Pages

8.27.2011

gabisa tidur part 2 ... jangan-jangan kena insomnia.





Rasanya mengantuk banget. Pengen memejamkan mata, tapi nggak bisa. Sebagian dirimu memberontak, tapi apa yang bisa kau lakukan? Nggak mungkin hanya duduk di bawah cahaya menyilaukan lampu meja, menatap kosong buku catatanmu. Terbersit sedikit rasa menyesal karena menyerah pada Aspire One biru tadi pagi, tapi aku udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Di sini hening, tapi di kepalaku berisik. Masing-masing suara meneriakkan apa saja yang timbul di benakku saat itu juga. Penuh dengan orang-orang meneriakiku untuk melakukan sesuatu. Kenyataannya, hanya ada dua hal yang bisa kulakukan. Sikat gigi lalu shalat, lalu tidur (eh, itu tiga hal). Atau tetap terjaga, dan membiarkan pikiranku menghantui diriku sendiri.

Yang pasti, nggak ada yang tahu besok bakal jadi kayak gimana.

Intinya? Gabisa tidur. Hasilnya? Sahur dengan mata bengkak dan bangun jam setengah 11. They said, early bird gets everything.

PS: I bite a brownie before I sleep. I brought it to my bed--usually spreads crumbles all over, but who cares.

gabisa tidur.






I love talking about future. Tentang siapa diri kamu nantinya, kayak gimana kelanjutannya. Kayak merancang Cinta Fitri season selanjutnya. Beban yang lagi kamu alami sekarang rasanya lepas. Bisa berimajinasi sebebas mungkin. Rasanya kayak tahanan Azkaban baru bebas, menghirup aroma segar masa depan. Karena apa aja bisa terjadi di masa depan. Endless possibilities.

8.25.2011

What Harry Potter Taught Me

Lagi nyelem di Tumblr, dan ada tulisan yang abis di-reblog orang lain nemplok di dashboard. Dibaca. Dihayati. Mulai nangis. #lebbeh yaudah pokoknya baca aja ya :) [x]

1997 - 2011
Harry Potter taught me that some things are worth dying for.
Ron Weasley taught me that believing in yourself is a hundred times more powerful than luck.
Hermione Granger taught me that an education is a girl’s best asset, even if it doesn’t make you many friends.
Severus Snape taught me to never, ever, ever judge someone.
Rubeus Hagrid taught me that anything can be cute with the right perspective.
Ginny Weasley taught me that bold is beautiful.
Lily Potter taught me that a mother’s love is the strongest force on earth.
Remus Lupin taught me that fear is the only thing I should be afraid of.
Dolores Umbridge taught me that education with a political agenda is a terrible, terrible thing.
Sirius Black taught me that the ones we love never truly leave us.
Albus Dumbledore taught me that good people are not always good.
Draco Malfoy taught me that bad people are not always bad.
Neville Longbottom taught me that courage is standing up for what’s right, even when you’re scared out of your mind.
Luna Lovegood taught me that weird is wonderful.
Dobby taught me that freedom is a gift.
Lucius Malfoy taught me that no amount of money, pomp, or circumstance will buy you true friends.
Fred & George Weasley taught me that sometimes all you need is a good laugh.
The Dursleys taught me that a world without imagination is a dull and dreary place.
Arthur Weasley taught me that an good sense of curiosity and a bit of obsession can be healthy.
Fleur Delacour taught me that true love is not based on appearance.
Molly Weasley taught me that a happy family is not measured in gold.
Bellatrix Lestrange taught me that hatred and prejudice rot your mind and can turn even the most beautiful person into a monster.
Kreacher taught me that if you want to get to know a man, look at how he treats his inferiors, not his equals.
Cho Chang taught me that rebound relationships almost never work.
Nymphadora Tonks taught me to love myself, no matter what I look like.
Percy Weasley taught me that, in the end, no career is worth sacrificing your family.
Sybill Trelawney taught me that you cannot change the past, only the future.
Lavender Brown taught me that physical relationships only last for so long.
Peter Pettigrew taught me that rats do not make good friends.
Nicholas Flamel taught me that to the well-prepared mind, death is but the next great adventure.
Minerva McGonagall taught me that a good cause is worth fighting for at any age.
Hedwig taught me that the love we have for our pets is very real.
Lord Voldemort taught me that a life without love is barely living.
J. K. Rowling taught me that the stories we love will always be with us.
Until the very end.



Because all was well. All is well. All will always be well.
Eh. Jadi inget 3 idiots.
Sources: Tumblr.

8.22.2011

The Terrible Fall

The night was black, the owl did call,
I stood upon the silo tall,
Never suspecting I would fall...
Thanks to the boy who bumped me.


Though frightened, I had stayed alert, 
No thoughtless slumberings did divert me
from my task 'till I got hurt...  
Thanks to the boy who bumped me... 

A poem by Constance Contraire on The Mysterious Benedict Society #2: Perilous Journey. I like this poem.  Very. Freaking. Much. If only my school gave me these poems to study. Instead of the boring one. Oh, I hope Constance DOES exist.

8.17.2011

Alice has grown up ...

Kemaren aku nonton Alice in Wonderland lagi, mumpung wiken. Udah yang kesekian kalinya. Meskipun cuma DVD bajakan tapi tetep keren #eh. Udah lama sih filmnya, tapi masih pengen diripiu :D stay tune!

“Down with the bloody redhead!” –Mad Hatter

Siapa yang gak kenal si Alice yang nyasar melulu kayak Dora ini sih? Kisahnya yang legendaris diawali dari bukunya Lewis Carrol ini dibikin dua versi, Alice in Wonderland sama Alice Through the Looking Glass (udah baca yang Wonderland, tapi maaf bukunya rada ngebosenin, soalnya bertele-tele banget) ini kemudian diangkat ke dalam versi kartun, yang udah jadi trademark si Alice berambut pirang dan pinafore biru-putih. Ada juga film orangnya yang Alice Through the Looking Glass, cuma lupa itu yang mana.

Alice kartun


Kalau Alice yang ini dibikin sama Tim Burton (iya saya demen banget filmnya Tim Burton, bagus-bagus sih), ceritanya agak lain. Settingnya 13 tahun sesudah cerita klasiknya. Dia udah lupa sama kejadian di Wonderland itu, tapi masih sering bermimpi tentang itu. Alice jadi gampang teralihkan perhatiannya sejak kejadian itu. Dia juga masih percaya sama hal-hal mustahil yang ditemuinya di Wonderland, dan daya imajinasinya yang tinggi bikin dia dibilang anak aneh.

Di film ini ceritanya ibunya adalah bangsawan, yang menjodohkan dia sama anaknya teman bisnis almarhum bapaknya (hayoloh bingung XP). Tapi dia justru kabur dari acara tunangannya sendiri demi mengikuti White Rabbit yang muncul di pesta tunangannya. Masih inget kan White Rabbit yang juga ada di versi kartunnya Alice? Si Alice ini ngikutin si kelinci terus, sampai-sampai dia masuk ke lubang. Cara dia masuk ke Wonderland-nya juga sama dengan yang di buku, minum ramuan penyusut dan kue yang kayaknya kebanyakan baking powder.

Akhirnya Alice kembali ke tempat yang selama ini dia kira cuma ada di mimpinya. Dia ditakdirkan untuk membunuh Jabberwocky, naga milik Red Queen yang punya slogan “Off with his head!” ini. Tapi makhluk-makhluk Wonderland masih memperdebatkan apakah dia Alice yang asli atau nggak. Alice pun masih bingung sendiri itu mimpi atau nyata, kalau itu mimpi kok dicubit-cubit dia nggak bangun, kalaupun itu nyata it’s too weird to be true.

Dia ketemu lagi sama Mad Hatter, teman minum teh lamanya. Aku paling suka adegan minum teh, seru ehehe. Dan temen-temennya Hatter juga gila-gila kayak Mad Rabbit dan Dorm Mouse. Seru kali ya punya temen kayak Hatter.


Nonton ceritanya Alice jadi berkaca sama kehidupan sendiri. Jadi Alice itu nggak pernah melaksanakan kemauannya sendiri. Sejak lahir, dia udah dijodohkan sama Hamish, anak temen bisnis papanya, yang aneh dan punya masalah pencernaan. Biasanya kan bangsawan Inggris nggak bisa nolak kalau udah dijodohin, demi kehormatan keluarganya. Waktu dia masuk ke lubang Wonderland, semua orang punya memperdebatkan Alice itu yang sama atau nggak dengan yang mengunjungi Wonderland 13 tahun lalu. Sementara Alice bingung dan nggak tahu apa yang terjadi.

Semua orang mengharapkan Alice membunuh Jabberwocky, karena sudah ditakdirkan begitu. Alice-nya bingung dong, seumur hidup gak pernah motong ayam, apalagi membunuh naga. Semua orang menganggap diri mereka paling tahu jalan terbaik buat Alice, tanpa nanya orangnya sendiri. Di waktu dia mesti pergi ke istana White Queen, dia ngeyel demi menyelamatkan Mad Hatter. Ini mimpinya dia kok, kenapa orang lain jadi malah yang ngatur-ngatur?

Ujung-ujungnya Alice rela membunuh Jabberwocky karena teror Red Queen emang udah parah banget. Tapi itu murni karena kemauannya Alice sendiri. Bahkan White Queen pun bilang “Don’t live to please others.”

Menurutku boleh aja sih melakukan keinginan orang lain sekali-kali, tapi jangan lupakan diri sendiri.

Masih terharu dengan caranya Alice mengorbankan diri ke Red Queen demi menyelamatkan Mad Hatter. Setia kawan banget :”)

Satu lagi yang aku suka dari film ini, kostum dan pemainnya. 
di pesta tunangannya
 
begitu masuk Wonderland

kiri: waktu di istana Red Queen kanan: di tea party-nya Mad Hatter
terakhir ... waktu dia akhirnya meneruskan bisnis ayahnya keliling dunia

Di sepanjang cerita karena Alice membesar dan mengecil melulu, bajunya selalu ganti-ganti. Lucu-lucu banget. Jempol buat desainernya, Colleen Atwood. Coba kalo boleh dibawa pulang satu. Mauuu :3

Pemainnya juga keren-keren. Aku suka aktingnya Johnny Depp jadi Mad Hatter. He is completely mad!! Helena Bonham Carter juga keren. Setelah jadi teror kedua setelah Voldemort bagi umat-umat sihir, aktingnya sebagai ratu yang nyebelin banget, animal abuser, tapi tetep memberikan kesan kocak, sukses banget deh pokoknya.

Ciao. Puasanya yang lancar yah~