6.28.2013

[review] bumi manusia - pramoedya ananta toer

“Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini".” 
(gatau quotesnya ngingetin aku sama A Series of Unfortunate Events gitu jadinya)

quotesnya aja udah mengundang banget yakan

Sejak hari pertama liburan sekolah, Bapak udah girang banget. "Ayo Dini, kamu harus baca buku-buku Pram, itu keren banget lho. Wah, gimana kalo sebelum masuk SMA kamu udah nyelesain Tetralogi Pulau Buru."

yay books selfie
Terus aku pura-pura ga mau gitu soalnya gengsi HAHA-_- tapi akhirnya aku baca juga daripada kalah sebelum berperang yakan.

Aku baca (tentu sebelumnya aku foto dulu sama bukunya hehehe), terus aku selesai baca. Jrenggg.

Ceritanya berlatar belakang di Indonesia jaman penjajahan Belanda. Si Minke ini, seorang siswa HBS (SMA) pribumi yang misterius banget. Minke bukan nama pribumi, terus ga diceritakan asal-usul dia bisa ngekos dan sekolah dan dianggap nyaris setara sama para Belanda di HBS itu, tentu dia bukan anak sembarangan. Dia juga sangat berpendidikan dan berpikiran luas.

Hidupnya baik-baik aja, sampai temen Belandanya, Robert Suurhof, ngajak dia ke Wonokromo untuk main sama temennya. Sekalian menantang Minke untuk menaklukkan cewek Indo yang cantik, Annelies Mellema, adiknya temen Robert.

yang namanya juga robert. tapi robert mellema. ribet deh. jangan sampe monolog gajelas ini menghalangi kalian dari baca buku ini.

Bagaikan cerita cinta jijay lainnya twilight ohok twilight, Minke dan Annelies pun jatuh cinta. Tapi ga sesederhana itu. Perlahan-lahan Minke menyingkap misteri Nyai Ontosoroh, ibunya Annelies, yang lebih misterius lagi. Katanya dia cuma gundik pribumi yang nggak sekolah, tapi kenapa dia sangat sopan dan terpelajar? Sikapnya sangat Eropa. Justru dia yang memimpin perusahaan majikannya, hal yang gak biasa banget buat wanita pada zaman itu, apalagi wanita pribumi, lebih lagi wanita pribumi yang cuma gundik.

Minke jadi dilema, apakah dia mesti mengikuti anggapan masyarakat yang memandang rendah gundik, atau ikut kata hatinya?

Kejadian demi kejadian pun dilaluinya dan ia kehilangan respek kepada orang Eropa. Katanya mereka berpendidikan dan bijak, jauh melebihi orang Jawa yang ndeso ini, kenapa mereka malah menindas kita dan membiarkan kita hidup dalam ketidakadilan?

Pendapatku, buku ini beda banget sama buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya. Jalan ceritanya ga ketebak banget, sementara bukannya teriak teriak sama bukunya MAU DIBAWA KEMANA HUBUNGAN KITAAA aku malah nurut aja dan baca dengan anteng. Sama sekali ngga kayak genre young adult yang biasa kubaca. Aku ga bisa menilai jalan ceritanya kayak gimana, tapi menurutku itu cukup bagus dan aku suka banget.

Tokoh favoritku Nyai Ontosoroh. Dari kecil hidupnya udah keras banget, dijual sama ayahnnya demi mendapatkan jabatan dan akhirnya dia bisa mempertahankan perusahaan majikannya yang nyaris hancur. Belum lagi menghadapi fitnah dari masyarakat tentang dirinya dan orang-orang yang ngeremehin dia. Kuat, tapi sayangnya penuh dendam. Seumur hidupnya, yang dia tahu hanyalah bertahan dan melawan. Have you ever love a fictional character so much you want to cry




Annelies digambarkan cantik banget, memiliki kecantikan surgawi atau gimana gitu deh pokoknya. Dia juga pinter membantu ibunya mengatur perusahaan. Tapi kebalikan dari ibunya, dia kekanak-kanakan, manja, dan rapuh banget. Hampir mirip Bella Swan. Entah kenapa kok aku sebel banget ya sama Annelies, kayaknya dia cuma digambarkan sebagai 'cantik doang'. Oke dia bisa ngatur perusahaan tapi sifat itu kayak cuma ditambah-tambahin supaya Annelies ga kelihatan lemah-lemah amat.

Mungkin itu memang cuma buat ngebantu plot cerita? Karena Annelies terbayang-bayangi ibunya dari kecil, jadinya dia kayak gitu. Mungkin biar seimbang kali ya kayak yin yang gitu, ada yang kuat dan ada yang lemah. Tapi tetep aja aku sebel-_-

Kisah cinta Annelies dan Minke itu juga kayaknya ya cinta doang. Mereka gak pernah mendiskusikan sesuatu hal yang menarik, apa kek pokoknya. Untuk beberapa orang, itu justru bagus. Cinta Minke dan Annelies itu cinta manusia yang sangat sederhana dan apa adanya. Tapi kok aku justru kurang suka, ya.

Aku juga suka gimana Mas Pram menonjolkan kekurangan dan kelebihan dari kedua pihak. Sisi Jawa memang budayanya kaya, tapi feodalismenya nggak nahan banget. Sisi Barat itu bagaikan gudang ilmu pengetahuan, jauh lebih bebas dan berpikiran luas, juga sangat 'modern'--kata yang pada masa itu sering diusung-usung para orang barat. Tapi ya mereka menjajah kita seenaknya, ga perlu kusebutin lebih jauh lagi kan. Kalo dilihat lagi, jaman dulu itu sisi Indonesia bersifat kedaerahan banget. Jangankan bersatu se-Indonesia, suku Jawa aja masih berkasta-kasta gitu ribet bersatunya.

(edit: sekarang aku lagi baca buku ke2nya, Anak Semua Bangsa, dan di buku ini Minke pun belajar melihat Jawa dengan pandangan yang lebih luas lagi, nggak menutup mata dan mulai berusaha ngebantu mereka. Ripiunya ditunggu yahh hehehehe xD)

Dan ngaku aja kan, kita semua penasaran sama buku ini karena pernah dilarang. Orang yang bikin buku bagus terus dilarang itu keren banget, kayak intellectual badass gitu. Dan setelah aku baca, kayaknya nggak ada unsur komunis gitu di dalam bukunya. Kata Bapak, mungkin karena Om Pram-nya udah dituduh sebagai PKI, ga peduli apa isinya ya dilarang aja.

Mungkin juga buku ini dilarang karena sikap Minke yang terkesan anti Jawa, lebih seneng sama ilmu pengetahuan dan kebebasan gaya Barat, membuat bukunya dicap nggak nasionalis. Aku jadi ikutan sedih sebagai pencinta buku karena buku sebagus ini pernah dilarang. Lebih ke kecewa sih. Terus jadi marah. Kenapa sih buku doang dilarang, padahal kan cuma buku. Kata Bapak lagi, tulisan punya kekuatan untuk menggerakkan orang lain, takutnya nanti orang-orang pada berontak. Yah, paling nggak orang dulu nggak meremehkan kekuatan pikiran. mhehehe =))

Jangan menilai buku dari sampulnya, kata pepatah jaman baheula. Nyai Ontosoroh, meskipun cuma gundik yang gak sekolah, dia sopan, baik, terpelajar, dan punya semangat juang. Om Pram, meskipun dicap sebagai PKI (belum tentu juga dia terlibat di G30S), bukunya keren banget. Kandidat Nobel Sastra booo. Dan buku ini, meskipun sampulnya polos banget dalemnya bagus.

Semoga bermanfaat ^^
awwwwwwwww

*menggelinding keluar*

6.24.2013

cinta dalam kardus [review]

Uyeee aku udah nonton CDK xD hari pertama pula. Salut banget sama bang Radit yang bisa ngerjain 2 film yang keluarnya hampir barengan, barengan juga sama film-film kaya Man of Steel sama Star Trek aku belom nonton star trek hiks ga bisa liat benedict :( sedih

/sesi curhat end/



Kembali ke CDK. Aku nonton sama Vicky dan Celia, sebagai anak kebelet gaul yang kurang kerjaan tentu saja kita nyampe ke PH pagi-pagi pas belum ada orang. Jam setengah 11. Baru buka jam 12.

Film ini mengungkit tema yang udah usang banget saking seringnya kepake di film Indonesia: cinta ababil! Aku agak-agak sinis (sinis apa kelamaan jomblo HA) gitu menghadapi film ini. Paling-paling jadinya kayak Radio Galau FM atau Poconggg gitu kan yang menggalaukan gajelas gitu. Tapi ngeliat trailernya dan castnya (penulis dan sutradara Salman Aristo, ada Lukman Sardi pulaaa), mata hatiku agak terbuka. Ternyata tema cinta-cintaan itu dikemas dengan rapi, kertas kadonya cakep, plus pita dan mawar. Keren!

Ceritanya si Miko pengen mencoba stand up comedy untuk yang pertama kali. Padahal tau sendiri kan Miko itu kaya gimana buat yang udah nonton Malam Minggu Miko (ada gitu yang belum nonton? terlalu._.). Dia ngebawa kardus berisi barang peninggalan dari 21 orang mantan gebetannya, yang awalnya pengen dibuang. Tapi karena pasangan ababil Chacha dan Kipli, juga pengunjung lain yang ngeledekin Miko terus ("paling si Miko juga gak pernah digodain tante-tante di busway kan?" "PERNAH KOK!"), akhirnya kardus itu jadi bahan stand up.

Sepanjang film itu ya si Miko-nya stand up terus. Kasian kali ya dia udah ngomong melulu ga duduk-duduk lagi. Tapi aku ga ngerasa bosen. Karena jokesnya emang lucu-lucu, dan ada flashback ke masa-masa PDKT sama ke21 orang itu dan masing-masing punya cerita kegagalan yang unik. Kayaknya baru pertama kali aku nonton film yang terdiri dari stand up comedy dan flashback dengan timeline yang sangat pendek pula (Inception juga timeline nya pendek sih) (err itumah beda yak).


Aku juga suka kardus-kardus yang menjadi setting flashback itu, kreatif banget dan pasti bikinnya susah. Mirip kayak video klipnya Vidi Aldiano (yang ada Raditya Dikanya jugaaa :D) sama Walk Off The Earth. Mungkin ini baru pernah dipake di film, aku ga tahu, yang penting kardus-kardusnya lucu.

sweater kucing!!!! WHO GAVE YOU THE RIGHT

Scene paling romantis :')


Anizabella Lesmana :) cantik yah

Cewek yang paling aku suka adalah Putri, yang jadi pacarnya Miko pada saat itu. Dia itu keren, kayak tipe yang artsy gitu, jago gambar, kayaknya yang paling baik ("aku sayang sama kamu put!" "aku lebih sayang sama kamu." AWWW), dan wardrobenya keren banget uuuuu bajunya luculucu semua!! *robek layar bioskop* *kabur*

Penampilan Rian dan Mas Anca lumayan mengobati kangenku sama M3, apalagi scene terakhir yang pas Rian bawa kucing lucu bangetttt. Kocak seperti biasa, tapi Mas Ancanya OOC banget sumpah. Tapi menurutku terlalu sedikit, padahal aku pengen liat Rian dan Mas Anca lagi.

TERUS ADA ENDAH N RHESA JUGA ALDFKSLFJKSLFJ pengen teriak we want more di teaternya tapi takut digebukin gitu

Yang aku ga suka, mantan-mantannya Miko karakternya agak satu dimensi. Kayaknya cewek-cewek itu banyak maunya dan menindas melulu kerjaannya. Iya Miko-nya seringkali salah, tapi sepertinya kesalahan Miko itu antara manusiawi dan bego. Atau mungkin sifat karakter mantan gebetannya Miko itu memang sengaja buat lucu-lucuan. Nggak jauh-jauh sama materi komedinya Radit yang berkali-kali membahas cewek, kayak logika cewek yang minta diturunin tapi giliran diturunin beneran malah marah.

Overall, I had a good laugh throughout the film. Miko pun menyadari arti cinta dan apa yang harus dia lakukan buat memperbaiki hubungannya dengan Putri. Aku juga mewek pas sebelum terakhirnya ituuu nyesek banget :''''( meskipun akhirnya agak terlalu cepet dan happy ending banget menurutku. Aku agak mengharapkan plot twist Miko sama Rian akhirnya jadi gay terus jadi koboi berpetualang ke Amerika gitu

.... salah film deh. dan kalo ada film kaya gitu di Indonesia pasti udah didemo duluan mhuahaha

Kesimpulannya: aku tetep fansnya bang radit u,u Kalo Abang baca ini sekarang, ketahuilah kalo aku langsung lari ke TV kalau ada iklan Mi Sedap Cup. Kambing Jantan itu buku pertama yang bisa bikin aku ketawa histeris sampe gaada setan yang mau ngerasukin =))) sukses terus dan ditunggu karya selanjutnya!

ailopyu bang tapi aku gak mau malam minggu miko s2 kalo gaada Rian... 

Sekian ^^ aku mau menikmati libur panjang yang sisa sebulan lagi, masih belum kenyang libur sebulan setengah sih yaa mau gimana lagi~

*dikeroyok massa*

(Sumber gambar: mbah google)
postingan pindahan dari sini