweater kucing!!!! WHO GAVE YOU THE RIGHT

Scene paling romantis :')


Anizabella Lesmana :) cantik yah

Cewek yang paling aku suka adalah Putri, yang jadi pacarnya Miko pada saat itu. Dia itu keren, kayak tipe yang artsy gitu, jago gambar, kayaknya yang paling baik ("aku sayang sama kamu put!" "aku lebih sayang sama kamu." AWWW), dan wardrobenya keren banget uuuuu bajunya luculucu semua!! *robek layar bioskop* *kabur*

Penampilan Rian dan Mas Anca lumayan mengobati kangenku sama M3, apalagi scene terakhir yang pas Rian bawa kucing lucu bangetttt. Kocak seperti biasa, tapi Mas Ancanya OOC banget sumpah. Tapi menurutku terlalu sedikit, padahal aku pengen liat Rian dan Mas Anca lagi.

TERUS ADA ENDAH N RHESA JUGA ALDFKSLFJKSLFJ pengen teriak we want more di teaternya tapi takut digebukin gitu

Yang aku ga suka, mantan-mantannya Miko karakternya agak satu dimensi. Kayaknya cewek-cewek itu banyak maunya dan menindas melulu kerjaannya. Iya Miko-nya seringkali salah, tapi sepertinya kesalahan Miko itu antara manusiawi dan bego. Atau mungkin sifat karakter mantan gebetannya Miko itu memang sengaja buat lucu-lucuan. Nggak jauh-jauh sama materi komedinya Radit yang berkali-kali membahas cewek, kayak logika cewek yang minta diturunin tapi giliran diturunin beneran malah marah.

Overall, I had a good laugh throughout the film. Miko pun menyadari arti cinta dan apa yang harus dia lakukan buat memperbaiki hubungannya dengan Putri. Aku juga mewek pas sebelum terakhirnya ituuu nyesek banget :''''( meskipun akhirnya agak terlalu cepet dan happy ending banget menurutku. Aku agak mengharapkan plot twist Miko sama Rian akhirnya jadi gay terus jadi koboi berpetualang ke Amerika gitu

.... salah film deh. dan kalo ada film kaya gitu di Indonesia pasti udah didemo duluan mhuahaha

Kesimpulannya: aku tetep fansnya bang radit u,u Kalo Abang baca ini sekarang, ketahuilah kalo aku langsung lari ke TV kalau ada iklan Mi Sedap Cup. Kambing Jantan itu buku pertama yang bisa bikin aku ketawa histeris sampe gaada setan yang mau ngerasukin =))) sukses terus dan ditunggu karya selanjutnya!

ailopyu bang tapi aku gak mau malam minggu miko s2 kalo gaada Rian... 

Sekian ^^ aku mau menikmati libur panjang yang sisa sebulan lagi, masih belum kenyang libur sebulan setengah sih yaa mau gimana lagi~

*dikeroyok massa*

(Sumber gambar: mbah google)
postingan pindahan dari sini

10.21.2012

Perahu Kertas! :D



Hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.

Aku baru pulang nonton Perahu Kertas 2 sama Ibu. Yaaa dan seperti pas nonton Perahu Kertas 1, aku keluar teater masih dengan bergelimang air mata. 

Filmnya mengharukan banget. Dan emosional juga sih. Meskipun kedua film sebenernya adalah satu kesatuan, menurutku yang film pertama lebih ringan dan remaja banget, karena masih masa-masa senengnya. Ada sedikit haru juga, tapi rasa sakitnya belum nyess banget. Sementara di film kedua, saya yang nonton aja nyesek gimana tokoh-tokoh benerannya ya? Di film kedua jugalah alurnya berubah jadi ribet. Aku kagum banget sama Kak Dee bisa kepikiran cinta bersegi-segi yang malang melintang kaya gitu. 

Tapi mungkin aku lebih suka film pertama karena waktu itu aku belum baca bukunya. Aku selesai baca bukunya sehari sebelum UTS, dan waktu UTS sukses kebayang-bayang. Kalo belum baca bukunya rasanya kita bisa menilai dengan lebih adil filmnya bagus apa nggak, karena nggak terbebani oleh harapan dari bukunya. Film kedua juga bagus sebenernyaaa yah. Tapi entah kenapa aku merasa agak lebay gitu awal-awalnya. Atau mungkin cuma perasaanku.

Yang sayang banget, kayaknya tokoh Luhde ga dikembangin terlalu luas. Di bukunya, Luhde itu lebih dari cewek Bali kalem yang penurut dan manis. Dia itu pinter, kuat, dan bijak banget, meskipun ngarahnya ke sok tahu kadang-kadang. Dan dia ga begitu pendiam. 

Ada beberapa karakter OOC juga sih di filmnya (Noni, terus kadang-kadang Kugy juga gitu meski ngga selalu), tapi yang penting menurutku filmnya udah cukup menggambarkan keseluruhan isi bukunya. Dan aku juga suka musiknya itu begitu mendukung suasana scene, malah kadang scene-nya nggak begitu menggalaukan, tapi aku nangis aja denger lagunya. 

Tapi yang paling bagus dari semuanya adalah bukunya. Aku suka banget, baca buku itu seperti baca diary orang lain--begitu nyata, bisa aja semua kejadian yang terjadi di buku itu pernah terjadi sama orang lain. Seperti The Fault In Our Stars, karakter-karakternya nggak sempurna, tapi cukup manusiawi. Ceritanya mengalir banget sehingga ngebacanya enak. Dan yang terakhir jokesnya beneran lucu, nggak garing sama sekali. Itu sambil baca bukunya aku ngakak bangetbangetan deh xD

Tentu saja aku jatuh cinta sama tokoh Kugy. Pertamaaa dia suka nulis! Itu udah cukup bikin aku ngerasa relate banget dan tambah sering nulis, meskipun cuma iseng-iseng gaje aja. Siapa tahu bisa kayak Kugy dapet pacar seniman gitu maksudnya, tapi kalo dapet Adipati pun ga akan ditolak. Dan imajinasi Kugy yang bikin dunia yang biasa-biasa aja ini menjadi ajaib. Dan gaya Kugy yang serampangan dan biasa aja, tapi nggak mengurangi keunikan dirinya sama sekali.

Pokoknya udah nonton atau belum, nggak ada alasan untuk baca buku ini. Dee is a genius. Kalo kalian bilang lebih suka nonton film karena males baca bukunya, rugi ajah.

9.02.2012

Celoteh si Jingga - Review!

Beberapa minggu yang lalu, waktu masih libur puasa, time turner mana time turner Om Rico ngedatengin aku terus bilang "Din, baca deh bukunya bagus." Om Rico nyodorin sebuah buku ke aku. Aku oh-oh aja karena masih ribet sama lontongnya, tapi lama-lama aku penasaran juga.

Celoteh si Jingga oleh Ivy Londa. notice my new room though.

Buku ini isinya curcolan kak Ivy Londa, tapi curcolnya produktif. Disini dia menceritakan kepeduliannya tentang masyarakat dan lingkungan, perjalanan mencari Tuhan jadi figuran di PPT yaa? hal-hal tentang keluarga yang aku ga pernah perhatiin, dan tentang mimpi dan idealisme. Beberapa emang lumayan pribadi, tapi tetep menginspirasi.

Buku ini banyak ngebahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang ga kejawab di kepalaku. Tentang nasib negara ini. Tentang orang-orang di sekitar kita. Tentang perasaan dan hidup yang emang sepele, tapi bikin penasaran terus-terusan. Setelah ngebaca buku ini, pertanyaan-pertanyaan itu masih nggak kejawab. Mungkin kita bakal menemukan diri kita tiduran di kasur, menatap langit-langit kamar, berusaha mencerna isi buku tadi.

Ada beberapa buku yang begitu halaman terakhir ditutup, ceritanya selesai. Kita cuma bisa mikir "wah seru banget ceritanya" atau mungkin malah "anjir buku apaan tuh. untung buku pinjeman." (pengalaman pribadi). Tapi gak dengan buku ini. Setelah selesai ngebaca, aku masih sedikit ga ngerti dan berusaha mendiskusikan isi buku itu di kepalaku. Tapi itu cuma menimbulkan pertanyaan baru, yang masing-masing akan menimbulkan pertanyaan baru, yang akan terus beranak pinak kayak kucing tetangga. Yang penting buku ini ngebikin kita berpikir dan menjadi kreatif. Begitu paham, aku ngerasa terinspirasi banget. Kaya brainfreeze gitu. Tiba-tiba wuzzz ada sesuatu yang nyerang otakku terus aku ngerasa pengen nulis, pengen melakukan sesuatu untuk bangsa, pengen lari-lari di lapangan, pengen nyanyi di kamar mandi, atau nulis racauan nggak jelas ini.

Ada bagian-bagian dimana aku ngerasa jleb juga sih. Kadang-kadang aku ngerasa berbeda sama temen-temen sekelasku. Pernah lain waktu lagi, aku ngerasa capek dan bosen menghidupi rutinitas yang sama terus-menerus. Atau karena harus selalu memakai topeng, yang cuma sesekali bisa dibuka di hadapan temen-temenku yang sebenarnya karena kebanyakan orang nggak bisa menerimaku ketika mereka menatap wajahku yang sebenarnya.

Bisa nggak sih ada sesuatu yang heboh sesekali di hidupku? Lalu aku berhenti berharap sebelum keinginanku jadi nyata. Pertama, karena aku inget di film Tokyo Magnitude, si tokoh utama juga berharap kayak gitu, detik kemudian Tokyo langsung diguncang gempa. Kedua, karena ngebaca bab Kromatik, yang bikin aku pengen ketawa sendiri entah kenapa, "Hahaha, ini gue banget!"

Hidup bukan tentang membuat matahari terbit di barat, tapi ini tentang menceritakan sebuah keajaiban pada matahari yang terbit dari timur. Bukan memaksa matahari untuk merangkak terbalik, tetapi bagaimana kau menceritakan tentang kisah mentari yang terbit dari timur dengan caramu sendiri, sehingga orang-orang berhenti dan mendengarkan kisahmu.

Kayak Kak Dea dan Salamatahari yang pernah aku tulis disini (kecuali Kak Dea tulisannya lebih imajinatif dan ceria, Coretan si Jingga lebih filosofis), semuanya balik lagi ke hal-hal kecil yang sering kali nggak kelihatan sama mata kita. Melihat aja ga cukup sebenarnya, kita harus bener-bener merhatiin sampe otak kita dipenuhi suara "KENAPA? KENAPA? KENAPA?" yang berulang-ulang kaya alarm rusak. Terus kita bakal jadi resah dan menulis untuk menyelidikinya. Atau cuma sekadar pengen cerita doang.

Tapi kayaknya aku masih belom punya mata yang memerhatikan sekeliling, atau otak yang cukup aktif untuk terus-terusan bertanya kenapa. Ngejaga barang-barang sendiri aja masih susah. Botol minumku yang Rubbermaid hilaaaaang. Buku Luna-ku juga. Mukenaku juga, tapi udah ketemu lagi di lemari sapu kelas. Oke malah curcol.

Yang aku kagum dari Kak Ivy/Jingga, karena kakak itu berani. Berani karena benar. Ikut berdemo Aksi untuk Iklim di HI. Keluar dari SMA karena nggak mau menghafalkan kalimat-kalimat yang cuma gitu doang--bukan belajar beneran. Berani menyuarakan pendapatnya di antara temen-temennya, meski artinya berbeda sendiri. Berani mengemukakan pendapatnya. Dan berani bermimpi! Dan semoga mimpinya bisa terwujud.

Dadah :D

HA MIN EMPAT KAWAN KAWAN INGAT HA MIN EMPAT

7.17.2012

Review: The Illustrated Mum. and the society.

Beberapa minggu lalu aku dikasih tumpukan buku-buku Jacqueline Wilson dan Lizzie McGuire dari Kak Sekar. Kenapa? Karena udah ga dibaca lagi. Yaampun. Kebetulan banget aku lagi butuh buku bacaan.

MAKASIH KAK SEKAR <3


Aku baru baca beberapa buku tapiiii aku paling suka The Illustrated Mum.


"OK, so I'm a freak," said Marigold shakily. "I don't care. I don't have to conform to your narrow view of society, Star. I've always lived my life on the ouside edge."

Dolphin dan Star punya ibu yang unik banget, namanya Marigold. Rambutnya merah menyala, badannya dipenuhi tato yang banyak banget, dan imajinasinya hebat. Dia bisa membuat apapun jadi nyata. Dia nggak pernah peduli dengan pandangan masyarakat dan selalu berusaha jadi beda. Tapi dia ngga selalu jadi ibu yang hebat sih. Kadang-kadang Marigold ngehabisin duit bulanannya dalam sehari buat beli barang-barang gapenting, dan beberapa hari kemudian mereka jadi susah uang banget. TV dan telepon mereka sampe disita karena berbulan-bulan ga bayar tagihan. Kadang-kadang dia ngilang seharian dan muncul lagi dalam keadaan mabok. Tapi Dolphin seneng banget sama ibunya, kadang dia ngga peduli kalo dia ga punya ayah.

Terus hal-hal berubah, karena bapaknya Star sama sekali ga tau kalau dia punya anak, tiba-tiba muncul, dan ngebawa Star pergi. Marigold jadi depresi, sementara Dolphin bingung karena masalahnya banyak banget. Bisa nggak sih semuanya kembali kayak dulu?

Aku baru pernah baca buku Jacqueline Wilson sekali, yang Double Act. Ceritanya bagus sih. Dulu kukira buku-buku Jacqueline Wilson... yaa gitu-gitu aja. Tapi aku iseng baca buku yang ini dan ternyata nggak.

Buku-bukunya Jacqueline Wilson sering mengangkat tema perceraian, kematian, dan anak-anak panti asuhan. Dan ajaibnya dia bisa mengangkat tema-tema yang berat dan sangat dewasa itu jadi gampang dimengerti anak-anak. Tapi emang sih buku yang ini agak-agak lebih 'gelap' daripada buku yang lain, dan jauh lebih rumit. Kira-kira buat umur 11+ deh.

Yang aku suka dari buku ini, buku ini nyeritain tentang masyarakat kejam yang penuh penilaian. Cuma gara-gara Marigold bertato banyak dan berkelakuan nggak kayak orang biasa, dia selalu dianggap negatif oleh orang lain. Star yang berubah jadi normal hanya supaya dia disukai orang lain dan punya temen. Dolphin yang dibully sama temen-temennya cuma karena cara berpakaian dan ngomongnya nggak sama dengan anak-anak yang lain. Kadang-kadang kita pengen jadi apa adanya dan ngomong dengan gampang sama dunia dan masyarakat "ini loh diri gue". Tapi ga segampang itu, kadang-kadang mungkin lo akan dibalas dengan tatapan mencela dari mereka. I told you, society sucks. 

"Society sucks. It’s a damned if you do, damned if you don’t kind of situation. I’m not allowed to be fat, but I’m not allowed to go on a diet either (or keep a food diary, for that matter). I’m not allowed to be dumb, but I’m not allowed to be smarter than a boy. I’m not allowed to do drugs or drink, but I’m considered boring if I don’t. I’m supposed to be an empowered woman, but if I ask for respect dudes will just call me an annoying bitch. Heck, if I wait to have sex I’m labeled a prude, but if I lost my virginity today there would be a lot of people thinking that slut." - THIS article by Lexi Harder.

Aku suka banget karakter Marigold yang kompleks. Dia pengen beda dari masyarakat yang lain, ya itu bagus dan unik. Tapi lalu masa kecilnya kurang bahagia dan itu mempengaruhi dia yang setelah dewasa jadi manic depressive, dan lari ke gaya hidup nggak sehat lalu dia jadi bipolar dan suka mabok-mabokan dan akhirnya hamil di luar nikah dua kali. Sinetron banget iya kan. Tapi dia sayang banget sama Star dan Dolphin, dia bisa ngebikin cerita apapun yang dia ceritain jadi nyata, dan kalo mereka minta apapun pasti dibeliin, jadi dia ga bisa dibilang antagonis juga. Tapi kalo lagi depresi banget dia bisa menelantarkan anaknya. Sinetron banget gasih. Tapi menarik. Dan mungkin itu kenapa banyak orang yang suka sinetron. Tapi sesinetron-sinetronnya Marigold ga senorak Cinta Fitri juga kali yaaa.

Terakhir, sudut pandangnya orang pertama dari cewek kelas 3 atau 4 SD (entahlah aku terlalu males baca lagi) yang masih polos. Di matanya, Marigold-lah yang terbaik. Aku ngebayanginnya Marigold lagi berdiri dengan pose 'menatap ke masa depan' dengan mata berbinar-binar dan rambut ketiup angin. Dengan Marigold yang keren sebagai idolanya, dia jadi berbeda dan keren dan seterusnya, paling ngga menurutku dia keren. Tapi dia dibully sama anak-anak di sekolahnya. Anak yang berbeda selalu dibully. Aku sedih ngebacanya. Ya, maksudku kenapa mereka harus sejahat itu, sih? Iya sih mereka masih anak-anak dan mereka nggak ngerti apa yang mereka lakukan, waktu udah gede mereka bakal ngeliat kembali ke masa kecilnya dan merasa diri mereka jahat banget. Artinya sejak kecil pandangan mereka udah dibentuk sama masyarakat bahwa "baju yang bener itu begini" "kalau dia ga pake baju model kaya gini artinya dia aneh" "orang yang pake kacamata itu aneh dan kutu buku". Dan seterusnya. Menurutku itu menyedihkan banget.

Kalau aku punya anak aku ngga mau pandangan anakku terbatas sama pandangan yang diseragamkan oleh masyarakat. Tapi aku juga ga mau jadi ibu yang bikin anaknya punya mkkb dan ujung-ujungnya jadi manic depressive kaya Marigold.

7.12.2012

The Amazing Spiderman Review, and a long rant about Stonefield.

Yeaaah akhirnya nonton Spider-Man juga! Tadi nonton bareng Sasha, Celia sama Vicky di Plangi. Emang agak telat sih, tapi belom juga ah. Sebel juga dari kemaren di Tumblr banyak gif sama fotonya dan banyak spoiler juga. Dan pada saat gue baru nonton, ababil-ababil udah mulai mengambil putaran kedua.



Peter menemukan rumus rekayasa genetik yang ditemukan ayahnya, ilmuwan Oscorp yang  menghilang tanpa jejak bersama ibunya waktu dia masih kecil. Rumus itu membawanya ke Dr. Connors, mantan partner ayahnya. Tapi percobaannya nggak berjalan lancar, malah mengubah Dr Connors jadi The Lizard. And once again the day is saved thank you for Powerpuff Girls terererengtengteng Spider-Man. Tapi menyelamatkan hari (?) itu ga gampang, karena polisi menganggap Spider-Man itu ngerecokin, sementara pacarnya Peter, Gwen Stacy, itu anaknya kepala polisi. Nahloh.

Yang paling ditunggu-tunggu aku sebagai penonton sebenernya kisah masa lalunya Spiderman. Karena dari film-film sebelumnya aku suka bertanya-tanya, "emang kemana bapak ibunya?" Untuk orang-orang yang males ngebaca Spiderman versi komik-nya Marvel seperti saya, pas banget film ini dihadirkan.

Dan jujur aja kayaknya aku ga ngebet-ngebet amat pengen nonton TASM kalo Peter Parker-nya bukan Andrew Garfield. Seriusan. Tapi gue bukan ababil-ababil yang sekali nonton TASM terus ngepens yang musiman gitu. Di Social Network waktu dia jadi Eduardo Saverin ituuu adlafkjdlafkdfj. Tapi kenapa di TASM dan Social Network dia sama-sama nulis rumus-rumus algoritma itu... entah kebetulan atau apa. Kayaknya dia emang pinter dari sananya.



IYA KAAN DEJAVU BANGET

Andrew Garfield as Eduardo Saverin

Tapi di Ellen Andrew pernah bilang dibalik kostum spiderman dia ga pake apa-apa lagi looh. *ketawa mesum*


Stonefield (Emma Stone X Andrew Garfield) juga termasuk yang ditunggu-tunggu penonton. Terutama ababil. Ini saya lagi. Sejak premierenya spiderman itu dashboardku dipenuhin Stonefield melulu. Di kehidupan nyata, mereka emang cute banget sih adlafjkdljkflajkdfk *makanin kuku jari* dan gimana Andrew itu puitis banget waktu ngomongin Emma, “She’s the sun, and she’s got such depth. She can do anything. She’s magic.” Pengen nangis banget ga sih kalo ada cowok yang bilang lo itu mataharinya? sayangnya itu bukan gue oke.


stonefield gif from tumblr. not mine.

Semoga ini bukan publicity stunt yah. Jangan sampe.

Dannn kembali ke filmnya. Pertamanya kukira Peter versi TASM itu terlalu... keren. Maksudku dia ga ada tampang cupu sama sekali, dan sebelumnya dia ga pake kacamata tapi contact lens. Dan dia main skateboard yaampun. Banyak yang gasuka versi ini. Tapi menurutku sih itu bagus juga. Menurut review yang aku baca sih (entah di mana ya lupa) Peter Parker-nya Andrew lebih dekat sama versi komik. Menurutku juga mendingan versi yang ini. Karena ga semua orang yang pinter dan penyendiri itu culun, ngebosenin, dan ga menarik. Menurutku si Peter Parker TASM sebenernya keren dan asyik, tapi mungkin dia agak penyendiri dan awkward untuk bisa fit in sama temen-temennya.

Gwen Stacy
Banyak yang ngebandingin aktingnya Andrew Garfield vs Tobey Maguire. Ya kataku sih akting mereka emang beda dan ga bisa dibandingin. Kalo yang versi Tobey Peter-nya lebih pendiam dan perannya stereotipe culun banget. Sementara Andrew membawa karakter Peter jadi lebih luas lagi.

Selain perang Andrew vs Tobey Maguire, juga ada MJ vs Gwen Stacy. Menurutku mereka ga bisa dibandingin juga sih, secara karakter beda kan. Lagi-lagi kata review (aku baca banyak review karena aku agak bingung pengen nulis apa), Gwen Stacy versi film dan komik agak beda. Tetep sih dia pinter, cantik, berani, mandiri, dkk dkk. Tapi kan Gwen magang di Oscorp juga terus ketemu Peter di sana. Dia ikutan magang karena dia suka sains, dan diceritakan dia selalu juara satu di kelas. Kalo dia suka sains, seharusnya Gwen ngobrol asyik sama Peter tentang sains. Sementara di film keliatannya Gwen ga begitu berperan, meskipun akhirnya dia yang ngebantuin Peter menyelamatkan New York (spoiler dikit gapapa ya). Dia ngobrol sama Peter kayak cuma buat flirting doang, cuma sekadar ceweknya Peter. Juga dia ga pernah ngambek. Pasti di tiap film ada kan adegan cewek ngambek sama cowoknya, sementara di sini Gwen ga pernah marah sama sekali. Dan nggak banyak yang bisa kita ketahui tentang Gwen dari filmnya, selain dia magang di Oscorp, cantik, pinter, baik, punya baju yang keren-keren, dan anaknya kepala polisi. Keliatannya Mary-Sue banget, padahal di komik sebenernya ngga. Takutnya sih film ini bisa bikin cowok-cowok ngarepin cewek sempurna kayak Gwen, padahal ngga ada kan. Bisa aja kejadian lho.

Dan yang kurang dari film ini menurut aku, hubungan antara Peter dan orangtuanya kurang dijelasin. Juga alur kejahatan vs kebaikan, hitam dan putih yang terlalu klise dan ketebak banget. Aku berharap ada plot twist sedikit atau kejutan apa kek supaya agak seru. Tapi secara special effects, keren banget. Ada petunjuk-petunjuk kalo bakal ada sekuelnya dan HARUS ADA SEKUELNYA. Semoga bisa dilengkapin di film selanjutnya.

Belom nonton? Tunggu apalagiiii. Kalo yang udah nonton, ayo nonton lagi. Sekalian bayarin gue biar kita bisa mengagumi kegantengan Andrew Garfield bareng-bareng. #sesat

7.04.2012

Catching Fire: Pandora's Review :D

Aku nggak bisa berhenti baca Catching Fire. Kadang-kadang susah untuk menyelipkan pembatas buku ke halaman terakhir dan berpaling terus bilang sama diri sendiri UDAHAN DINI UDAHAN BESOK LANJUTIN. Kayak nggak ada hari esok aja. Wkwk.

“We had to save you because you're the mockingjay, Katniss. While you live, the revolution lives.”

Ceritanya mengambil setting beberapa bulan pasca Hunger Games. Sebagai victor, mereka dapat rumah bagus dan uang yang banyak, di tengah-tengah kemiskinan Distrik 12. Persahabatannya sama Gale nggak pernah sama lagi sejak Peeta menyatakan cintanya buat Katniss di depan seluruh penduduk Panem. Capitol seakan berusaha membuat The Hunger Games tetep segar di ingatan Katniss, dengan adanya Victory Tour.

Untuk pertama kalinya, ada dua pemenang di The Hunger Games, Katniss dan Peeta. Mungkin mereka dulunya sempet main figuran di Putri Yang Ditukar atau nggak tahu, tapi akting mereka sebagai pasangan yang jatuh cinta itu bener-bener meyakinkan penduduk Panem, kecuali President Snow. Seneca Crane si gamemaker yang lama dibunuh, dan dia mengancam bakal melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang mereka sayang, kalau Katniss dan Peeta nggak bisa meyakinkan penduduk Panem di Victory Tour. 

Tapi, distrik-distrik yang capek dijajah Capitol sejak lama melihat Katniss sebagai peluang melakukan aksi pemberontakan. Kira-kira bisa nggak Katniss menyelamatkan pemberontakan sekaligus orang-orang yang dia cintai?


Kenapa garis-garis lingkaran itu bentuknya kayak jam? Baca sendiri. Hehehe.

Fanmade poster. Nemu di google. Not mine.


sorry for the shitty description.

Sebenernya bukan cuma itu doang sinopsis dari gue tapi nanti spoiler parah huahaha

Dan endingnya ngegantung banget. I need Mockingjay nooooow sdjfhakldfhalh.

Setelah ngebaca buku ini, menurutku ini lebih seru daripada buku pertamanya. The Hunger Games itu baru pemanasan kalo dibandingin dengan Catching Fire (belom aja Mockingjay dan aku udah tau spoilernya duluan huahaha). Suzanne Collins sekali lagi berhasil menghadirkan berbagai macam penderitaan dan rasa sakit yang nyata banget. Menyiksa karakternya, atau bikin death scene yang ngga terlupakan banget (Rue's death scene). Kadang-kadang kupikir dia sebenernya psikopat terselubung. Ga segitunya juga sih.

Atmosfernya juga beda banget. Kalo di buku pertama itu kayak "Katniss harus menang! Go Katniss go Katniss go!!" atau menyelamatkan diri di hutan. Yah oke di buku ini ada bagian yang kayak gitu. Tapi selebihnya kalau kamu baca buku ini, hal pertama yang bakal kamu rasain adalah ketakutan. Katniss udah terang-terangan diancam Snow kayak gitu. Takut kalo keluarga Katniss akan dibunuh, takut kalo Peeta akan dibunuh, takut distrik 12 akan dimusnahkan. Takut semua orang harus menerima akibat dari percikan api pemberontakan yang diciptakan Katniss. Dan ada semangat pemberontakan juga. Kayak perasaan deg-degan kalo lo mau madol. Rules are meant to be broken. Kadang-kadang ada perasaan menyenangkan kalau kita berhasil melanggar aturan terus ngga ketangkep.

Baca buku ini bikin aku tambah bersyukur sama diri sendiri. Aku mungkin nggak sekaya Katniss dan Peeta, yang baru menang Games dan dikasih harta berlimpah, tapi juga nggak semiskin penduduk Distrik 12 dan 11. Meskipun Katniss udah kaya, dia masih suka berbagi bahan makanan dan uang sama tetangganya, dan tetep bersikap down to earth sama orang-orang yang kenal sama dia. Itu yang menurutku keren banget, maksudku dia nggak cuma tough secara fisik aja, tapi juga ramah, meskipun nggak Mary Sue-Mary Sue amat.

Ceritanya juga mirip kayak Harry Potter and the Order Of Phoenix. Cuma kalo di OOTP pemberontakannya terhadap Kementerian. Keliatannya juga pemberontakan Harry Potter 'ceria' banget, kalo di CF boro-boro sempet main kembang api. Aku juga baca OOTP bahagia banget, pas nonton filmnya juga musiknya ceria. Gaada mencekam-mencekamnya sama sekali. kecuali pas Sirius mati itu nangis darah banget.

Filmnya keluar tahun 2013. Tapi fandomnya The Hunger Games itu emang paling rewel soal milih casts. Finnick Odair, tribute dari district 4 yang gantengnya sangat nggak mungkin. Masih gosip, tapi katanya Robert Pattinson, Grant Gustin, atau Zac Efron diseleksi untuk memerankan si Finnick. Menurutku Robert sama Grant ga cocok, soalnya kulitnya Finnick cokelat. Zac Efron bisa sih, cuma ga kebayang aja. Tapi ujung-ujungnya jatoh ke akting juga. Aku ga punya bayangan sama sekali siapa yang cocok jadi Finnick.

Sementara yang jadi Johanna Mason? Tribute dari district 7 ini menang dengan pura-pura lemah. Padahal dia badass banget. Dan nekat juga. Menurutku yang paling cocok jadi Johanna itu Naya Rivera. Dia pernah bilang pengen jadi Johanna Mason. Johanna mirip banget sama Santana di Glee dengan sarkasmenya, kayak gitulah aku ngebayanginnya. Ada juga yang bilang Mia Wasikowska ikutan audisi juga. Tapi akhirnya Jena Malone juga yang dipilih. Katanya dia main Sucker Punch tapi aku gatau filmnya yang mana. Banyak yang gasuka sama Jena Malone jadi Johanna, tapi liat aja Jennifer Lawrence. Pertama dia jadi Katniss banyak orang yang bilang aktingnya dia ga bagus tapi begitu filmnya keluar, orang-orang langsung ngefans sama dia.

Dan sisanya aku juga ga punya bayangan sama sekali. Emang dasar ngga punya imajinasi sih. Kalo lagi baca buku, muka orang-orang yang belom dicast ini kebayang dalam bentuk kartun atau ngeblur nggak jelas. Sisanya diserahkan sama orang-orang Lionsgate aja deh. Awas ya om, fans THG gahar-gahar.

Beteweh, temenin gue nonton pacar gue di bioskop yuk~



ganyambung
gimana kalo Andrew aja yang jadi Finnick Odair
cewek macam apa gue ngebiarin pacarnya selingkuh sama Emma Stone
tapi emang muka gue aib sih dibandingin Emma Stone
it's not all about the looks, bro

6.24.2012

Brave: Pandora's review :D

Udah lama ga ke bioskop yaah~ *cium lantai*

Nggak seperti agenda biasanya yang tiap Jumat biasanya pulang sekolah aku kabur ke rumah Vira. Hari ini nonton Brave di PS. Yaayy. Hari pertama lagi, jadi ngereviewnya enak hahaha~



Oke jadi alkisah suatu hari di negeri nun jauh disana............ ngga jauh-jauh amat deng, di Skotlandia tetep jauh. Beda sama sosok putri yang lembut dan ngebosenin yang biasa banget. Merida adalah putri yang sangat badass dan hobi memanah dan berkuda. Setiap hari dia diatur-atur melulu sama ibunya yang kolot supaya menjadi princess yang sempurna. Apalah apalah bagian ini begitu ngebosenin, aku nggak mau ngelanjutin lagi. Ayahnya yang lebih bebas dan lucu banget biasanya jadi partner in crime-nya Merida, kadang-kadang ngebolehin dia melakukan apa yang dilarang ibunya (meskipun ujung-ujungnya suami-suami takut istri juga sih).

Keluarga bahagia
Tapi kenapa ibunya rambutnya brunette sendiri??
Terus yang lainnya anak siapa??

Sesuai tradisi kuno yang terkutuk itu, ketika Merida sudah cukup umur, ketiga suku dalam kerajaan tersebut mengirimkan wakil masing-masing untuk bertanding dalam perlombaan untuk bertunangan dengannya. Dia nggak setuju banget. Pertama, dia masih pengen menikmati kebebasan dan nggak mau menikah cepet-cepet. Kedua, emang ada gitu yang mau dijadiin barang taruhan? Aku juga nggak mau sih. Terus dia berantem sengit sama ibunya dan kabur ke hutan.

Disana, tanpa sengaja Merida ketemu dengan nenek sihir. Dia minta Nenek Sihir itu memberinya mantra untuk mengubah ibunya, dan mengubah masa depannya.

Masa depannya bakal berubah, tapi ibunya berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Dan Merida harus menyelamatkan ibunya sendirian.

Untuk selanjutnya terpaksa kalian harus nonton sendiri. Aku gamau bocorin karena nanti pada ngomel. Dan kalian emang wajib nonton sendiri! Kalo nggak nonton di bioskop, minimal beli bajakannya di Glodok deh. Kalo lo bener-bener sebokek itu, nonton di Movie2k juga ngga apa-apa. Meskipun efeknya ga bakal sama sih...

Since Friday, Merida has officially became my favorite Disney Princess.

Kenapa?

Soalnya princesses tipe Mary Sue kayaknya sekarang udah kurang disukai. Cantiknya berlebihan, kelakuan perfect, dan kadang-kadang mereka cuma nunggu Pangeran datang sambil bersih-bersih rumah. Sekarang itu udah emansipasi wanita, malahan mestinya putrinya yang ngedatengin pangeran. Lagian mana ada sih orang yang seperfect itu, nggak nyata banget.



Yang aku suka dari Merida, dia betah ngejomblo dan menolak ide pertunangan itu artinya kita kaum jomblo ada yang membela. Eh salah. Dia begitu keras kepala, liar, bebas, dan manis sekaligus, itu bikin aku jatuh cinta banget sama karakter ini. Keliatannya dia emang mandiri banget tapi di beberapa waktu juga menunjukkan kerapuhannya sebagai remaja. Kadang berani, tapi bisa juga ketakutan. Karakter Merida itu manusiawi dan cocok banget sama kehidupan remaja jaman sekarang meskipun setting ceritanya beda.

Dan rambutnya yaampun rambutnyaaaa. Aku mau punya rambut kaya gitu tapi kayaknya ga bakal seimbang sama muka.



Pesan sponsor

Kalo ceritanya sendiri sih bagus dan seperti Pixar biasanya, lawak banget, tapi sekalinya scene sedih satu bioskop banjir. Dan menegangkan juga. Cuma aku atau rasanya efek 3D-nya kurang maksimal ya? Alur ceritanya juga agak-agak klise, terlalu 'aman'. Aku sedikit ngarep dapet ending yang nggak terlalu hepi tapi itu nggak mungkin. Selebihnya sih keren banget. Nonton yaa?

PS: Now reading - Catching Fire!! Ditunggu aja reviewnya (meskipun gabakal ada yang nungguin juga sih)

sumber dan nyolong dari mbah gugel.

6.01.2012

Salamatahari! Review.



Aku selalu lupa pengen baca buku ini. Bapak pernah beli buku ini udah lama banget dan aku nggak tahu kemana. Sampai aku ketemu sama kak Dea, yang bikin buku ini, terus beberapa minggu kemudian dikirimin kartu pos sama Salamatahari 1 & 2. Yang... baru aku baca sekarang.

Kedua Salamatahari ini nyeritain tentang hal-hal kecil, remeh, dan sepele dalam hidup kita, dengan gaya cerita yang cuek. Misalnya sekadar ngeliat capung dan kupu-kupu, mungutin bungkus cokelat, atau brosur yang terbang-terbang di angkot. Mungkin kebanyakan orang nggak memerhatikan. Tapi sebenernya mereka menarik dan kadang-kadang penting. Dari situ kita bisa nemuin kebahagiaan dari hal-hal sederhana, yang bakal bikin kita bahagia terus kayak disinari Matahari-nya Kak Dea :)

Aku selalu kagum sama caranya Kak Dea ngelihat hal-hal kecil di sekitar kita, dan membuatnya jadi cerita lucu yang ajaib dan ngejleb banget. Kayak nggak ada batasan yang mengharuskan tulisan harus begini dan begitu. Di buku Dunia Adin juga, dia nulis dari sudut pandang anak umur 6 tahun. Kalo aku? Nggak jelas(?) Kalau aku merhatiin sekeliling, yang aku bisa liat cuma lukisan, kipas angin, sofa, meja bertaplak kotak-kotak. Apa yang mereka lakukan? Oke, mikir dulu. Imaaaajinasi *ngikutin gayanya Spongebob* Tiba-tiba Ibu teriak: "Dini, udah ngerjain PR belom? Jangan bengong lama-lama!"

Membaca Salamatahari kayak memberi jawaban buat pertanyaanku yang sok-sok galau itu: "Hidup itu buat apa sih?" "Untuk memaknai hal-hal kecil yang menyenangkan, yang bakal menuntun kita meraih hal-hal besar!"

Dan aku ngebayangin, pasti seru banget punya temen kayak Kak Dea. Mungkin dia akan berseru girang ngeliat sesuatu yang menarik. Meskipun sesuatu itu udah biasa kita lihat sehari-hari, mungkin jadi ajaib di mata Kak Dea. Kontras banget sama aku yang ngebosenin.

Kutipan-kutipan yang aku suka banget dari Salamatahari 1 & 2:

Jadi begini, teman-teman, pada suatu hari, ada cabe yang nggantung di pohon berdoa ke Tuhan, "Tuhan, sebelum diulek, boleh, nggak, aku tau rasanya terbang?" Tuhan terus mbuka laci-Nya, nyari persediaan sayap. "Cabe, aku masih punya sayap capung. Sebelum capungnya aku buat, kamu mau pinjem sayapnya?"

Balon-balon sabun itu keliatannya nggak perlu alesan untuk bahagia dan tetep idup. Justru sebaliknya, ketidakbahagiaan dan kematian yang perlu cari-cari alesan untuk menguasai mereka... =D

Gundul dan Dea cepet akrab. Dia patung yang pendiem, tapi menyenangkan. Kita adu liat-liatan dan Dea kalah, soalnya dia lebih kuat nggak ngedip. Tapi pas adu lama-lamaan duduk, dia langsung kalah, soalnya dia nggak punya pantat.

Hal terbaik kadang nggak kelihatan waktu sengaja dikejar. Dia dateng sendiri waktu kita nggak ngeharep apa-apa.

Kehilangan energi positif membuat apapun terasa terlalu berat untuk ditopang.

Mencuri kalimatnya Kak Dea,

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah :)

Kak Dea, aku, Ilma. Ketemu di Museum Gajah :)


Dunia Adin ditandatanganin Ka Dea :D

5.13.2012

Film lama paling keren: Dead Poets Society

Kehadiran HBO di rumah gue bener-bener suatu mukjizat. *orang gapernah punya TV* Kenapa? Karena gue suka nonton film dan channel TV semacam HBO nayanginnya film melulu. Jadi deh tuh movie marathon berjam-jam. Apalagi kalo hari libur. APALAGI kalo lagi libur panjang. Gak perlu ngeborong DVD bajakan ke Glodok lagi lah~

Jadi waktu itu aku nonton film Dead Poets Society. Pertama-tama di HBO tapi baru nyadar ternyata punya bajakannya juga yah... #GlodokNeverDies

No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world.


We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for. To quote from Whitman, "O me! O life!... of the questions of these recurring; of the endless trains of the faithless... of cities filled with the foolish; what good amid these, O me, O life?" Answer. That you are here - that life exists, and identity; that the powerful play goes on and you may contribute a verse. That the powerful play goes on and you may contribute a verse. What will your verse be?  -both from John Keating, Dead Poets Society

Satu kata tentang film itu: KEREN. Dua kata tentang film itu: KEREN BANGET.

Ada guru bahasa Inggris yang baru mengajar di Hellton Welton, dengan metode mengajar yang menarik banget. Namanya Mr. Keating. Orangnya suka bercanda dan nggak kaku banget. Misalnya, pada hari kedua mereka belajar, dia nyuruh anak-anaknya untuk merobek halaman Kata Pengantar. Iya, kayaknya diseluruh buku pelajaran bagian itulah yang paling nyampah. Aku yang lagi nonton langsung gigitin kuku. COBA ADA GURU KAYAK GITU DI SEKOLAH GUEEE

Todd Anderson dkk ngecek yearbook-nya Keating. Dia dulu anggota Dead Poets Society, organisasi rahasia dimana mereka semua duduk bareng-bareng dan membaca puisi. Akhirnya merekalah yang ngehidupin lagi perkumpulan itu.

Tapi konflik muncul ketika Neil main teater tanpa sepengetahuan bapaknya yang pengen dia jadi dokter. Knox galau abis-abisan gara-gara cewek yang dia taksir udah tunangan sama cowok lain. Todd nggak bisa bikin puisi. Charlie terancam dikeluarin dari sekolah karena organisasi mereka dikhianati. Tapi Dead Poets Society emang solid banget, saling mendukung meski ada masalah apapun. Terharu banget gasih nonton film ini.

Akibat nonton film itu... gue jadi males sekolah.

Iyalah! Di sekolah gue gurunya ada yang baek ada yang nggak *ohok* tapi ngga ada yang sebijaksana Keating. Dia tuh... gimana ya? Udah tau ngajar di Welton nggak enak karena sekolahnya ketat banget. Tapi dia tetep ngajar disana. Neil Perry (anggotanya DPS juga) pernah nanya ke dia, kenapa dia pengen ngajar di sini? "Because I love teaching."

Banyak puisi-puisi bagus yang dikutip di sini, kayak karangannya Walt Whitman, Robert Frost, dan Alfred Tennyson. Yang pasti puisi mereka menggetarkan hati banget. mentang-mentang filmnya tentang puisi bahasanya jadi ribet

Film ini udah dari tahun 1989 tapi kita tetep bisa relate sama keadaan yang sekarang. Sama aja sih, kayak masalah percintaannya Knox, terus anak-anak yang sembunyi-sembunyi ngerokok waktu perkumpulan *OHOK*. Perbedaan yang paling keliatan sih ada di gaya fashion, pita rambut yang dipake jadi bando, rambut bob, mantel bulu, dan kardigan sesiku (atau apaan deh kelihatannya sih kayak gitu). Dan sekolahannya! Keren banget pemandangannya. Danau yang jadi tempat nongkrong burung-burung, terus kalo pagi burung-burungnya pada migrasi. Terus ada hutan dan gua Indian yang jadi tempat pertemuannya DPS. Sayang sekolahnya nggak setua Hogwarts. Nggak ada dinding batu atau tangga yang bisa gerak *plak*.

Tokoh favorit di film ini, MR. KEATING. Pasti. Karena dia bijaksana banget. Kalo di Harry Potter, dia itu jadi Remus Lupin. Bener-bener menginspirasi  anak-anaknya untuk berpikir bebas, nggak kaku, nggak terikat pada buku cetak. Untuk menjelajah dunia, dan supaya kita terus melihat dunia dalam sudut pandang yang nggak biasa. Carpe diem! Guru yang hebat banget lah. Speechless.

Robin Williams, as usual. Selalu memerankan tokoh-tokoh yang nggak biasa. You've done it again!


John Keating / Robin Williams, dicomot dari Tumblr.

Tokoh favorit kedua... Charlie Dalton. A.k.a Nuwanda. Nggak tau dari dulu karakter film yang gue sukain itu yang badass tapi protagonis. Lagaknya sotoy gitu sih, tapi keren HAHA. Diantara anak-anak DPS, dia yang paling berani bertindak duluan, nekat, berandalan, dan ngomongnya sarkastis banget. Emang sih ceweknya banyak tapi bodoamat lah. Tipe karakter kayak gitu paling disukain kayaknya dimana-mana.

Dan Gale Hansen itu gantengnya dewa. Tapi dulu dia main film itu pas umur belasan akhir kali ya. Filmnya rilis tahun 1989. Masa iya gue doyan sama om-om. FML.

Kumpulan GIF Charlie Dalton / Gale Hanson colongan dari Tumblr.


Film ini sukses bikin gue ketawa dan nangis penuh emosi *ceelah bahasanya*. Awardsnya banyak loh. Menang 14 dari 17! Dapet Oscar juga.

Nonton ya? Ya? Ya? Kalau udah nonton, menurut kalian film ini kayak gimana?

5.11.2012

Ripiu: Beastly, Alex Flinn.

"Surface beauty: blond hair, blue eyes, is always easy to recognize. But if someone is braver, stronger, smarter, that's harder to see." -Kendra Hilferty (Beastly by Alex Flinn)

Beastly by Alex Flinn.


Beastly itu salah satu dari berjuta-juta remake-nya cerita Beauty and the Beast. Ceritanya klasik banget. Kyle Kingsbury, anaknya news anchor kaya yang terkenal di New York. Karena hidupnya yang sempurna: tajir, ganteng, populer, dan berpengaruh, dia jadi sombong. Sikapnya bikin Kendra, penyihir remaja yang ceritanya masih 'magang', menyihir Kyle jadi ... beast. bahasa Indonesianya apaan sih-.-

Kyle bisa terbebas dari kutukan itu kalau dia ketemu cewek yang mau mencintai dia apa adanya. Susah juga kan, seumur hidup dia dideketin cewek cuma karena tampak luarnya. Bapaknya sendiri frustrasi garagara anaknya berubah jadi jelek, Kyle diasingkan ke rumah mewah ayahnya di Brooklyn. Bersama pelayan yang patuh dan tutor butanya, Kyle belajar untuk menghargai suatu hal nggak cuma dari harganya, dan mengenal orang nggak cuma dari penampilannya.

Tapi cewek yang bisa membebaskannya dari kutukan ini... hanya dia...

Secara deskripsi, ceritanya bagus dan Alex bener-bener bisa mengadaptasi cerita Beauty and the Beast ke setting modern. Bukunya bagus, tapi nggak recommended banget buat yang mencari cerita yang 'baru'.Yang aku suka banget itu pesan moralnya. Untuk melihat sesuatu nggak cuma dari penampilan dan harga. Bersikap baik dan menghargai semua orang. Itu bagus banget.

Aku juga suka sama tokoh Lindy. Dia punya hidup yang berantakan tapi nggak menyurutkan semangat dia untuk menuntut ilmu. Dia menjadikan buku-buku itu pelarian, karena dia yakin dia bisa hidup bebas, suatu saat nanti. Bisa aja dia masuk universitas lewat jalur beasiswa karena rajin belajar. Apalagi kalo lagi belajar bareng, Kyle keliatan banget kalah dari Lindy.

Selama Kyle lagi di pengasingan, satu-satunya hal yang bikin dia nggak bosen adalah berkebun dan buku-buku. Dia jarang banget baca buku sebelumnya. Salah satu buku yang dia baca, Hunchback of the Notre Dame. Ada filmnya juga kan, si Quasimodo yang tinggal di balik jam terus ada gipsi namanya Esmeralda. Dia baca buku itu karena situasi mereka agak mirip. Terisolasi dari dunia luar, nggak ada yang menginginkan mereka. Pesannya yang secara nggak langsung adalah, membaca. Read. Iqro. Karena melalui buku, kita bisa melakukan pelarian. Bebas. Atau kita bisa mengetahui orang atau tokoh cerita yang keadaannya sama kayak kita. Bikin kita ngerasa nggak sendirian.


Tapiii berhubung ini cerita Beauty and the Beast. Gatau kenapa sih tapi aku nggak terlalu suka cerita dengan ending 'happily ever after'. Itu tuh kayak habis selesai baca buku dan yang muncul di kepala lo adalah 'Cuma gitu doang?'

Jalan ceritanya juga udah ketebak banget. Serasa pulang ke rumah. Kenapa? Karena jalannya udah hafal. #PerumpamaanGagal

Tapi kenapa di mata Kyle Harry Potter kayaknya jelek banget -__- karena cerita ini pake POV Kyle, otomatis dia bisa ngeluarin isi pikirannya secara blak-blakan. Dress-nya Kendra waktu ke prom dideskripsikan sebagai dress yang bakal dipakai dalam film Harry Potter Goes to Prom. Mr. Anderson, orang yang ngebikin chatroom khusus buat forum diskusi makhluk-makhluk aneh disebut dengan "orang yang suka bikin Harry Potter fanfiction." Beneran deh. Apa sih yang salah sama nulis fanfiction Harry Potter?  *mojok dengan galau* 


Beastly the movie. Vanessa Hudgens, Alex Pettyfer.


Dan filmnya. Yaampun, filmnya. Pertama, beast yang dimaksud di bukunya itu kayak binatang nggak jelas yang berbulu dan jelek kayak Chewbacca-nya Star Wars, bukannya makhluk ganteng dengan tato dimana-mana. Terus, Vanessa Hudgens terlalu cantik buat jadi Lindy. Di bukunya Lindy itu cewek dengan gigi yang maju dan penampilannya nggak menarik. Penampilan mereka kayak perbandingan ikan bakar kecap sama durinyaaa

Tuhkan jadi pengen ikan bakar kecap aduh laper gawat nih

I'm done with my rants, though.

But Beastly is still a good book!