7.04.2012

Catching Fire: Pandora's Review :D

Aku nggak bisa berhenti baca Catching Fire. Kadang-kadang susah untuk menyelipkan pembatas buku ke halaman terakhir dan berpaling terus bilang sama diri sendiri UDAHAN DINI UDAHAN BESOK LANJUTIN. Kayak nggak ada hari esok aja. Wkwk.

“We had to save you because you're the mockingjay, Katniss. While you live, the revolution lives.”

Ceritanya mengambil setting beberapa bulan pasca Hunger Games. Sebagai victor, mereka dapat rumah bagus dan uang yang banyak, di tengah-tengah kemiskinan Distrik 12. Persahabatannya sama Gale nggak pernah sama lagi sejak Peeta menyatakan cintanya buat Katniss di depan seluruh penduduk Panem. Capitol seakan berusaha membuat The Hunger Games tetep segar di ingatan Katniss, dengan adanya Victory Tour.

Untuk pertama kalinya, ada dua pemenang di The Hunger Games, Katniss dan Peeta. Mungkin mereka dulunya sempet main figuran di Putri Yang Ditukar atau nggak tahu, tapi akting mereka sebagai pasangan yang jatuh cinta itu bener-bener meyakinkan penduduk Panem, kecuali President Snow. Seneca Crane si gamemaker yang lama dibunuh, dan dia mengancam bakal melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang mereka sayang, kalau Katniss dan Peeta nggak bisa meyakinkan penduduk Panem di Victory Tour. 

Tapi, distrik-distrik yang capek dijajah Capitol sejak lama melihat Katniss sebagai peluang melakukan aksi pemberontakan. Kira-kira bisa nggak Katniss menyelamatkan pemberontakan sekaligus orang-orang yang dia cintai?


Kenapa garis-garis lingkaran itu bentuknya kayak jam? Baca sendiri. Hehehe.

Fanmade poster. Nemu di google. Not mine.


sorry for the shitty description.

Sebenernya bukan cuma itu doang sinopsis dari gue tapi nanti spoiler parah huahaha

Dan endingnya ngegantung banget. I need Mockingjay nooooow sdjfhakldfhalh.

Setelah ngebaca buku ini, menurutku ini lebih seru daripada buku pertamanya. The Hunger Games itu baru pemanasan kalo dibandingin dengan Catching Fire (belom aja Mockingjay dan aku udah tau spoilernya duluan huahaha). Suzanne Collins sekali lagi berhasil menghadirkan berbagai macam penderitaan dan rasa sakit yang nyata banget. Menyiksa karakternya, atau bikin death scene yang ngga terlupakan banget (Rue's death scene). Kadang-kadang kupikir dia sebenernya psikopat terselubung. Ga segitunya juga sih.

Atmosfernya juga beda banget. Kalo di buku pertama itu kayak "Katniss harus menang! Go Katniss go Katniss go!!" atau menyelamatkan diri di hutan. Yah oke di buku ini ada bagian yang kayak gitu. Tapi selebihnya kalau kamu baca buku ini, hal pertama yang bakal kamu rasain adalah ketakutan. Katniss udah terang-terangan diancam Snow kayak gitu. Takut kalo keluarga Katniss akan dibunuh, takut kalo Peeta akan dibunuh, takut distrik 12 akan dimusnahkan. Takut semua orang harus menerima akibat dari percikan api pemberontakan yang diciptakan Katniss. Dan ada semangat pemberontakan juga. Kayak perasaan deg-degan kalo lo mau madol. Rules are meant to be broken. Kadang-kadang ada perasaan menyenangkan kalau kita berhasil melanggar aturan terus ngga ketangkep.

Baca buku ini bikin aku tambah bersyukur sama diri sendiri. Aku mungkin nggak sekaya Katniss dan Peeta, yang baru menang Games dan dikasih harta berlimpah, tapi juga nggak semiskin penduduk Distrik 12 dan 11. Meskipun Katniss udah kaya, dia masih suka berbagi bahan makanan dan uang sama tetangganya, dan tetep bersikap down to earth sama orang-orang yang kenal sama dia. Itu yang menurutku keren banget, maksudku dia nggak cuma tough secara fisik aja, tapi juga ramah, meskipun nggak Mary Sue-Mary Sue amat.

Ceritanya juga mirip kayak Harry Potter and the Order Of Phoenix. Cuma kalo di OOTP pemberontakannya terhadap Kementerian. Keliatannya juga pemberontakan Harry Potter 'ceria' banget, kalo di CF boro-boro sempet main kembang api. Aku juga baca OOTP bahagia banget, pas nonton filmnya juga musiknya ceria. Gaada mencekam-mencekamnya sama sekali. kecuali pas Sirius mati itu nangis darah banget.

Filmnya keluar tahun 2013. Tapi fandomnya The Hunger Games itu emang paling rewel soal milih casts. Finnick Odair, tribute dari district 4 yang gantengnya sangat nggak mungkin. Masih gosip, tapi katanya Robert Pattinson, Grant Gustin, atau Zac Efron diseleksi untuk memerankan si Finnick. Menurutku Robert sama Grant ga cocok, soalnya kulitnya Finnick cokelat. Zac Efron bisa sih, cuma ga kebayang aja. Tapi ujung-ujungnya jatoh ke akting juga. Aku ga punya bayangan sama sekali siapa yang cocok jadi Finnick.

Sementara yang jadi Johanna Mason? Tribute dari district 7 ini menang dengan pura-pura lemah. Padahal dia badass banget. Dan nekat juga. Menurutku yang paling cocok jadi Johanna itu Naya Rivera. Dia pernah bilang pengen jadi Johanna Mason. Johanna mirip banget sama Santana di Glee dengan sarkasmenya, kayak gitulah aku ngebayanginnya. Ada juga yang bilang Mia Wasikowska ikutan audisi juga. Tapi akhirnya Jena Malone juga yang dipilih. Katanya dia main Sucker Punch tapi aku gatau filmnya yang mana. Banyak yang gasuka sama Jena Malone jadi Johanna, tapi liat aja Jennifer Lawrence. Pertama dia jadi Katniss banyak orang yang bilang aktingnya dia ga bagus tapi begitu filmnya keluar, orang-orang langsung ngefans sama dia.

Dan sisanya aku juga ga punya bayangan sama sekali. Emang dasar ngga punya imajinasi sih. Kalo lagi baca buku, muka orang-orang yang belom dicast ini kebayang dalam bentuk kartun atau ngeblur nggak jelas. Sisanya diserahkan sama orang-orang Lionsgate aja deh. Awas ya om, fans THG gahar-gahar.

Beteweh, temenin gue nonton pacar gue di bioskop yuk~



ganyambung
gimana kalo Andrew aja yang jadi Finnick Odair
cewek macam apa gue ngebiarin pacarnya selingkuh sama Emma Stone
tapi emang muka gue aib sih dibandingin Emma Stone
it's not all about the looks, bro

2 komentar:

Laras Azmil A mengatakan...

tapiii kepinginnya yang meranin finnick warna matanya biruu

Dini mengatakan...

meleleh duluan aku ngebayanginnya~ hahaha